Ramadan Hampir Dua Pekan, Permintaan Sarung Majalaya Belum Menggeliat

Ramadan

Rabu, 15 Mei 2019 | 20:10 WIB

190515201212-ramad.jpg

Engkos Kosasih

MEMASUKI hari ke-10 bulan suci Ramadan, Rabu (15/5/2019), pemasaran sarung lokal asal Majalaya dan sekitarnya Kabupaten Bandung belum menggeliat. Diperkirakan pemasaran sarung untuk kebutuhan Hari Raya Idulfitri 1440 H akan menggeliat satu minggu sebelum hari H Lebaran.

Hal itu diungkapkan pelaku usaha sarung lokal Majalaya Opa Teguh kepada galamedianews.com di Majalaya, Rabu (15/5/2019) malam.

"Saat ini, pemasaran sarung lokal asal Majalaya masih biasa-biasa. Belum kelihatan ada peningkatan lonjakan pemasaran sarung. Mungkin saja nanti kalau sudah dekat ke Lebaran," kata Opa Teguh.

Dikatakannya, belum adanya geliat pemasaran sarung lokal itu, karena sebelumnya banyak pemesan sarung pada beberapa bulan sebelumnya. Para pemesan itu mulai dari puluhan hingga ratusan kodi.

"Bahkan ada di antara pemesan sarung untuk dikirim ke luar Pulau Jawa," katanya.

Menurutnya dengan banyaknya pesan sarung pada beberapa bulan sebelumnya, kini pemasaran sarung masih stagnan atau belum ada peningkatan. "Mungkin orang-orang sudah punya sarung, yang sebelumnya dipesan dan dimiliki oleh warga," katanya.

Ia pun mengatakan, persediaan sarung untuk memenuhi permintaan pasar jelang Lebaran di tangan para pengusaha, tidak sebanyak pada jelang Lebaran tahun-tahun sebelumnya.

"Tapi para pengusaha tetap menyiapkan stok sarung untuk memenuhi permintaan pasar. Soalnya, produksi sarung di Majalaya dan sekitarnya masih berlangsung. Bahkan, sarung yang sudah siap jual, saat ini menumpuk di tangan para pengusaha sarung," katanya.

Menurutnya, sarung masih menjadi primadona bagi masyarakat di Indonesia, terutama untuk umat muslim yang bisa digunakan busana untuk salat itu, para pengusaha setempat masih mempertahankan usaha yang turun temurun tersebut.

"Masih ada sekitar 40 pengusaha sarung lokal yang mempertahankan usahanya. Sebelumnya, ratusan pengusaha sarung di Majalaya dan sekitarnya. Sementara yang lainnya gulung tikar karena persoalan ekonomi yang tidak mampu bersaing setelah ada gempuran produk impor" tuturnya.

Opa Teguh mengatakan, para pengusaha sarung yang mampu mempertahankan usahanya saat ini, setelah berusaha dan kerja keras menyesuaikan harga bahan baku benang untuk pembuatan sarung dengan produksi sarung jadi saat dipasarkan.

"Semula harga bahan baku benang pe itu Rp 4,2 juta dengan volume 181 kg atau per ballnya. Saat ini, harga benang dengam volume yang sama tembus Rp 6 juta. Jadi ada kenaikan harga benang Rp 1,8 juta, dengan adanya kenaikan harga bahan baku ini harus disesuaikan dengan harga jual sarung ke pasaran," urainya.

Ia mengatakan, saat ini harga sarung termurah yaitu Rp 400.000/kodi sampai Rp 700.000 per kodi. Perbedaan harga itu disesuaikan dengan kualitas sarung.

"Bahkan ada juga sarung songket harganya Rp 1,5 juta per buahnya. Itu sarung songket pesanan yang dipesan warga asal Sumatera, untuk kebutuhan adat setempat," ungkapnya.

Dikatakannya, pemasaran sarung lokal asal Majalaya memiliki pasar tersendiri, sehingga bagaimana pihak pengusaha pandai memenejnya untuk mempertahankan usahanya itu. 
"Setiap perusahan bisa memproduksi sarung antara puluhan kodi setiap harinya. Tetapi hal itu bergantung pada banyaknya mesin tekstilnya," katanya.

Menurutnya, pemasaran sarung di bulan suci Ramadan merupakan andalan bagi para pengusaha. Pasalnya, permintaan pasar bisa beberapa kali lipat dari bulan-bulan sebelumnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR