Lima Kategori Fikih Bid'ah, Begini Penjelasannya

Ragam

Kamis, 19 September 2019 | 03:06 WIB

190918224839-lima-.jpg

Net

SECARA umum bid’ah adalah segala sesuatu yang dilakukan tanpa ada contoh sebelumnya. Pengertian ini didasarkan pada hadits Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang diriwayatkan dari Abdullah bin Masúd radliyallahu ‘anhu.

Rasulullah bersabda, “Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (baru) dan setiap yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.”

Secara fikih bid’ah dapat dikategorikan menjadi lima, yakni: wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah. Kategorisasi ini berdasarkan keterangan dari Syekh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam As-Salami, dalam kitab Al-Qawaídu Al-Kubra, Al-Mausum bi Qawaidil Ahkam fi Ishlahil Anam, Darul Qalam, Damaskus, Cetakan I, Tahun 2000, Juz II, Halaman 337.

Beliau menyebutkan, “Bid‘ah adalah melakukan apa yang tidak dijumpai di masa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Hukum Bid‘ah terbagi menjadi: wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah.”

Berdasar pada kategorisasi bid’ah sebagaimana disebutkan dalam kitab tersebut, KH Abdullah Asy’ari, Pengasuh Pondok Pesantren Darus Sholihin Surakarta, dalam sebuah ceramah Ramadhan di Masjid Tegalsari Surakarta pada bulan Ramadhan 1439 H, memberikan contoh bid’ah yang hukumnya haram, yakni salat Subuh 4 rakaat.

Salat Subuh empat rakaat jelas bid’ah dlalalah karena tidak ada dasar dan contohnya. Salat Subuh 2 rakaat bersifat qath’i karena begitulah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah menetapkannya dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Baihaqiy, Ad-Daru Quthniy dan Ahmad sebagai berikut, “Shalat Shubuh itu (hanya) dua rakaat.”

Adapun contoh bid’ah yang hukumnya sunnah, Kiai Abdullah Asyári memberikan contoh, yakni salat tarawih dilaksanakan sebanyak 23 rakaat.

Memang ada hadits yang diriwayatkan dari Siti Aisyah radliyallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan salat tarawih 11 rakaat. Tetapi di zaman Khalifah Umar bin Khattab, salat tarawih dilaksanakan sebanyak 23 rakaat. Hal ini memang bid’ah. Pertanyaannya adalah apakah yang dilakukan Sayyidina Umar tersebut merupakan bid’ah dlalalah?

Tentu saja tidak sebab Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berwasiat agar umatnya mengikuti sunnah beliau dan sunnah para Khulafaur Rasyidin sebagaimana dinyatakan dalam hadits yang diriwayatakan Abu Dawud dan At-Tirmidzi sebagai berikut, “Wajib kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin Mahdiyyin (para pemimpin yang menggantikan Rasulullah, yang berada di atas jalan yang lurus, dan mendapatkan petunjuk). Berpegang teguhlah kalian padanya dan gigitlah ia dengan geraham-geraham kalian. Serta jauhilah perkara-perkara yang baru. Karena setiap perkara yang baru adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.“

Jadi sunnah Khulafur Rasyidin itu ada dan legal karena dibenarkan oleh Rasulullah sendiri. Oleh karena itu, salat tarawih dengan 23 rakaat tidak termasuk bid’ah yang haram, tetapi sunnah sebab mengikuti sunnah Umar sebagai salah seorang dari Khulafaur Rasyidin.

Sedangkan bid’ah yang hukumnya wajib, Kiai Abdullah Asy’ari memberikan contoh, yakni membukukan ayat-ayat Alquran. Di zaman Rasulullah, ayat-ayat Alquran memang tidak dibukukan, tetapi ditulis di kulit binatang, batu yang tipis, pelepah kurma, tulang binatang dan sebagainya.

Perkembangan zaman menuntut agar ayat-ayat Alquran dibukukan menjadi satu mushaf karena banyak para sahabat yang hafal Alquran telah meninggal dunia dan kondisi tulisan ayat-ayat Alquran dalam benda-benda tersebut semakin buruk karena faktor usia. Maka dilakukanlah pembukuan ayat-ayat Alquran yang berlangsung mulai zaman kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khattab hingga Utsman bin Affan.

Andaikan ayat-ayat Alquran tidak pernah dibukukan menjadi mushaf, kita yang hidup di zaman sekarang tidak akan pernah menjumpainya. Umat Islam akan hidup tersesat karena tidak memiliki kitab suci sebagai pedoman hidup. Memang harus diakui bahwa upaya membukukan ayat-ayat Alquran yang dilakukan Khulafaur Rasyidin adalah sesuatu yang baru alias bid’ah, tetapi tidak dlalalah – tidak haram - karena hukumnya malah wajib.

Mengenai bid’ah yang hukumnya makruh Syekh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam As-Salami dalam kitab tersebut, halaman 338, memberikan contoh yakni menghiasai masjid. Tentu yang dimaksud dengan hiasan di sini adalah ornamen-ornamen yang tidak mengandung unsur dakwah.

Sedangkan contoh bid’ah yang termasuk kategori mubah, Syekh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam As-Salami pada halaman 339 memberikan contoh yakni jabat tangan usai salat Subuh dan Ashar. Sedangkan Kiai Abdullah Asyári memberikan contoh bid’ah mubah adalah pergi haji dengan menggunakan pesawat terbang.

Kelima kategori bid’ah sebagaimana dirumuskan oleh Syekh Izzuddin Abdul Aziz bin Abdussalam As-Salami tersebut sangat penting dipahami dan dijadikan pegangan bagi kaum Muslimin secara umum dalam kehidupan beribadah mereka sehari-hari. Dengan cara ini mereka tidak akan terombang-ambing oleh pendapat-pendapat dari luar kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, yang cenderung berbeda.

Walllahu A'lam.

Editor: H. D. Aditya



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA