Peringatan Hari Air Sedunia

Ritus Tubuh dan Air Ajak Masyarakat Tak Egois pada Alam

Seni & Budaya

Jumat, 22 Maret 2019 | 17:04 WIB

190322172243-ritus.jpg

Darma Legi

Sejumlah penari melakukan tarian dengan diiringi musik Tarawangsa pada kegiatan Ritus Tubuh dan Air dalam rangka Peringatan Hari Air Se Dunia di Cikapundung River Spot, Jln. Sukarno, Kota Bandung, Jumat (22/3/2019).

TANGGAL 22 Maret, masyarakat dunia memperingati sebagai hari air sedunia. Pun demikian dengan masyarakat Bandung yang tergabung dalam Masyarakat Seni Rakyat Indonesia (Masri).

Pada Jumat (22/3/2019) siang, sejumlah seniman dari Cantika Studio Kabupaten Bandung, Komunitas Bajidoran, Mahasiswa Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung dan seniman lainnya melakukan Ritus Tubuh dan Air di aliran Sungai Cikapundung dekat River Spot Cikapundung Kota Bandung. Para penari mulai dari anak-anak hingga dewasa terlibat dalam ritus peringatan hari air sedunia tersebut dengan seksama.

Diawali dengan pembacaaan doa dipimpin Bah Nanu Muda dihadapan sesaji sambil membakar kemenyan. Dengan bermunajat kepada Tuhan Yang Maha Esa, Bah Nanu memimpin para penari dan seniman untuk lebih mencintai alam dan air.

Usai berdoa, satu persatu para penari menuju pinggiran sungai Cikapundung yang terdapat plastik. Mereka pun masuk ke dalam plastik kemudia menari dengah penuh keseriusan. Semenetara para penari cilik sambil membawa aangsretan kemudian ditempatkan di sejumlah rock balancing dari batu kali.

Diiringi seni buhun tarawangsa, para penari ini seolah menyatu dengan alam terus menari tanpa menghiraukan aliran Sungai Cikapundung yang kotor. Mereka menari dengan penuh makna dan mengningatkan semua yang hadir, bahwa alam merupakan nyawa dari semua umat manusia. Mereka pun menggambarkan bagaimana keterikatan manusia dengan alam, keduanya saling membutuhkan dan jangan sama-sama egois. Jika salah satu egois, maka tunggulah kehancuran akan datang.

Masih ingatkah dengan kejadian banjir bandang yang melanda sejumlah daerah di Jabar dan Indonesia akhir-akhir ini? "Itu semua dikarenakan ulah manusia yang egois pada alam. Alam pun jauh lebih egois pada manusia dengan memberikan kehancuran dimana-mana," ungkap salah seorang penari dari ISBI, Budi.

Sementara seniman senior, Nanu Muda menyebutkan sesungguhnya air merupakan kebutuhan yang sangat vital tubuh manusia, oleh karena itu pemeliharaan pada air sangat penting bagi kepentingan hidup manusia. Maka untuk menjaga kelestarian itu, lewat upacara itulah yang diwujudkan dengan doa istiqhosah bersama dan menjaga kelestariaan lingkungan untuk mewujudkan tercapainya keseimbangan alam antara anugerah Yang Maha Kuasa dan hasil reka manusia.

Bah Nanu menyebutkan, apa yang dilakukan oleh para leluhur kita maupun warga masyarakat kampung adat Baduy, Ciptagelar, Suku Naga, adalah bentuk kesadaran dalam upaya mencagarkan alam, khususnya pemulyaan terhadap air. Kesadaran melestarikan dengan memelihara air tersebut istilahnya "mangerankeun" (meng-Tuhan-kan) karena air anugerah Tuhan yang menciptakan seluruh alam. Hal ini sebagaimana diungkapkan H. Hasan Mustapa, bahwa seakan sudah melekat pada jiwa orang Sudah untuk mangerankeun yaitu menaruh kepercayaan di dalam hati kepada sesuatu yang dianggap telah membantu bahkan menolong dirinya sehingga sesuatu yang dianggap ia akan berbakti kepada sesuatu tersebut. Maka untuk menghormati kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kelimpahan air sehingga tanah dengan tanamannya itu tumbuh subur, rasa berterimakasih kepadanya tersebut yaitu mangerankeun.

"Maka untuk menghormati kepada Tuhan Yang Maha Esa maupun kepada leluhur yang telah menjaga hulu wotan (sumber air) maupun sungai, maka kami sebagai warga masyarakat kota Bandung akan menggelar Ritus Tubuh dan Air. Ritual ini bertujuan mengingatkan bahwa air itu sangat vital bagi kehidupan manusia maupun tumbuhan dan kehidupan lainnya. Yang sementara ini, konon air telah menjadi bagian kapitalis," terangnya.

World Water Day atau Hari Air Sedunia merupakan perayaan tahunan dan sekaligus menarik perhatian masyarakat global mengenai pentingnya air bagi kehidupan dan penyadaran untuk pengelolaan sumber-sumber air bersih yang berkelanjutan.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Dewi Kaniasari mengapresiasi apa yang dilakukan komunitas Masri untuk memperingati hari air sedunia dengan Ritus Tubuh dan Air. Kenny sapaan akrabnya - menyebutkan, Ritus Tubuh dan Air merupakan simbol ajakan kepada masyarakat Kota Bandung untuk menghargai alam.

"Budaya masyarakat kita dulu sangat menghargai alam, sehingg jarang terdengar ada bencana alam. Berbeda dengan dengan sekarang, bencana alam dimana-mana, baik banjir, longsor, gempa bumi maupun lainnya. Itu tandanya masyarakat sekarang sudah tidak menghargai alamnya," terangnya.

Dikatakannya, Ritus Tubuh dan Air ini merupakan kali pertama diselenggarakan komunitas Masri bekerjasama dengan Disbudpar Kota Bandung yang melibatkan anak-anak dan mahasiswa sebagai edukasi. Oleh karena itu, Kenny pun menyebutkan, kegiatan peringatan hari air sedunia ini layak diselenggarakan setiap tahun dan bisa dijadikan agenda tahunan Kota Bandung untuk menarik wisatawan.

"Kami akan koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup, agar kegiatan ini bisa menjadi agenda tahunan," tendasnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR