Tiga Perbedaan Hukum Membaca Al Fatihah untuk Makmum

Ragam

Jumat, 13 September 2019 | 05:01 WIB

190913001214-tiga-.jpeg

dokumen galamedianews.com

TERJADI perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai apakah makmum wajib membaca Al Fatihah di belakang imam ataukah tidak. Sehingga hal tersebut (tentang masalah makmum membaca Al Fatihah ataukah tidak) masuklah ranah khilafiyah yang masih diperbolehkan. Tidak menjadi masalah untuk memilih salah satu di antaranya yang menurut kita adalah pendapat yang paling kuat.

Adapun perbedaan pendapat yang ada mengenai hal tersebut adalah :

1. Makmum Tetap Wajib Membaca Al Fatihah Di Belakang Imam Entah Imam Membaca Jahr (keras) atau Sirr (pelan) Saat Membaca Al Fatihah.

Dari ‘Ubadah bin Ash Shoomit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada salat bagi orang yang tidak membaca Al Fatihah”.(HR. Bukhari no. 756 dan Muslim no. 394).

Dari Ubadah bin Shomit radhiallahu anhu berkata, “Dahulu kami salat di belakang Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam dalam salat fajar. Maka Rasulullah sallalalhu alaihi wa sallam membacanya sehingga berat bagi beliau (ada) bacaan (lain). Ketika selesai, beliau bersabda, “Kayaknya anda semua membaca di belakang imam. Kami menjawab, “Ya wahai Rasulullah. Beliau bersabda, “Jangan lakukan kecuali Fatihatul Kitab (surat Al-Fatihah) karena tidak ada salat bagi orang yang tidak membacanya.” (Abu Dawud no. 823).

Dari Abu Hurairah dia berkata bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang melaksanakan salat dan tidak membaca Al Fatihah di dalamnya, maka salatnya itu kurang.” Perkataan ini diulang sampai tiga kali.(HR. Muslim no. 395).

Dali dari Abu Hurairah juga bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mengerjakan salat apa saja yang dia tidak membaca Al-Fatihah di dalamnya maka salatnya itu cacat, tidak sempurna.” (HR. Ibnu Majah 693).

2. Makmum Tidak Membaca Apa-Apa di Belakang Imam.

Hadits dari Abu Hurairah, “Aku mendengar Abu Hurairah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam salat bersama para sahabatnya yang kami mengira bahwa itu adalah salat subuh. Beliau bersabda: “Apakah salah seorang dari kalian ada yang membaca surat (di belakangku)?” Seorang laki-laki menjawab, “Saya. ” Beliau lalu bersabda: “Kenapa aku ditandingi dalam membaca Alqur`an?“ (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, An Nasai dan Ibnu Majah, juga yang lainnya).

Dalil lainnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang salat di belakang imam, bacaan imam menjadi bacaan untuknya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah no. 850).

Akan tetapi sebagian ulama mengatakan ada kelemahan di dalam sanad hadits ini.

Dalil pendukung lainnya adalah hadits-hadits yang menceritakan bahwa jika seorang makmum mendapati ruku’nya imam maka dia dihitung mendapatkan rakaat imam. Salah satunya adalah dalil dari Ibnu Mas’ud, “Barangsiapa yang mendapati rukuk (imam) sungguh ia mendapati (raka’at tersebut)”. (Diriwayatkan oleh Ibnul-Mundzir dalam Al-Ausath no. 2023-shahih).

Jika membaca Al Fatihah adalah wajib bagi makmum, tentunya pada saat makmum hanya mendapati ruku’ bersama imam dalam sebuah rakaat salat, maka dia tidak dihitung mendapatkan rakaat tersebut. Dari dalil tersebut bisa juga diambil kesimpulan bahwa makmum tidak perlu membaca Al Fatihah saat di belakang imam.

3. Jika Imam Membaca Al Fatihah Jahr (keras) maka Makmum Harus Diam Tidak Perlu Membaca Al Fatihah. Dan Jika Imam Membaca Sirr (pelan) Maka makmum Wajib Membaca Al Fatihah.

Dalilnya adalah firman Allah Ta’ala, “Dan apabila dibacakan Alquran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al A’rof: 204)

Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak diperbolehkan membaca apapun pada saat Imam membaca Al Fatihah dan surat Alquran yang lainnya.

Dalil lainnya lagi adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti. Jika imam bertakbir, maka bertakbirlah. Jika imam ruku’, maka ruku’lah. Jika imam bangkit dari ruku’, maka bangkitlah. Jika imam mengucapkan ‘sami’allahu liman hamidah’, ucapkanlah ‘robbana wa lakal hamd’. Jika imam sujud, sujudlah.”(HR. Bukhari no. 733 dan Muslim no. 411).

Dalam riwayat Muslim pada hadits Abu Musa terdapat tambahan, “Jika imam membaca (Al Fatihah), maka diamlah.”

Dalil lainnya adalah diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah radhiallahu’anhuma berkata, “Kami dahulu membaca Fatihatul Kitab (Al-Fatihah) dan surat (Alquran) pada salat Zuhur dan Ashar di belakang Imam pada dua rakaat pertama. Sedangkan pada dau rakaat terakhir, (membaca) Fatihatul Kitab (saja).” (HR. Ibnu Majah).

Wallahu A’lam.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA