180912201441-tradi.jpg

dokumen galamedianews.com

Pj Wali Kota Cirebon, Dedi Taufik

Tradisi Pembacaan Babad Cirebon Sambut 1 Sura

Seni & Budaya

Rabu, 12 September 2018 | 20:14 WIB

Wartawan: Irwina Istiqomah

SETIAP tahunnya pada tanggal 1 Ram-Ji-Ji/Muharram (Sura) selalu diadakan Pembacaan Babad Cirebon di Keraton Kanoman Cirebon dan melaksanakan Kirab Agung dari Keraton Kanoman menuju Astana Gunung Jati (Makbaroh Gusti Sinuwun Sunan Gunung Jati) di desa Gunung Jati, dan turut medale Kreta Paksi Naga Liman.

Pada tahun ini tanggal 1 Sura jatuh pada hari Rabu, 12 September 2018. Pj Wali Kota Cirebon, Dedi Taufik mengatakan, acara ritual Pembacaan Babad Cerbon dilaksanakan di Bangsal Witana dengan melakukan doa tawasul kepada leluhur kemudian dilanjutkan dengan melakukan prosesi Pembacaan Babad Cerbon dengan didahului pembukaan, pembacan ayat suci Al-Quran.

"Ada sambutan yang mulia Kanjeng Gusti Sultan Raja Muhammad Emirudin, yang kemudian dilanjutkan dengan Pembacaan Babad Cerbon. Setelah itu, Kirab Agung menuju Astana Gunung Sembung dengan menggunakan Kereta Paksi Naga Liman," ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (12/9/2018).

Perjalanan sejarah Cirebon menjadi titik inti berdirinya Cirebon sebagai daerah yang kaya akan sejarah dan budaya. Sekitar awal abad ke-15 Cirebon masih bagian dari Kerajaan Pakuwan Pajajaran yang dikuasai oleh Sri Baduga Maharaja Ratu Haji Prabu Guru Dewata Prana atau yang lazim disebut dengan Prabu Siliwangi.

Pada saat itu, di Cirebon terdapat Kerajaan Singhapura deengan penguasanya Ki Surawijaya Sakti, lalu digantikan oleh adiknya Ki Gedeng Tapa yang menjadi juru Labuhan Muara Jati yang tidak lain adalah ayah Nyai Subang Larang dari perkawinanya dengan Nyai Ratna Kranjang putri Ki Gedeng Kasmayan penguasa Cirebon Girang.

Pada tahun 1440 M/1362 Saka, di wilayah selatan pesisir Cirebon yang sekarang disebut Kelurahan Lemahwungkuk terdapat seorang Pertapa bernama Ki Danusela dengan istrinya Nyai Arum Sari, Ratna Riris (anaknya) dan sesepuh wilayah tersebut yang bernama Ki Sarnawi.

Pada awalnya, wilayah Lemahwungkuk itu masih sepi penduduk dan hanya didiami oleh
beberapa orang saja. Wilayah Lemahwungkuk itu pada perjalanannya menjadi ramai ketika Pangeran Walangsungsang putra Prabu Siliwangi membabad Alas Kebon Pesisir bersama Ki Danusela dengan menggunakan Golok Cabang pemberian dari seorang Pendeta Buda Parwa yang bernama Sanghyang Nago dari Gunung Siangkup.

Cirebon sebagai pedukuhan yang dibuka oleh Ki Danusela (Ki Gedeng Alang-alang) pada Minggu Kliwon tepatnya pada 1 (satu) Suro 1367 Saka / 1445 M bersama Pangeran Walangsungsang/Cakrabuwana membabad alas (Babakyaksa Sajarah) dengan membangun pemerintahan Pakuwuan dan mengangkat Ki Danusela sebagai Kuwu pertamanya bergelar Ki Gede Alang-Alang atas perintah Syaikh Dzatul Kahfi.

Sementara titik enol Babad Alas itu adalah wilayah Witana (Wi = Pembuka Tana = Tanah atau disebut Tanah Pembuka) yang sekarang berada di dekat Bangsal Mande Mastaka (Tempat Bertahtanya Sultan Kanoman).

Dari situlah kemudian Kesultanan Kanoman berkeyakinan bahwa Cirebon kini telah berusia 573 tahun, merujuk pada Babakyaksa Sajarah Pakuwuan Caruban yang dibangun oleh Pangeran Cakrabuwana dan Ki Danusela.

Editor: H. Dicky Aditya

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR