Malas Itu Termasuk Maksiat?

Ragam

Sabtu, 14 September 2019 | 04:01 WIB

190913215614-malas.jpg

4ever.eu

FUTUR adalah kemalasan dan berleha-leha setelah semangat dan giat. Tidak diragukan lagi, hal itu merupakan penyakit pada diri seseorang pada suatu waktu. Baik dalam masalah agama atau urusan dunia. Hal itu merupakan tabiat yang Allah telah ciptakan.

Barangsiapa yang ketika malas sampai meninggalkan kewajiban dan jatuh ke sesuatu yang diharamkan, maka dia dalam bahaya besar. Maka kemalasannya menjadi suatu kemaksiatan, harus dikhawatirkan sampai pada suul khatimah.

Sedangkan jika malas melaksanakan keutaman dan sunnah, tapi dia tetap menjaga kewajiban, menjauhi dosa besar dan sesuatu yang diharamkan, hanya saja waktu melakukannya (kebaikan) berkurang seperti dalam mencari ilmu, qiyamul lail dan membaca Alquran, maka kemalasannya seperti itu diharapkan hanya sesaat saja. Namun ini pun memerlukan sedikit cara yang bijaksana dalam mengobatinya.

Hal itu yang dimaksudkan dalam riwayat Abdullah bin Amr radhiallahu’anhuma, dia berkata, “Diceritakan kepada Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam tentang orang-orang yang sangat semangat sekali dalam beribadah, maka beliau berkata, "Itulah puncak semangat (pengamalan) Islam dan kesungguhannya. Setiap setiap semangat akan mencapai puncaknya, dan setiap puncaknya akan ada masa kemalasan. Barangsiapa yang waktu malasnya dalam batas wajar dan tetap dalam sunnah, maka dia telah menempuh jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang kemalasannya melakukan kemaksiatan, maka itulah yang celaka.’ (HR. Ahmad, 2/165. Dihasankah oleh Al-Albany dalam kitab As-Silsilah As-Shahihah, no. 2850).

Ungkapan ‘Faliammin ma huwa’ adalah bisa kembali di waktu kemalasannya kepada asal yang agung yakni (sesuai dengan) sunnah. Atau ia dalam kondisi di jalan yang lurus selagi masih berpegang teguh dengan Al-Kitab dan Sunnah. Dalam sebagian redaksi lain dikatakan, ‘Faqad aflaha (sungguh dia telah beruntung)’.

Abu Abdurrahman As-Sulami rahimahullah berkata, “Di antara aibnya –jiwa – adalah kemalasan yang menimpanya dalam hak-hak yang sebelumnya dilakukannya. Yang lebih aib lagi adalah orang yang tidak memperhatikan kekurangan dan kemalasannya. Yang lebih aib lagi, orang yang tidak tahu kemalasan dan kekurangannya. Kemudian yang lebih aib lagi, adalah orang yang menyangka bahwa dia semangat padahal dalam kondisi malas dan kurang. Ini adalah sikap kurang bersyukur ketika mendapatkan taufiq dalam melaksanakan hak-hak. Karena kurang bersyukur, maka semangat dialihkan menjadi kurang beremangat. Dia menutupi kekuarangannya dan menyangka baik keburukannya."

Allah Ta’ala berfirman, "Maka Apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu Dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan) ?" (QS. Fathir: 8).

Seorang muslim yang menunaikan hak-hak Allah Ta’ala, menjauhi larangan-laranganNya, dia dalam kondisi kebaikan insyaallah. Kalau malaikat pencabut nyawa datang sementara dia dalam kondisi seperti itu, maka kabar gembira dengan mendapatkan keutamaan dan rahmat Allah. Cukuplah dalam hatinya ada kalimat tauhid dengan merealisasikan dalam perbuatannya.

Adapun tentang riwayat dari Syaqiq bin Abdullah rahimahullah yang berkata, "Abdullah bin Mas’ud menderita sakit, maka kami menjenguknya. Kemudian dia menangis dan mengeluh sambil berkata, ‘Sesungguhnya saya tidak menangis karena sakit. Karena saya mendengar Rasulullah sallallahu’alaih wa sallam bersabda: ‘Sakit itu sebagai penebus dosa.’ Sesunggunya saya menangis karena saya (sakit) dalam kondisi malas, bukan dalam kondisi semangat. Karena seorang hamba ditulis pahalanya ketika sakit, sama pahalanya ketika dia beramal saat sehat, namun kali ini terhalang oleh sakit.’ Dinukil oleh Ibnu Atsir dalam kitab ‘Jamiul Usul’ karangan Razin.

Riwayat tersebut tidak dapat ditafsirkan bahwa kalau dia meninggal dunia dalam kondisi malas artinya meninggal dalam kondisi suul khatimah. Cuma saja dia ingin berada dalam kondisi sempurna dan berupaya agar selalu dalam kondisi terbaik. Akan tetapi tidak setiap muslim dimudahkan meninggal dunia dalam kondisi yang dia inginkan. Yang penting adalah Allah telah memberikan kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mendapatkan pahala dan kebaikan.

Allah Ta'ala berfirman, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan salat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah: 277).

Dan firman Allah lainnya, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-Ahqaf: 13-14)

Ibnu Qayim rahimahullah berkata: “Pergantian kondisi bagi pelaku (amalan) adalah merupakan suatu kelaziman. Barangsiapa yang waktu malasnya itu ke lebih dekat pada kebenaran, tidak keluar dari kewajiban, dan tidak masuk dalam ranah yang diharamkan, ada harapan dia cepat kembali kepada kebaikan sebagaimana yang lalu."

Umar bin Khattab radhiallahu’anhu berkata, "Sesungguh dalam hati ini ada kondisi menerima dan menolak. Kalau sedang menerima maka manfaatkan dengan menunaikan yang sunnah-sunnah. Kalau sedang menolak, maka konsistenlah dengan kewajiban-kewajiban."

Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata, “Menyia-nyiakan waktu yang benar menggiring anda pada lembah kekurangan. Jika seseorang menyia-nyiakan waktunya, maka dia tidak sedang berdiri di tempantnya, tapi sedang turun ke derajat yang lebih rendah. Kalau tidak ke depan, maka dia pasti ke belakang. Seorang hamba pasti berjalan tidak berhenti. Mungkin ke atas, atau ke bawah, ke depan atau ke belakang. Tidak ada dalam tabiat maupun dalam syariat sesuatu yang sifatnya diam. Seluruhnya tak lain hanyalah fase-fase yang berjalan cepat. Baik ke surga atau ke neraka. Maka ada yang cepat ada yang lambat. Di depan dan di belakang. Tidak ada yang berhenti di jalan. Akan tetapi berbeda kecepatan perjalanannya, ada yang cepat ada yang lambat.

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Saqar itu adalah salah satu bencana yang amat besar, sebagai ancaman bagi manusia. (Yaitu) bagi siapa di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur." (QS. Al-Mudatsir: 35-37)

Kesimpulannya, jika hamba ini mendapatkan pertolongan dari Allah Ta’ala, Dia akan menyelamatkannya dari tangan musuhnya agar terlepas darinya. Tapi kalau tidak, maka dia akan terus ke belakang sampai meninggal dunia. Berjalan ke belakang serta memalingkan punggungnya. Maka tiada kekuatan melainkan dari Allah. Dan yang terjaga adalah orang yang dijaga oleh Allah.” (Madarijus Salikin, 1/ 267-268. Silahkan lihat soal jawab no. 47565, 20059).

Wallahu’alam.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA