Penari Tuna Netra akan Ikut Rayakan Hari Tari Dunia 2019

Seni & Budaya

Senin, 22 April 2019 | 21:27 WIB

190422210939-penar.jpg

Tok Suwarto

Penari Srihadi yang akan menari selama 24 jam bersama lima penari lain, termasuk seorang penari asal Bandung menunjukkan energi dan semangat gerak yang menghasilkan estetika dan keindahan karya tari

GARA-GARA menari, orang bisa apa saja. Seorang penari bisa hidup dari semangatnya dan bisa menghidupi kehidupan. Demikian dikatakan Dr. Eko Supriyanto yang akrab dipanggil Eko Pece, Ketua Umum World Dance Day (WDD) 2019, pada konferensi pers WDD di Solo, Senin (22/4/2019)

Penari dan koreografer yang sukses menggarap sendratari pembukaan Asian Games 2018 ini, mengungkapkan pepatah Jawa itu kepada wartawan, yang aslinya berbunyi #Gegara Menari "Urip Mawa Hurup, Urip Hanguripi". Dia menjelaskan pepatah yang menjadi tema pokok perayaan Hari Tari Dunia atau World Dance Day 2019, yang digelar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada 29 - 30 April 2019.

"Kami sekarang bisa menjadi seperti ini dan bisa menampilkan pertunjukan di Asian Games gara-gara menari. Maknanya, semangat menari itu bisa memberi hidup dan menghidupi," ujar Eko Pece, Senin.

Dalam perayaan Hari Tari Dunia di ISI Surakarta yang tahun 2019 ini menginjak yang ke-13 kali akan menampilkan 198 kelompok tari dari seluruh Indonesia dan peserta dari mancanegara yang melibatkan lebih dari 6000 penari. Sebanyak enam orang penari dari Jawa, Bali dan Kalimantan, termasuk seorang penari dari Bandung akan menari selama 24 jam nonstop, atau dikenal sebagai "24 Jam Menari".

Menurut Eku Pece, perayaan Hari Tari Dunia di ISI Surakarta, sekaligus untuk menunjukkan kesatuan dan keragaman persatuan seluruh daerah di Indonesia serta mancanegara.

Berbeda dengan perayaan sebelumnya, dalam Hari Tari Dunia 2019 ini, dosen tari ISI Surakarta, Jinet Sri Kuncoro, yang secara khusus menciptakan karya tari untuk penari penyandang disabilitas juga akan menampilkan karya yang sekaligus obyek penelitiannya. Sebanyak 40 anak penyandang tuna netra dari berbagai daerah yang dilatih Jonet akan mempertunjukkan tariannya.

"Jonet selama ini aktif melakukan penelitian terhadap penari penyandang disabilitas di wilayah Surakarta, seperti penyandang tuna wicara, tuna grahita, tuna daksa dan lain-lain, akan mementaskan karyanya. Sebanyak 40 anak penyandang tuna netra dari berbagai daerah yang sudah dilatih, akan dikumpulkan untuk latihan bersama. Menyatukan penari penyandang disabilitas itu tidak mudah dan mereka akan tampil di Hari Tari Dunia nanti," jelasnya.

Di antara enam penari yang akan tampil dalam "24 Jam Menari" dari ISI Surakarta, Dr. Srihadi, menyatakan, estetika dan keindahan tari bukan sebatas pada gerakannya tetapi juga pada energi yang muncul dari semangatnya. Itu yang menjadikan para penari bisa hidup dari menari, karena ada energi dan semangat yang hidul dan menghidupi.

"Energi dan semangat untuk menari itu yang hidup dan menghidupi," tandasnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR