Wajibkah Menjawab Salam yang Disingkat melalui WA atau SMS?

Ragam

Selasa, 17 September 2019 | 05:02 WIB

190916215014-wajib.jpg

Net

IMAM An- Nawawi menyebutkan dalam Shohih Muslim, di antara kewajiban seorang muslim adalah menjawab salam. Hal itu berdasarkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim pada muslim yang lain ada enam.”

Lalu ada yang menanyakan, ”Apa saja keenam hal itu?”

Lantas beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”1. Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam padanya, 2. Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya, 3. Apabila engkau dimintai nasehat, berilah nasehat padanya, 4. Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’), 5. Apabila dia sakit, jenguklah dia, dan 6. Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim no. 2162).

Apakah hak-hak yang disebutkan di sini adalah wajib? Ash Shon’ani mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwa inilah hak muslim pada muslim lainnya. Yang dimaksud dengan hak di sini adalah sesuatu yang tidak pantas untuk ditinggalkan. Hak-hak di sini ada yang hukumnya wajib dan ada yang sunnah mu’akkad (sunnah yang sangat ditekankan) yang sunnah ini sangat mirip dengan wajib.” (Subulus Salam, 7/7).

Jika kita melihat dari hadits di atas, akan terlihat perintah untuk memulai mengucapkan salam ketika bertemu saudara muslim kita yang lain. Namun sebagaimana dinukil dari Ibnu ‘Abdil Barr dan selainnya, mereka mengatakan bahwa hukum memulai mengucapkan salam adalah sunnah, sedangkan hukum membalas salam adalah wajib. (Subulus Salam, 7/7).

Dari ‘Amar bin Yasir, beliau mengatakan, “Tiga perkara yang apabila seseorang memiliki ketiga-tiganya, maka akan sempurna imannya: 1. bersikap adil pada diri sendiri, 2. mengucapkan salam pada setiap orang, dan 3. berinfak ketika kondisi pas-pasan. ” (Diriwayatkan oleh Bukhari secara mu’allaq yaitu tanpa sanad. Syaikh Al Albani dalam Al Iman mengatakan bahwa hadits ini shohih).

Ibnu Hajar mengatakan, “Memulai mengucapkan salam menunjukkan ahlak yang mulia, tawadhu’ (rendah diri), tidak merendahkan orang lain, juga akan timbul kesatuan dan rasa cinta sesama muslim.” (Fathul Bari, 1/46).

Jika yang diberi salam adalah jama’ah (banyak orang), maka hukum menjawab salam adalah fardhu kifayah jika yang lain telah menunaikannya. Jika jama’ah diberi salam, lalu hanya satu orang yang membalasnya, maka yang lain gugur kewajibannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sudah cukup bagi jama’ah (sekelompok orang), jika mereka lewat, maka salah seorang dari mereka memberi salam dan sudah cukup salah seorang dari sekelompok orang yang duduk membalas salam tersebut.” (HR. Abu Daud no. 5210. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih).

Hendaklah jika kita memberi salam (terutama melalui sms, email, surat, beri comment), janganlah ucapan salam tersebut kita ringkas menjadi: Ass. atau Ass.wr.wb. atau yang lainnya. Bentuk semacam ini bukanlah salam. Salam seharusnya tidak disingkat. Seharusnya jika ingin mengirimkan pesan singkat, maka hendaklah kita tulis: Assalamu’alaikum. Itu lebih baik daripada jika kita tulis: Ass., tulisan yang terakhir ini tidak ada maknanya dan bukanlah salam. Salam adalah bentuk doa yang sangat bagus dan baik, kenapa kita harus menyingkat-nyingkat?Kenapa tidak kita tulis lengkap, bukankah itu lebih baik dan lebih utama? Janganlah kita dikepung dengan sikap malas ketika ingin berbuat baik, ubahlah sikap semacam ini dengan menulis salam lebih lengkap.

Jika salam tersebut melalui tulisan, sms, email dan sebagainya, maka hendaklah kita yang membaca salam tersebut, juga membalasnya dengan ditulis secara lengkap dan jangan disingkat-singkat.

Para ulama menjelaskan bahwa As Salam itu termasuk nama Allah. Sehingga jika kita mengucapkan Assalamu’alaikum, maka ini berarti kita mendo’akan saudara kita agar dia selalu mendapat penjagaan dari Allah Ta’ala. Ada juga sebagian ulama mengartikan bahwa As Salam dengan keselamatan. Sehingga jika kita mengucapkan Assalamu’alaikum, maka ini berarti kita mendoakan saudara kita agar dia mendapatkan keselamatan dalam masalah agama ataupun dunianya.

Lalu bagaimana jika ada orang yang mengucapkan salam secara disingkat di grup WhatsApp (WA) atau SMS? Wajibkah kita menjawab salam tersebut?

Imam an-Nawawi dalam al-Adzkar an-Nawawi menyebutkan bahwa orang yang masih mendapatkan keutamaan atau menggugurkan kewajiban saat menjawab salam adalah minimal suaranya terdengar oleh muslim lain walaupun lirih. Namun jika suaranya tidak sampai terdengar oleh orang lain, maka kewajiban menjawab salam tersebut masih ada.

“Salam yang paling sedikit, yang menjadikan seorang muslim mendapatkan keutamaan dan kesunahan mengucapkan salam adalah dengan mengeraskan suaranya sekiranya muslim lain (yang diberi salam) dapat mendengarnya. Jika muslim yang lain tidak dapat mendengarnya maka salam tersebut tidak bisa diketegorikan sebagai salam (yang disunnahkan), dan tidak wajib menjawab salam tersebut. Sedangkan menjawab salam yang minimalis, yang menjadikan seseorang (yang diberikan salam) gugur kewajibannya untuk menjawab salam adalah dengan mengeraskan suaranya sekiranya muslim lain mendengar. Jika tidak mendengar, maka kewjiban menjawab salam tersebut tidak gugur. Hal ini sebagaimana pendapat al-Mutawalli dan ulama lain.”

Dalam konteks WA atau SMS yang berupa teks, maka tetap diwajibkan untuk menjawab teks yang sepadan. JIka orang yang memberikan salam hanya sebatas singkatan saja, seperti “Ass wr. wb” dan lain sebagainya, maka, sesuai dengan pendapat Imam an-Nawawi di atas, kita tidak wajib menjawab salam di WA tersebut. Karena salam yang berupa singkatan itu, tidak bernilai doa, sehingga nilai salamnya menjadi hilang.

Jadi makna salam yang terakhir ini berarti kita mendoakan agar saudara kita mendapatkan keselamatan dari berbagai macam kerancuan dalam agama, selamat dari syahwat yang menggelora, juga agar diberi kesehatan, terhindar dari berbagai macam penyakit, dan bentuk keselamatan lainnya. Dengan demikian, salam adalah bentuk doa yang sangat bagus sekali.

Editor: H. D. Aditya



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA