Ditemukan di Malaysia, Ilmuwan Kaget Monyet Sekarang Suka Makan Tikus

Ragam

Rabu, 23 Oktober 2019 | 16:32 WIB

191023163255-ilmuw.jpg

dailymail

Selama ini kera atau monyet identik dengan pisang dan buah-buahan. Namun belum lama ini sejumlah ilmuwan dibuat kaget dengan temuan monyet ekor babi yang kedapatan menikmati tikus layaknya buah. Dikutip dari DailyMail kemarin, monyet-monyet tadi berkeliaran di ladang sawit Malaysia sebagai bagian dari pengendalian hama.

Tapi rupanya tak hanya mengusir tikus, hewan primata itu ternyata memakannya juga. Keberadaan monyet penyuka tikus ini menjadi “berita baik” bagi produsen minyak kelapa sawit karena mereka bisa menghemat lebih dari £500.000 atau Rp 9 miliar akibat kerusakan tanaman. Tikus selama ini menjadi hama ladang yang kerap menyerbu.

"Berevolusi".

Monyet ekor babi alias beruk atau Macaca nemestrina sendiri merupakan primata erukuran sedang asli Indonesia, Malaysia dan Thailand selatan. Jantan dari spesies ini dapat mencapai bobot 5–15 kg. Biasanya hidup berkelompok dan sebagian besar memakan buah, biji, beri, dll. Namun  penelitian baru menunjukkan kini hewan-hewan ini mulai menikmati tikus.

Meski mengejutkan kebiasaan baru ini bermanfaat di perkebunan kelapa sawit  di mana tikus dianggap sebagai hama yang signifikan. Zoolog Nadine Ruppert dari Universiti Sains Malaysia dan rekannya telah mempelajari ekologi dan perilaku monyet  ekor babi di sekitar Cagar Hutan Segari Melintang di Semenanjung Malaysia sejak 2016.

Mengagetkan tapi juga kabar baik.

Mereka mendapati kera-kera itu menghabiskan waktu di perkebunan kelapa sawit terdekat dan bertahan dengan memakan makanan yang sebagian besar terdiri dari buah kelapa sawit. Setiap kelompok memakan lebih dari 12 ton hasil panen dalam setahun.

Ini setara dengan 0,56 persen dari total produksi kelapa sawit di kawasan perimeter aktivitas monyet ekor babi. Meski demikian kerusakan akibat monyet ini masih bisa ditoleransi dibanding kerusakan akibat hama hewan pengerat tikus.

Asli dari Asia Tenggara.

"Aku terkejut ketika  pertama kali mengamati  kera-kera ini memakan tikus di perkebunan," kata Dr. Ruppert. "Aku tidak menyangka mereka akan berburu tikus yang relatif besar atau bahkan memakan begitu banyak daging. Mereka secara luas dikenal sebagai primata pemakan buah yang hanya sesekali makan burung kecil atau kadal.”

Tanpa pengawasan, tikus dianggap bertanggung jawab atas kerugian hingga 10 persen dari produksi buah kelapa sawit  sehingga hobi makan tikus kera ini dianggap  baik bagi petani lokal. "Dengan menyasar celah di antara batang kelapa sawit di mana tikus bersembunyi di siang hari, satu kelompok kera ekor babi dapat menangkap lebih dari 3.000 tikus per tahun," ujar pakar primata Anna Holzner dari Universitas Leipzig, Jerman.

Untungkan pemilik ladang hingga miliaran per tahun.

Para peneliti percaya  kera yang mengunjungi perkebunan memiliki potensi  mengurangi jumlah tikus lebih dari 75 persen. Mereka bahkan dapat menggantikan bahan kimia yang biasanya diandalkan untuk pengelolaan hama tikus. Faktanya, tim memperkirakan eliminasi hama tikus dapat mengurangi kerusakan tanaman tujuh persen dari keseluruhan produksi atau Rp 9 miliar setiap tahun.

"Hasil penelitian kami akan mendorong pemilik perkebunan swasta dan publik untuk mempertimbangkan perlindungan primata ini dan habitat hutan alamnya di sekitar perkebunan kelapa sawit atau yang baru didirikan," tambah kolega Anna, Anja Widdig.

Macaca nemestrina.

"Bekerja sama dengan perusahaan kelapa sawit lokal dan LSM, kami  bekerja menuju realisasi desain perkebunan yang memelihara populasi kera yang layak dengan tingkat keanekaragaman hayati yang lebih tinggi melalui koridor satwa liar," tambahnya.

Ini dilakukan sambil meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan perkebunan dengan pengendalian hama yang efektif dan ramah lingkungan. "Pada akhirnya upaya ini dapat mengarah pada situasi win-win solution untuk keanekaragaman hayati dan industri kelapa sawit." Temuan lengkap dari penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Current Biology.

 

Editor: Mia Fahrani



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA