Dikembangkan Kemenkes dan ITB, Kain Dakron Basah Bisa Kurangi Dampak Buruk Asap Karhutla

Ragam

Rabu, 18 September 2019 | 10:24 WIB

190918103208-dikem.jpg

@KemenkesRI

KEMENTERIAN Kesehatan (Kemenkes) menyarankan pengurangan dampak asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di dalam ruangan bisa dengan menggunakan kain dakron yang dibasahi.

Berdasarkan siaran pers Kementerian Kesehatan yang diterima di Jakarta, Rabu (18/9/2019), Sekretaris Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Pusat Krisi Kesehatan Kemenkes dr. Ahmad Yurianto mengatakan dua tahun lalu Kemenkes bekerjasama dengan Institut Teknologi Bandung membangun save community pada masyarakat salah satunya menciptakan teknologi tepat guna sederhana berupa pemasangan kain dakron yang dibasahi.

Baca Juga: Greenpeace Prediksi Bakal Ada Perkebunan Sawit Baru di Lahan Karhutla

Setelah diuji coba di beberapa sekolah dan dilakukan pengukuran ISPU di dalam dan di luar kelas, ternyata udara lebih baik di dalam kelas karena terpasang kain dakron, kata Yurianto

Ahmad Yurianto yang juga akrab disapa Yuri menambahkan pengalaman masalah karhutla pada 2015 telah menyebabkan kematian pada anak. Menurut dia hal itu disebabkan gastroenteritis dan dehidrasi berat karena kurang tersedianya air bersih.

Baca Juga: Soal Karhutla, Candil : Pemadaman Bukan Hanya Tanggungjawab Pemerintah

Saat itu sebenarnya episode yang diawali kekeringan dan sulit dapat air bersih sehingga yang muncul gastroenteritis. Terlambat melakukan rujukan karena memang warga takut asap di luar sehingga kematian ada. Informasi yang ramai meninggal karena asap padahal bukan, ungkapnya.

Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek menambahkan kalau sudah musim kemarau yang utama adalah air bersih. Ia mengatakan bahwa Poltekkes sempat menciptakan teknologi tepat guna berupa penjernih air dan berhasil menjernihkan air gambut di Kalimantan.

Baca Juga: Panglima TNI Dampingi Jokowi Tinjau Lokasi Karhutla di Riau

Kalau sudah musim kemarau yang utama itu air. Poltekkes sudah bisa menjernihkan air gambut, kecil alatnya, kata Menkes.

Selain itu, Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Batam empat tahun lalu juga membuat teknologi penjernih air agar bisa langsung minum. Teknologi tersebut dijadikan replika untuk daerah agar bisa mengembangkan sendiri.

Yuri mengatakan teknologi tepat guna lainnya adalah oksigen konsentrator. Tim Pusat Krisis Kesehatan sempat memantau Puskesmas Pulang Pisau, Kalimantan Tengah yang bermasalah karena kabut asap yang begitu pekat.

Baca Juga: Sebaran Asap Kebakaran Hutan Sampai Singapura dan Semenanjung Malaysia

“Kita datangi, kita beri oksigen konsentrator kemudian Puskesmasnya kita tutup pakai kain dakron. Tim Pusat Krisis Kesehatan akan mengecek lagi ke sana,” tambah dr. Yuri.

Rencananya oksigen konsentrator ini akan digunakan oleh Puskesmas apabila hasil yang didapatkan bisa lebih baik.

Menkes Nila mengatakan teknologi tepat guna ini bisa dijadikan contoh untuk mencegah terjadinya masalah kesehatan akibat Karhutla.

“Ini bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya. Bisa kita gunakan untuk masyarakat. Jangan sampai kita telat lagi dalam pencegahan,” tambahnya.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA