Melaksanakan Salat Tahiyyatul Masjid di Waktu Larangan

Ragam

Senin, 16 September 2019 | 01:08 WIB

190915175140-melak.jpg

dokumen galamedianews.com

PARA ulama berbeda pendapat tentang bagaimanakah status hukum melaksanakan salat tahiyyatul masjid di waktu terlarangnya salat. Misalnya, seseorang masuk masjid setelah salat subuh atau setelah salat ashar. Terdapat dua pendapat ulama dalam masalah ini.

Pertama, tetap disyariatkan melaksanakan salat tahiyyatul masjid di waktu terlarang. Inilah pendapat dalam madzhab Syafi’iyyah, salah satu riwayat dalam madzhab Hanbali, dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan muridnya, Ibnul Qayyim rahimahumallah.

Kedua, tidak disyariatkan melaksanakannya di waktu terlarangnya salat. Inilah yang dipilih oleh madzhab Hanafiyyah, Malikiyyah, dan salah satu riwayat dalam madzhab Hanbali.

Sebab perbedaan pendapat tersebut adalah karena pertentangan antara dua makna umum yang terdapat dalam hadits-hadits yang berkaitan dengan masalah ini.

Abu Qatadah As-Sulami radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka salatlah dua raka’at sebelum duduk.” (HR. Bukhari no. 444 dan Muslim no. 714).

Dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita untuk melaksanakan salat tahiyyatul masjid setiap kali memasuki masjid, tanpa ada rincian. Sehingga dipahami secara umum, yaitu baik memasuki masjid di waktu terlarangnya salat, ataukah tidak.

Makna umum dalam hadits di atas, tampaknya bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, “Tidak ada salat setelah subuh hingga matahari meninggi dan tidak ada salat setelah ‘ashar hingga matahari menghilang.” (HR. Bukhari no. 586 dan Muslim no. 827).

Hadits ke dua di atas juga mengandung makna umum, yaitu larangan untuk melaksanakan salat apa saja, termasuk di dalamnya yaitu salat tahiyyatul masjid, di dua waktu terlarangnya salat tersebut (setelah subuh dan setelah ‘ashar).

Ulama yang berpendapat bahwa salat tahiyyatul masjid tetap disyariatkan, mereka mengatakan bahwa salat tahiyyatul masjid itu dikecualikan dari makna umum larangan hadits ke dua di atas. Oleh karena itu, jika seseorang masuk masjid setelah subuh atau ‘ashar, tetap disyariatkan melaksanakan salat tahiyyatul masjid.

Pendapat pertama di atas didukung oleh dalil-dalil lain yang menunjukkan bahwa hadits ke dua di atas juga banyak mendapatkan pengecualian.

Pengecualian pertama, yaitu melaksanakan salat qadha’ di waktu terlarang. Misalnya, seseorang lupa salat dzuhur, dan baru ingat setelah ‘ashar. Maka tetap disyariatkan untuk meng-qadha’ salat dzuhur yang terlewat tersebut setelah salat ‘ashar. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa lupa suatu salat, maka hendaklah dia melaksanakannya ketika dia ingat. Karena tidak ada tebusannya kecuali itu. Allah berfirman, “(Dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku).” (QS. Thaahaa: 14)” (HR. Bukhari no. 597 dan Muslim no. 684)

Pengecualian kedua, yaitu mengulangi salat jama’ah di waktu terlarang. Diriwayatkan dari sahabat Yazid bin Aswad radhiyallahu ‘anhu, beliau menceritakan, “Aku pernah berhaji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku salat subuh bersamanya di masjid Al-Khaif. Ketika beliau selesai melakasanakan salat subuh dan berpaling, tiba-tiba ada dua orang laki-laki dari kaum lain yang tidak ikut salat berjamaah bersama beliau.

Maka beliau pun bersabda, “Bawalah dua orang itu kemari!”

Maka mereka pun dibawa ke hadapan Nabi sedang urat mereka bergetar. Beliau bersabda, “Apa yang menghalangi kalian untuk salat bersama kami?”

Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami telah salat (subuh) di tempat kami.”

Beliau bersabda, “Janganlah kalian lakukan. Jika kalian telah melaksanakannya di tempat kalian, lalu kalian datang ke masjid yang melaksanakan salat berjamaah, maka salatlah bersama mereka, karena hal itu akan menjadi pahala sunnah bagi kalian berdua.” (HR. Abu Dawud no. 575, Tirmidzi no. 219, dan lain-lain, hadits shahih).

Hadits ini tegas menunjukkan bolehnya mengulang jamaah bagi orang-orang yang datang ke masjid setelah mendirikan salat subuh dan mendapati di masjid tersebut sedang dilaksanakan salat jamaah subuh. Padahal, pada asalnya, waktu tersebut adalah waktu terlarangnya salat untuk orang tersebut (karena sebelumnya sudah salat subuh).

Pengecualian ke tiga, yaitu salat dua raka’at setelah thawaf. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari sahabat Jubair bin Muth’im radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Bani Abdi Manaf, janganlah kalian mencegah seorang pun yang thawaf di ka’bah ini, dan siapa pun yang salat kapan pun waktunya, baik waktu siang dan malam yang dia kehendaki.” (HR. Tirmidzi no. 868, An-Nasa’i no. 585, hadits shahih).

Hadits-hadits di atas memberikan pengecualian bagi hadits larangan salat di waktu-waktu tertentu, sebagaimana dalam riwayat Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu. Sedangkan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk salat tahiyyatul masjid bagi siapa pun yang masuk masjid di waktu kapan pun, tidak mendapatkan pengecualian. Dan kaidah dalam ilmu ushul fiqh pun mengatakan bahwa hadits (dalil) umum yang tidak mendapatkan pengecualian itu lebih didahulukan daripada hadits atau dalil umum yang telah mendapatkan pengecualian.

Sehingga larangan salat di waktu-waktu tertentu tersebut dimaknai sebagai larangan untuk mendirikan salat sunnah mutlak. Yang dimaksud dengan salat sunnah mutlak adalah seseorang melaksanakan salat sunnah tanpa sebab tertentu, semata-mata ingin salat. Adapun salat sunnah karena sebab tertentu (disebut salat dzawaatul asbaab), seperti salat tahiyyatul masjid (disebabkan karena masuk masjid), salat sunnah thawaf (disebabkan karena selesai thawaf), maka tidak termasuk dalam larangan di atas.

Sebagai kesimpulan, pendapat yang lebih tepat dalam masalah ini adalah pendapat pertama, yaitu tetap disyariatkan melaksanakan salat tahiyyatul masjid di waktu terlarang.

Wallahu a’lam.

Editor: H. D. Aditya



Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA