Wayang Orang Sriwedari Hadapi Tantangan Berat di Usia 109 Tahun

Seni & Budaya

Rabu, 17 Juli 2019 | 20:20 WIB

190717201801-wayan.png

wisatasolo.id

Ilustrasi.

KESENIAN tradisional "Wayang Wong" atau Wayang Orang (WO) Sriwedari Solo, menginjak usia 109 tahun pada 2019 ini menghadapi tantangan berat. Salah satu tantangan yang menjadi penyebab kesenian tradisional ditinggalkan pendukungnya adalah gempuran gelombang budaya pop yang merasuk ke semua generasi.

"Kesenian itu sifatnya universal, termasuk kesenian tradisional bisa dinikmati semua orang dari belahan dunia mana saja. Teater Kabuki di Jepang yang nilai-nilai tradisinya tetap dipertahankan, menjadikan kesenian tradisional tersebut sampai sekarang tetap hidup dan banyak penggemarnya," ujar Agus Prasetyo, Koordinator WO Sriwedari kepada wartawan di Balai Kota Solo, Rabu (17/7/2019).

Agus yang didampingi beberapa seniman pemain WO Sriwedari, menjelaskan, peringatan 109 tahun WO Sriwedari akan dijadikan momentum kebangkitan kejayaan kesenian tradisional tersebut. Dia mengakui, kondisi WO Sriwedari tidak akan bisa pulih kejayaannya seperti ketika seni pertunjukan wayang orang masih troubador atau selalu berpindah-pindah di tahun 1960-an.

"Di era 1960 wayang orang dari Jawa Timur yang berpindah-pindah ke Jawa Tengah dan bahkan sampai perbatasan Jawa Barat, sangat digemari dan jumlah penonton banyak. Tetapi sekarang ini masalah masa depan wayang orang terus menjadi perbincangan di antara para seniman wayang. Sebenarnya orang masih butuh wayang apa tidak," tutur Agus.

Meskipun kondisi WO Sriwedari belum sepenuhnya baik, menurut koordinator itu, jumlah penonton setiap pertunjukan sudah mulai meningkat termasuk para wisatawan di antaranya kebanyakan dari Jepang. Bahkan, proses regenerasi seniman WO Sriwedari mulai berjalan dengan tampilnya para pemain muda.

Dalam peringatan ulang tahun ke-109 WO Sriwedari, pada Sabtu 20 Juli 2019 mendatang akan digelar pentas gabungan dari berbagai kota, dengan lakon "Mahabharata Adibrata". Pementasan akbar dengan sutradara muda Billy Ardi tersebut, sejumlah pemain wayang orang kenamaan dari Jakarta, Jawa Timur dan sekitar Kota Solo akan memperkuat pertunjukan yang mayoritas kalangan seniman muda.

Sutradara muda Billy Ardi menjelaskan, lakon tersebut berkisah tentang ksatria Pandawa yang memiliki darma mulia. Keturunan raja Pandu Dewanata itu meniti jejak langkah darma dengan ketulusan dan keikhlasan.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA