Puasa Memupuk Solidaritas Umat

Ramadan

Selasa, 21 Mei 2019 | 07:00 WIB

190520220503-puasa.jpeg

ISLAM selalu memiliki ajaran-ajaran yang tidak hanya memiliki esensi ketuhanan (uluhiyyah), akan tetapi juga esensi kemanusiaan (ubudiyyah). Sebab itu, Islam selalu menyeimbangkan kehidupan manusia yang memiliki dua garis hubungan, pertama garis horisontal yakni hubungan antara manusia dengan Tuhannya (hablumminallah), dan kedua garis vertikal yaitu hubungan antara manusia dengan manusia yang lainnya (hablumminannas).

Ramadan merupakan bulan istimewa. Karena, pada bulan inilah setiap Muslim berusaha menempa diri untuk menjadi insan yang terbaik melalui puasa dan amalan Ramadan lainnya. Sifat insan terbaik tidak lain ialah takwa sebagaimana tujuan utama berpuasa seperti yang dijelaskan dalam QS Al-Baqarah ayat 186 yang artinya, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Salah satu amalan Ramadan yang sungguh baik adalah bersikap pemurah atau dermawan bagi sesama, terutama bagi saudara kita yang sangat memerlukan. Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Rasulullah adalah seorang yang paling pemurah, lebih-lebih pada Ramadan (HR Bukhari dan Muslim). Sikap pemurah atau dermawan itu menumbuhkan empati dan rasa mau berbagi dengan orang lain.

Di bulan Ramadan, setiap Muslim dilatih melalui puasa agar menjadi insan yang mampu merasakan derita sesamanya dan melahirkan sikap ta’awun, yakni semangat saling menolong dan bekerja sama dengan orang lain secara tulus dan baik. Karenanya, jika dia kaya, harus berbagi dengan saudaranya yang miskin.

Begitu pun jika dia berilmu, harus mau mencerdaskan orang lain dengan ilmunya. Manakala dia memiliki kekuasaan, dapat dimanfaatkannya untuk menyejahterakan orang banyak. Apabila dia berkecukupan dalam apa saja terpanggil untuk menolong siapa saja yang kekurangan.

Sesungguhnya, semangat ta'awun atau tolong-menolong dan saling bekerja sama merupakan perintah dalam Islam. Allah berfirman yang artinya, "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan." (Q.S. Al-Maidah: 2).

Bekal takwa
Kalau kita mau jujur, nilai-nilai puasa yang terakumulasi dalam nilai takwa, benar-benar dapat diraih para shaiman, maka hasilnya adalah prestasi-prestasi yang mengagumkan bagi kelangsungan masyarakat kita.

Takwa selain menjadi tujuan orang-orang yang berpuasa, juga dipandang sebagai bekal yang paling baik bagi manusia. Dalam catatan sejarah, orang yang memiliki perbekalan terbaik adalah orang-orang yang sejahtera, memperoleh kemenangan, dan dapat menciptakan kelangsungan peradaban. ‘’Berbekallah, sesungguhnya, bekal yang paling baik adalah bekal takwa’’ (QS, Al-Baqarah: 197).

Jika bekal takwa dimiliki seorang Muslim, maka semestinya puasa menjadi jalan yang mengantarkan pada kondisi-kondisi yang lebih baik lagi bagi gerak kehidupannya di masa akan datang. Janganlah pernah terlintas kesan di benak kita, bahwa puasa seolah-olah hanya sebagai rutinitas tahunan yang tak memiliki pengaruh apa pun pada kebaikan masyarakat.

Sebab sesungguhnya, puasa menjadi madrasah ruhaniah yang siap menempa orang-orang beriman untuk menjadi manusia-manusia unggul dan lebih berprestasi di masa depan. Puasa harus mampu menjadi instrumen yang membentuk pribadi-pribadi takwa dan menginspirasi hidup mereka secara lebih baik lagi. Apapun status dan kedudukan mereka di masyarakat.

Puasa dapat mencegah tindakan-tindakan kekerasan, tawuran, disintegrasi, dan menumbuhkan semangat persatuan. Nilai-nilai puasa yang sangat positif ini, tentu saja harus dipelihara, dan tidak boleh dicederai oleh rasa keadilan yang mencolok melalui perilaku pamer berbelanja oleh orang-orang kaya.

Setiap Muslim yang berpuasa akan mampu menjaga dirinya untuk menyemaikan benih-benih ta’awun membangun solidaritas sosial yang bersih dan baik dalam kehidupan diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan dunia kemanusiaan universal.

Sikap ta’awun yang serbautama tersebut harus ditanamkan dan disebarluaskan di seluruh lapisan masyarakat, termasuk di kalangan anak-anak sebagai generasi umat dan bangsa. Sikap bersih dan baik yang diwujudkan dalam kehidupan bersama harus menjadi budaya sehari-hari.

Dengan puasa Ramadhan, sikap ta’awun atau soldaritas sosial yang luhur itu merupakan hasil dari proses transedensi (habluminallah) yang membuahkan sifat kemanusiaan yang luhur (habluminan-nas) yang bersifat serba utama. Wallahualam bisshowab. (Drs. H. A. Buchori, M.M., Penulis Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Barat)**

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR