Kutip Alquran, Kepala BKKBN Ungkap Jarak Kehamilan Ideal untuk Perempuan

Ragam

Selasa, 17 September 2019 | 20:54 WIB

190917205732-kutip.jpg

islampos

JARAK kehamilan yang terlalu dekat memiliki beragam potensi masalah kesehatan, baik untuk ibu maupun anak. Lalu, berapa lama jarak kehamilan yang ideal?

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG mengatakan bahwa di dalam Al Quran, ada petunjuk jarak kehamilan ideal, yakni 30 bulan.

Jarak antara kehamilan pertama dan kedua dari Al Quran ini menurutnya sesuai dengan yang disosialisasikan dalam kampanye BKKBN.

Saat kunjungan kerja ke Puskesmas Sambung Macan Sragen Jawa Tengah, Selasa, (17/9/2019) menyampaikan bahwa anjuran yang tertulis dalam Al Quran tidak jauh berbeda dengan yang disarankan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

"Jarak kelahiran diatur Allah di dalam Al Quran itu 30 bulan, tertulis secara eksplisit tidak usah ditafsir. Sementara WHO menganjurkan 33 bulan. WHO yang isinya profesor-profesor, tapi Al Quran tidak kalah dengan WHO," kata Hasto, dilansir Antara.

Anjuran tersebut tertulis dalam surat Al-Ahqaf ayat 15. Menurut Hasto yang berlatar belakang sebagai dokter spesialis kandungan dan kebidanan, anjuran dalam Al Quran tersebut sesuai dengan ilmu kedokteran yang menyebutkan jarak kehamilan kurang dari dua tahun memiliki risiko bagi ibu dan anak.

Hasto melanjutkan bahwa anjuran tersebut semakin diperkuat di dalam Al Quran surat Al Baqarah ayat 233 yang menyarankan agar ibu menyusui anaknya hingga usia dua tahun.

Lagi-lagi anjuran tersebut sejalan dengan dunia kesehatan yang menyarankan ibu memberikan ASI eksklusif selama enam bulan dan dilanjutkan hingga dua tahun dengan makanan pendamping ASI.

Hasto yang pernah menjabat Bupati Kulon Progo selama dua periode tersebut mengungkapkan bahwa salah satu risiko melahirkan anak dengan jarak kehamilan kurang dari dua tahun adalah gangguan emosional dan mental.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa prevalensi gangguan kesehatan mental emosional di Indonesia sebesar 8,1 persen.

Hasto mengatakan gangguan mental emosional bisa disebut sebagai gangguan jiwa ringan. Oleh karena itu Hasto menyampaikan pentingnya menjaga usia kehamilan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas.

"Untuk menghasilkan produk manusia unggul dipengaruhi dari jarak kehamilan satu dengan yang lain," tutup Hasto.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA