Tarian "Jaranan" Kolosal akan Goyang Perayaan Hari Tari Dunia 2019 di Solo

Seni & Budaya

Kamis, 25 April 2019 | 19:16 WIB

190425191716-taria.jpg

Tok Suwarto

Suasana latihan tari "Jaranan" kolosal yang ditarikan 5.000 siswa SD dan SMP se-Kota Solo berlatih membentuk formasi.

TARIAN "Jaranan" yang diciptakan koreografer S Pamardi, dosen tari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, khusus untuk anak-anak, akan menggoyang Kota Solo dalam perayaan Hari Tari Dunia atau World Dance Day 2019, pada 29 April 2019 mendatang. Sebanyak 5000 orang siswa SD dan SMP lelaki dan perempuan se Kota Solo, akan menari "Jaranan" secara kolosal di Stadion Sriwedari sambil membentuk formasi "Solo Menari 2019" dan "Solo Kota Budaya".

Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Pemkot Solo, Kinkin Sultanul Hakim, mengungkapkan kepada wartawan, Kamis (25/4/2019), tari "Jaranan" yang diciptakan sebagai tarian tunggal dengan gaya lincah dan gagah, selama ini sudah diajarkan di sekolah sebagai ekstra kurikuler. Pementasan kolosal yang melibatkan ribuan anak di perayaan Hari Tari Dunia 2019, disebutnya sebagai puncak dari hasil latihan di sekolah.

"Para siswa akan sangat bangga, karena hasil latihan mereka menari di sekolah akan dipentaakan di even besar World Dance Day. Dalam pagelaran kolosal itu, tari Jaranan akan dirangkai dengan tari Kuda-kuda dan tembang dolanan bocah Jaranan dengan durasi waktu sekitar 45 menit," katanya. a

Pada hajadan World Dance Day 2018 lalu, Pemkot Solo juga menggelar tari tradisional secara massal yang seluruh penarinya siswa SD sampai SMA se Kota Solo, yaitu Tari Gambyong. Tari massal yang merupakan tari selamat datang untuk menyambut tamu tersebut, ditampilkan di sepanjang jalan protokol Slamet Riyadi untuk memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).

Menurut Kinkin, seluruh peserta tari massal "Jaranan" yang berjumlah 5.000 anak, telah beberapa kali berlatih bersama  di Stadion Sriwedari yang melibatkan tim pelatih khusus. Dia menjelaskan, sebelum para penari bergabung dalam latihan bersama, para siswa SD dan SMP yang berjumlah ribuan orang itu telah berlatih secara kelompok di rayon kecamatan selama sebulan lebih.

“Agenda Tari Jaranan untuk menyambut Hari Tari Dunia 2019 terdiri dari tiga bagian, yaitu Tari Kuda-kuda, Tari Jaranan dan Lagu Dolanan Jaranan. Berbeda dengan tari Gambyong masal yang lalu, dalam tari Jaranan kolosal disertai pembentukan formasi. Momentum ini akan berdampak pada predikat Solo sebagai kota budaya,” jelasnya.

Dalam latihan tersebut, beberapa kali para penari Jaranan membentuk formasi berupa Kepulauan Indonesia, tulisan Solo Kota Budaya dan Hari Tari Dunia 2019. Makna ketiga formasi tersebut, menurut Kinkin, merupakan apresiasi Pemkot Solo terhadap budaya Indonesia, kebanggaan terhadap Kota Solo dan makna perayaan Hari Tari Dunia.


Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR