Miliki Dua Organ Intim dan Dua Rahim, Bagaimana Perempuan ini Melahirkan?

Ragam

Jumat, 4 Oktober 2019 | 13:00 WIB

191004125536-dokte.jpg

dailymail

Divonis tak akan menjadi ibu, Eleanor Rowe membuat kalangan medis kaget sekaligus takjub dengan kelahiran buah hatinya. Warga Ranskill, Nottinghamshire, Inggris itu diperkirakan takkan bisa memiliki anak karena lahir dengan kondisi tak biasa. Ibu satu anak perempuan itu lahir dengan dua vagina, dua rahim, bahkan dua serviks atau bagian bawah rahim yang terhubung ke organ intim.

Salah satu fungsi serviks yaitu memproduksi lendir atau mukus yang ikut membantu menyalurkan sperma dari vagina ke rahim. Dikutip dari DailyMail kemarin, meski menyadari konsekuensi anatomi tubuhnya yang abnormal, Elle tetap yakin harapan melahirkan bukan sekadar mimpi  kosong. Di usia 36 tahun saat ini, Elle yang sempat keguguran membuktikan kekuatan mentalnya.

Miracle baby.

Tak tahu apa yang mungkin dihadapi, lima tahun lalu ia sengaja membekukan sel telurnya. Ia juga menjalani operasi untuk mengangkat dinding yang membagi organ intimnya menjadi dua pada tahun 2015. Meski demikian ia tetap memiliki dua serviks dan dua rahim yang membuat kemungkinan hamil baginya sangat kecil jika bukan tidak mungkin.

Tahun berikutnya ia bertemu Chris yang kini menjadi suaminya. Menghadapi didelfi uterus atau rahim kembar, keduanya melakukan semua yang mungkin untuk memiliki buah hati. Hasilnya bulan November 2018, Elle dinyatakan hamil dan tiga bulan lalu keduanya menyambut bayi perempuan ber nama Imogen Hope yang lahir dengan berat 2,5 kg.

The anatomy.

Terdengar bak kisah dengan ending sempurna, tentunya  semua tak semudah itu. Elle yang berprofesi sebagai konsultan baru mengetahui memiliki “organ perempuan” tak normal di usia  30-an. “Aku sendiri tak percaya, tiga dekade lamanya aku tak tahu apa yang terjadi dalam tubuhnya,” katanya.  Apalagi sebelumnya ia juga melakukan tes pencegahan kanker serviks namun tak ada diagnosis apa pun.

Tak mengubur harapan menjadi ibu, di tahun 2013 itu Elle membekukan sel telur sebagai persiapan jika dirinya menikah dan tak bisa hamil normal dengan biaya £6,000 atau Rp 104 juta. Saat Elle baru tahu ia memiliki dua vagina saja dan sama sekali tak menyadari tubuhnya pun mengalami duplikasi rahim.

There she is..

Ini diketahui saat ia melakukan scan 3D indung telur yang akan dibekukan. Saat itu ahli sonografi yang mengira dirinya tengah dalam perawatan IVF penuh, malah melakukan  scan 3D rahim dan  hasilnya menunjukkan ada dua rahim. Elle pun dirujuk ke Rumah Sakit Princess Alexandra di Harlow dan tim medis memastikan dirinya memiliki  dua leher rahim atau serviks, dua vagina dan dua rahim.

Kondisi ini  dikenal sebagai uterus didelphys  atau kelainan bawaan langka yang terjadi saat masih janin dan diderita satu dari 3.000 wanita. Meski ada kemungkinan hamil  tapi berisiko tinggi keguguran hingga persalinan prematur dan perdarahan selama kehamilan.

“Aku sangat bingung dan tak  tahu harus bagaimana. Tapi aku bersyukur bisa mengetahui yang sesungguhnya. Karena artinya aku bisa melakukan sesuatu untuk apa yang aku inginkan dengan fisik tidak ideal ini,” paparnya. Sebelumnya Elle juga mengaku tak ada keluhan selain menstruasi tak teratur. “Kukira aku normal-normal saja tapi ternyata semua organ perempuanku memiliki duplikasi.”

Mengenai dua vagina, Elle mengatakan dirinya hanya aneh mengapa setiap kali menggunakan tampon saat menstruasi darah seolah tak tertampung. “Ternyata darah tambahan tadi datang dari saluran vagina yang lain. Dua rahim juga membuat haidnya tak normal karena masing-masing memicu periode berbeda.”

Tampon yang dimasukkan sepenuhnya ke dalam saluran vagina tetap meninggalkan ruang untuk menampung  darah dari rahim. Namun  karena Elle  memiliki dua vagina, darah dari vagina kedua tidak tertampung tampon. Elle  memberitahu dokter mengenai darah yang tetap keluar meski mengenakan tampon tapi dokter saat itu hanya mengingatkannya untuk menggunakan tampon dengan benar.

Baru pada tahun 2015 dokter menyatukan vaginanya dengan mengangkat  dinding yang membaginya menjadi dua. Namun ia tetap memiliki dua leher rahim dan dua rahim. Saat itu dokter mengingatkan setiap kehamilannya berpotensi keguguran hingga 90 persen.  Ini karena rahimnya lebih kecil dari rahim rata-rata dan bentuknya pun berbeda. Dinding rahim elle pun sangat tebal sehingga tidak mungkin bayi bisa tumbuh.

Happy together.

“Mereka mengatakan setiap kali hamil, itu akan membantu merentangkan rahim tapi aku  juga diberitahu kemungkinan 90 persen aku akan selalu keguguran. Mengerikan sekali,” kenangnya.  Kesuburan Elle sendiri tak bermasalah  tetapi rahimnya lebih kecil dan dinding yang membelahnya terbilang tipis. Meski demikian ia tak berhenti membayangkan dirinya menjadi ibu.

Satu tahun setelah masa-masa sulit, tahun berikutnya yaitu Mei 2016, ia  bertemu konsultan teknologi Chris di sebuah bar di London. “Ketika kami mulai  serius, aku  memberitahu Chris semuan dan  dia sangat pengertian. Kami melakukan segalanya untuk Imogen,” katanya. Dua bulan setelah menikah, Elle hamil  namun sang bayi tumbuh di rahim kanan yang lebih lemah dibanding rahim kiri.

Imogen Hope.

Benar saja, ia mengalami keguguran. Kesedihan membuatnya berpikir kemungkinan terburuk. “Mungkin benar aku tak akan pernah melahirkan tapi tak lama kemudian aku kembali hamil,” katanya. Kali ini semua dilakukan dengan pengawasan ketat dokter.  Tak hanya itu, ia pun baru berbagi kabar bahagia itu saat usia kehamilan mencapai 28 minggu.

“Baru setelah itu aku berani membeli perlengkapan bayi. Dan aku bersyukur dengan doa dari keluarga, teman dan semua yang bersimpati padaku,” katanya. Sepanjang kehamilan dokter mengawasinya dan di minggu ke-24 Elle  harus suntik steroid setelah tertular kolestasis obstetri, kelainan hati serius. Didera khawatir, akhirnya semua berjalan lancar hingga hari kelahiran Imogen melalui operasi caesar.

Strong together.

“Putriku sangat tangguh. Ia menolak semua prediksi terburuk dokter,” katanya bangga. Elle pun menyebut apa yang dialaminya hanya satu dari sekian banyak kisah perempuan lainnya yang sangat mungkin menghadapi hal lebih sulit darinya. “Aku berbagi kisahku karena aku ingin Imogen menjadi bukti bagi mereka yang saat ini masih berharap. Harapan itu selalu ada,” ujarnya.

Sure it does, thank you!

Editor: Mia Fahrani



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA