Setelah Jumatan, Haruskah Kita Pindah Tempat Untuk Melaksanakan Salat Sunah?

Ragam

Jumat, 20 September 2019 | 04:29 WIB

190919224955-setel.JPG

dokumen galamedianews.com

PERNAKAH mengalami kasus ini? Ketika selesai salat wajib berjamaah, kawan di sebelah meminta untuk bertukar tempat untuk salat sunnah? Sebagian orang mungkin ada yang bingung, mengapa harus bertukar tempat?

Perlu diketahui bahwa kawan yang meminta tukar tempat tersebut berkeyakinan bahwa adanya sunnah yaitu pindah tempat untuk melakukan salat sunnah setelah melakukan salat wajib. Hal ini bertujuan untuk memisahkan/membedakan antara salat wajib dan salat sunnah, sehingga tidak terkesan bersambung dari salat wajib ke salat sunnah.

Hal yang bisa menjadi “sedikit” masalah adalah sebagian jamaah belum tentu tahu bahwa ada sunnah seperti ini, sehingga merasa kaget, merasa aneh atau merasa tidak nyaman. Tentu perlu bijak menerapkan sunnah ini. Solusinya apabila di sebalah kita kurang paham atau kita berada di masjid yang jamaahnya belum paham adalah sebagai berikut:

1. Bergeser sedikit dari tempat salat kita, baik itu maju sedikit atau mundur sedikit karena maksud dari sunnah ini adalah agar kita membedakan (memisahkan) antara salat wajib dan salat sunnah yaitu dipisah dengan gerakan walaupun sedikit

An-Nawawi menjelaskan, “Ulama madzhab kami mengatakan, apabila seseorang tidak langsung pulang ke rumahnya (setelah salat wajib) dan ingin salat sunah di masjid, dianjurkan untuk bergeser sedikit dari tempat salatnya, agar memperbanyak tempat sujudnya.” (Al-Majmu’, 3:491).

2. Berbicara sedikit (berbicara hal yang bermanfaat) untuk membedakan/memisahkan antara salat wajib dan salat sunnah (tidak perlu bergeser), karena ada ulama yang berpendapat demikian.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata, “Termasuk sunnah adalah memisahkan (membedakan) antara salat wajib dan salat sunnah ketika salat jamaah dan lain-lain, sebagaimana terdapat nash shahih bahwa Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam melarang menyambung salat dengan salat lainnya sampai dipisahkan (dibedakan) dengan berdiri (bergeser) atau berbicara.” (Al-Fatawa Al-Kubra 2/395).

3. Membedakan/memisah salat wajib dengan salat sunnah dengan cara terbaik yaitu salat sunnah di rumah baik itu qabliyah maupun ba’diyyah

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin menjelaskan, “Oleh karena itu yang paling baik adalah engkau memisahkan antara salat wajib dan salat sunnah, akan tetapi ada yang lebih baik dari hal tersebut yaitu engkau salat sunnah di rumah karena salat sunnah di rumah lebih baik daripada di masjid walaupun itu masjidil haram.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail, bab shalat tathawwu’).

4. Sebagian ulama lagi berpendapat bahwa pemisah antara salat wajib dan sunnah adalah salam dari salat wajib, itu sudah cukup sehingga tidak perlu bergeser sedikit ataupun berbicara. Dalam hal ini memang ada perbedaan pendapat ulama yang merupakan ikhtilaf mu’tabar sehingga kita harus saling lapang dada menerima perbedaan ini.

Berikut kami jelaskan dalil bagi mereka yang berpendapat bahwa perlu pindah sedikit/bergeser setelah salat wajib ketika akan melakukan salat sunnah dengan tujuan memisahkannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kalian tidak mampu untuk maju atau mundur, atau geser ke kanan atau ke kiri ketika salat.” Maksud beliau: “salat sunah”. (HR. Abu Daud & Ibnu Majah, dishahihkan al-Albani).

Beberapa sahabat juga memerintahkan agar pindah dari tempat salat wajibnya. Ibnu Umar berkata, “Hendaknya tidak melakukan salat sunah, sampai berpindah dari tempat yang digunakan untuk salat wajib.” (HR. Ibnu Abi Syaibah).

Demikian juga riwayat dari dari Nafi bin Jubair, beliau langsung salat sunnah setelah salat Jumat. Kemudian Muawiyah berkata kepada beliau, “Jangan kau ulangi perbuatan tadi. Jika kamu selesai salat Jumat, jangan disambung dengan salat yang lainnya, sampai berbicara atau keluar masjid. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan hal itu.

Beliau bersabda, “Jangan kalian sambung salat wajib dengan salat sunah, sampai kalian bicara atau keluar.” (HR. Muslim & Abu Daud).

Sebagian ulama menyebutkan bahwa hikmah berpindah tempat adalah agar banyak tanah bumi yang dijadikan termpat sujud, karena bumi akan bersaksi di hari kiamat.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (QS. Az-Zalzalah: 4).

Ar-Ramli berkata, “Disunnahkan untuk berpindah dari tempat salat sunnah atau wajib dari tempat salat wajibnya untuk memperbanyak tempat sujud karena bumi akan bersaksi baginya.” (1/552).

Editor: H. D. Aditya



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA