Mengucapkan Bacaan Salat dalam Hati Tak Sah?

Ragam

Kamis, 12 September 2019 | 04:05 WIB

190911234150-mengu.jpg

dokumen galamedianews.com

ALLAH Maha Mengetahui apa yang ada dalam hati kita, jadi cukuplah kita membaca bacaan salat dalam hati saja. Kata-kata ini sekilas nampak benar dan logis. Namun benarkah demikian?

Realitanya beragama tidak sesimpel logika tersebut. Sayyidina ‘Ali pernah bertutur, “Seandainya agama itu dengan logika semata, maka tentu bagian bawah khuf (semacam sepatu) lebih layak untuk diusap daripada bagian atasnya. Namun sungguh aku telah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengusap bagian atas khufnya” (mengusap bagian atas khuf diperbolehkan sebagai ganti mencuci kaki dalam wudu, dalam keadaan tertentu).

Dari perkataan Sayyidina ‘Ali, jelaslah bahwa beragama tidak hanya berdasarkan logika semata, melainkan ada tuntunan yang jelas, yaitu Alquran dan As-Sunnah (Hadis). Upaya menggali hukum (ijtihad) dari Alquran dan hadis pun tidak bisa seenaknya. Ada kaidah-kaidah yang baku, juga ada kriteria yang harus dipenuhi untuk menjadi seorang penggali hukum (mujtahid). Sehingga kita sebagai orang yang tidak memiliki kompetensi untuk berijtihad, cukup mengikuti produk hukum yang telah dilahirkan oleh para mujtahid.

Mengenai permasalahan bacaan salat dalam hati, Al-Imam An-Nawawi menjelaskan dalam kitab Al-Adzkar sebagai berikut, "Ketahuilah bahwa zikir yang disyariatkan dalam salat dan selainnya, baik yang wajib ataupun sunnah tidak dihitung dan tidak dianggap kecuali diucapkan, sekiranya ia dapat mendengar yang diucapkannya sendiri apabila pendengarannya sehat dan dalam keadaan normal (tidak sedang bising dan sebagainya)."

Jika kita telaah berbagai literatur fiqih, kita akan menemui kebanyakan fuqoha’ (para ahli fiqih) membagi rukun salat menjadi dua bagian, yaitu rukun fi’li (pekerjaan badan) dan rukun qauli (ucapan). Sementara mengenai niat, sependek pengetahuan penulis ada yang mengkategorikannya sebagai rukun fi’li, dengan memperhitungkannya sebagai pekerjaan hati. Ada pula yang memberikannya kategori khusus di luar rukun fi’li dan qauli, yakni rukun qalbi (hati). Dari semua rukun salat, hanya niat yang tempatnya di hati.

Pendapat ulama ini di antaranya bersandar pada penggalan firman Allah dalam Alquran. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, “Dan janganlah engkau (Muhammad) mengeraskan suaramu dalam salat dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. Al-Isra’ : 110).

Juga sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, “Tidak sah salat bagi orang yang tidak membaca al-Fatihah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dari ayat Alquran di atas, dapat kita pahami bahwa Rasulullah diperintahkan untuk bersuara sedang, tidak lantang dan tidak pelan. Sementara di dalam hadis, dengan gamblang dikatakan bahwa salat tanpa membaca Al-Fatihah tidaklah sah. Yang perlu digarisbawahi, bahwa bacaan Alquran itu harus diucapkan.

DR. Sa’di Abu Habib dalam kitabnya Al-Qamus Al-Fiqhiy menjelaskan makna dari qiroah secara umum, kemudian secara spesifik memberi makna membaca ayat Alquran sebagai berikut :

Membaca buku/kitab : – mengikuti/mengobservasi kalimat demi kalimatnya dengan melihat atau mengucapkanya atau mengikuti kalimat demi kalimatnya tanpa mengucapkannya.

Membaca ayat Alquran : Mengucapkan lafal-lafalnya baik dengan melihat ataupun dengan menghafal.

Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwasanya seseorang hanya bisa dikatakan membaca ayat Alquran jika ia mengucapkannya. Maka membaca al-Fatihah dalam salat diharuskan dibaca dengan suara, tidak cukup dalam hati. Hal ini berlaku juga bagi bacaan-bacaan yang merupakan rukun salat seperti takbiratul ihram. Begitu pun bacaan-bacaan sunnah, perlu untuk diucapkan jika kita mengharap pahala sunnah dari bacaan tersebut.

Kendati pun Allah Maha mengetahui apa yang ada dalam hati, namun dalam ibadah ada panduan khusus yang tidak boleh kita abaikan.

Wallahu A’lam bisshowab.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA