Disbudpar Kota Bandung Gelar FGD Seni Reak

Seni & Budaya

Kamis, 18 April 2019 | 13:57 WIB

190418135824-disbu.jpg

Edi Kurnaedi

KESENIAN yang hidup dan berkembang di suatu daerah lahir melalui proses budaya yang panjang. Termasuk juga seni reak sudah ada sejak tahun 1940-an di Bandung.

Kesenian ini turun-temurun dari satu generasike generasi berikutnya. Keberadaannya tanpa disadari membawa pengaruh di masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Saat ini tercatat ada 50 grup yang tergabung dalam komunitas Balad Reak di kota Bandung. Sebaran yang paling banyak ada di seputaran wilayahkecamatan Cibiru dan Ujungberung.

Untuk melestarikan kesenian ini, Pemerintah kota (Pemkot) Bandung mengadakan Forum Grup Diskusi Seni Reak di Teras Sunda, Kamsi (18/4/2019).

Sebelumnya, Pemkot Bandung juga telah menggelar FGD Mapag Panganten dan Seni Benjang.

Menurut Kepala Bidang Kajian Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Tjep Dahyat,  kegiatan ini merupakan salah satu usaha untuk menyamakan persepsi bahwa kegiatan seni reak harus bisa menarik perhatian wisatawan.

"Grup reak yang tampil harus layak tonton, tampil, dan jual. Seni reak harus sudah bisa tampil minimal 1 Minggu 1 kali di Teras Sunda Cibiru," katanya.

Diskusi kali ini terdiri dari beberapa narasumber di antaranya, Bah Enjum sebagai praktisi, Bah Anto sebagai pemerhati seni tradisi, Wawan Setiawan sebagai Koordinator komunitas Seni, dan Hendi Rohendi sebagai Pamong Budaya Muda.

Menurut Bah Enjum, seni reak pada awalnya merupakan seni yang dipandang arogan oleh masyarakat, sehingga tidak sedikit yang mencela. Pada tahun 1990an karena adanya keributan pada pergelangan seni reak, sehingga  kesenian reak sempat di berhentikan untuk beberapa waktu.

"Namun pada tahun 2010 mulai dikreasikan dari segi tampilan. Tadinya dicap penuh dengan keributan, sekarang masyarakat sudah mulai menikmati suguhan pergelaran seni reak," katanya.

Sedangkan menurut wawan Setiawan, garapan seni reak tidak akan berjalan dengan baik kalau organisasi tidak terkelola dengan baik.

"Organisasi seni sangat dibutuhkan dalam rangka membina tiap masing-masing lingkung seni," ujarnya.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR