17 Tahun Teater Senapati Pentaskan Drama Sunda Religi

"Kasidah Cinta Bilal Sang Muadzin" Kuras Air Mata Penonton

Seni & Budaya

Jumat, 17 Mei 2019 | 22:06 WIB

190517220809--kasi.jpg

Kiki Kurnia

KISAH sang muadzin dan kepercayaan Rasulullah, Bilal bin Rabbah diangkat dalam sebuah pementasan drama musikal di Gedung Kesenian Rumentangsiang, Jln. Baranangsiang Bandung, Jumat (17/5/2019). Adalah Teater Senapati SMA Pasundan 3 Bandung yang mengangkat kisah sang budak belian berjudul “Kasidah Cinta Bilal Sang Muadzin", karya Rosyid E. Abby.

Disutradari oleh penulis, cerita ini disajikan dalam teater berbahasa Sunda. Sekalipun berbahasa Sunda, kisah sang Bilal ini ternyata banyak menguras air mata para penonton.

Tak hanya itu, sutradara pun berharap cerita ini bisa meningkatkan keimanan para penonton dan para pemainnya. Terlebih pementasan ini dipentaskan pada bulan Ramadan, yang bisa disaksikan sambil ngabuburit

**
Cerita ini dimulai pada masa-masa Islam mulai diperkenalkan di Kota Mekah, Muhammad Saw harus menanggung beban dan rintangan yang sangat beratnya karena mendapat penolakan keras dari kaum Quraisy. Namun, tak sedikit pula yang akhirnya menjadi pengikut Rasulullah, mengikuti ajarannya, untuk beriman kepada Allah Swt. Salah seorang di antaranya Bilal bin Rabbah, budak dari Habasyah (Abyssinia, Ethiopia sekarang), putera Hamamah. Sedangkan majikannya, Umayyah bin Khalaf Al-Jamhi adalah saudagar Mekah yang sangat kaya, berpengaruh, dan ditakuti/disegani kaum Quraisy Mekah.

Tertarik ajaran Muhammad yang tak membeda-bedakan; majikan dan hamba, kaya dan miskin, berkulit putih dan berkulit hitam, orang Arab dan non-Arab, secara ikhlas Bilal sangat menaati ajaran baru itu. Bilal termasuk golongan orang yang pertama kali masuk Islam, selain Ammar bin Yassir, Yassir, Sumayyah, Shuhaib, dan Al-Miqdad.

Di mata majikannya, Umayyah bin Khalaf, Bilal itu hanya sekadar budak belian yang tak punya hak milik terhadap dirinya sendiri. Dia tak boleh masuk Islam, kecuali harus seizin majikannya. Namun Bilal punya keyakinan, Allahlah yang sesungguh-sungguhnya majikan; majikan bagi dirinya, majikan bagi Umayyah, bahkan majikan bagi semua umat manusia. Jadi, yang sesungguh-sungguhnya majikan itu tiada lagi kecuali Allah Swt.
Karena keimanannya itulah Bilal harus mengalami siksaan dari majikannya dan dari orang-orang kafir lainnya. Dia diikat dan ditelentangkan di padang pasir, di bawah teriknya matahari, sementara sebongkah batu besar menindih dadanya yang tipis. Dia pun dicambuk untuk tidak mengakui Allah sebagai tuhannya. Namun, dengan ketabahannya yang luar biasa, tak sekalipun mulut Bilal lepas dari kata-kata "Ahad! Ahad!". Baginya, kata Ahad itu memberikan kekuatan luar biasa dalam menjalani siksaan tersebut, juga serasa memberi semangat padanya untuk semakin mempertebal keimanannya terhadap Allah.

Karena keimanannya itu pulalah, akhirnya Abu Bakar ash Sidiq menebus/membeli dia dari majikannya itu. Bilal kemudian menjadi orang yang selalu dipercaya Rasulullah untuk selalu mendampingi ke mana pun beliau pergi. Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah pun, Bilal selalu ada di sampingnya, serta dipercaya jadi muadzin (juru adzan) karena suaranya sangat indah dalam melantunkan lafazh-lafazh adzan itu. Ketika Perang Badar berlangsung, Bilal pun ikut berjuang dengan pejuang-pejuang Islam lainnya dalam memerangi kaum musyrik.

Ketika Rasulullah wafat di usianya yang ke-63, serta kaum Muslimin belum sempat menguburkannya, Bilal berdiri untuk mengumandangkan adzan. Namun saat mengumandangkan lafazh "asyhadu anna Muhammadar Rosulullah, bibir Bilal terasa kelu dan tak bisa melanjutkan adzannya. Airmatanya tak bisa dibendung lagi, dia menangis penuh kepedihan. Ya, Bilal sangat kehilangan panutan yang sangat dicintainya itu. 
"Kasidah Cinta Bilal Sang Muadzin" adalah gambaran dan bukti cinta Bilal terhadap tuhannya, Allah Azza wa Jalla, dan Rasul-Nya, Muhammad Saw.

Sesungguhnya dalam riwayat-riwayat itu terdapat pengajaran (penuntun) bagi orang yang berakal. (Q.S. Yusuf [12] : 111)

**

Pentas drama Sunda religi ini digarap secara semi-kolosal, dengan didukung tak kurang dari 50 pemain. Konsep garapnya memadukan seni drama, nyanyian (seni musik), dan seni tari (gerak/koreo), dengan media dialognya menggunakan bahasa Sunda.

"Kasidah Cinta Bilal Sang Muadzin" merupakan daur ulang dari drama Sunda religi Sunda dengan judul yang sama di tahun 2007. Pentas ini merupakan rangkaian dari pentas episodial Drama Sunda Religi "Kasidah Cinta", yang dipergelarkan setiap tahun di bulan Ramadhan (sejak 2006) oleh kelompok Teater Senapati SMA Pasundan 3 Bandung. Kasidah Cinta Jilid I berjudul "Kasidah Cinta Jalma-jalma nu Iman" (2006), lalu disusul dengan Kasidah Cinta jilid-jilid selanjutnya, yakni "Kasidah Cinta Sang Muadzin" (2007), "Kasidah Cinta Sang Singa Allah" (2008, 2017), "Kasidah Cinta Sang Sahabat" (2009), "Kasidah Cinta Sang Abid" (2010), "Kasidah Cinta di Palagan Karbala" (2011), "Kasidah Cinta Al-Kubra" (2012, 2018), "Kasidah Cinta Al-Faruq" (2014), "Kasidah Cinta Shahabiyah" (2016), "Kasidah Cinta Hamzah Asadullah" (2017), dan sekarang ”Kasidan Cinta Bilal Sang Muadzin".

Jadi, dalam rentang 12 tahun sejak tahun 2006, Teater Senapati hanya abstain dua kali untuk mengisi pentas Ramadhan, yakni di tahun 2013 dan 2015, karena situasi dan kondisi yang tak memungkinkan.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA