Rahasia Hati Manusia yang Disinggung dalam Alquran

Ragam

Kamis, 12 September 2019 | 05:02 WIB

190911223940-rahas.jpg

Net

HATI adalah organ paling inti bagi kehidupan manusia. Secara fisiologis, hati memiliki fungsi menyalurkan oksigen ke seluruh bagian tubuh melalui darah. Tetapi ia juga tempat menyimpan segala bentuk perasaan manusia yang pernah dialaminya. Hati akan berdegup kencang ketika kita bertemu dengan orang yang telah lama kita rindukan, ia juga akan merasakan kesedihan yang mendalam ketika kita mendengar atau melihat berita buruk.

Hati pada kenyataannya merespons rangsangan fisik yang diterima oleh manusia dalam bentuk emosi. Situs Scienceandnonduality merilis hasil riset berkaitan dengan hubungan antara rangsangan fisik dan hati manusia yang menimbulkan emosi sebagai bentuk respons. Banyak peneliti beranggapan bahwa suatu saat seseorang akan mampu mengendalikan emosi mereka dengan mengatur ritme detak jantung atau hati mereka.

Hati dalam Islam tidak hanya dinalar sebagai organ fisik namun juga non-fisik. Terdapat ilustrasi menarik yang dipaparkan oleh al-Hakim al-Tirmidzi (320 H) dalam karyanya Bayan al-Farq Baina al-Shadr wa al-Qalb wa al-Fuad wa al-Lubb berkaitan dengan hati manusia. Diskursus yang dibangun oleh al-Tirmidzi sendiri didasarkan kepada Alquran dan Hadis.

Menurutnya, hati manusia ibarat pelita, ia memiliki lapisan yang setiap bagiannya memiliki perannya tersendiri. Pelita memiliki lapisan kaca di bagian terluarnya, di dalamnya terdapat nyala api, tempat sumbu dan sumbu. Cahaya dipancarkan oleh sumbu yang muncul dari dalam dan sumbu tersebut tidak akan bersinar tanpa adanya minyak. Jika salah satu saja dari beberapa komponen tersebut tidak bekerja dengan baik, maka sinar tersebut akan redup.

Bagian terluar dari hati manusia adalah shadr, lapisan kedua adalah qalb, ketiga adalah fuad dan lapisan terdalam adalah lubb. Shadr adalah bagian di mana rasa dengki, hasud, syahwat, angan-angan, dan keinginan-keinginan dan rasa was-was manusia bersemayam.

Hal itu sebagaimana dalam beberapa firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang menyebutkan, setiap rasa was-was dan rasa sempit bersemayam di dalam shadr bukan qalb, sebagaimana berikut, “Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam shadr manusia.” (QS. Annas: 5)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala pun berfirman, “Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu (shadr) karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir), dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Ala’raf: 2).

Qalb yang berada di lapisan kedua memiliki peran sama seperti sumbu, dari sanalah muncul nyala api. Di tempat ini bersemayam cahaya keimanan, kekhusyukan, kecintaan, keridaan, keyakinan, rasa takut kepada Allah, rasa berharap kepada Allah, sabar, dan rasa menerima dengan lapang dada.

Qalb juga tempat bersemayamnya pengetahuan, ia ibarat mata air dan shadr sebagai kolam yang menghimpun air tersebut. Qalb mengeluarkan pengetahuan dan shadr yang menghimpun dan menyalurkannya. Qalb-lah yang menimbulkan keyakinan kepada sesuatu, sumber pengetahuan dan keimanan.

Salah satu ayat Alquran terang sekali memunculkan kata qalb untuk menyebut keimanan, yakni, “..tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu (qalb) serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. Ahujurat: 7).

Lapisan selanjutnya menurut al-Hakim al-Tirmidzi adalah fuad, ia ibarat sumbu yang ada di dalam pelita. Berbeda dengan qalb yang merupakan tempat sumbu diletakkan. Ini adalah tempat dimana ma’rifat bersemayam, atau pengetahuan tentang Allah berada.

Lapisan yang terakhir adalah adalah lubb. Bagian ini dalam struktur pelita adalah nyala api itu sendiri. Lubb mengandung cahaya tauhid atau mengesakan Allah. Hal ini tidak akan bercokol dalam lubb manusia tanpa adanya hidayah Allah. Sekeras apapun seseorang manusia menggunakan akalnya, mereka tidak akan mampu menerima tauhid tanpa adanya hidayah Allah. Berbeda dengan fuad, lubb adalah tempat ma’rifat, di mana seseorang mengenal Tuhannya. Mula-mula Allah menganugerahkan kepada hamba-Nya banyak sekali kenikmatan. Nah, dengan lubb mereka manusia akhirnya mengenali Tuhannya, mengenal kebaikan Tuhannya.

Di dalam Alquran, Allah menyebut-nyebut Ulil Albab (orang yang memiliki lubb) sebagai simbol orang yang menerima keimanan, orang yang memalingkan diri dari hawa nafsu dan dunia. Ia juga merupakan simbol kehormatan tertinggi seorang hamba.

Di dalam Alquran Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, “Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah (Ulul Albab) yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Albaqarah: 269).

Perlu digarisbawahi di sini bahwa setiap komponen di dalam hati akan bekerja dengan baik jika seluruh bagiannya berfungsi dengan baik juga, maka lubb seseorang tidak bekerja dengan baik jika shadr manusia masih banyak menghimpun was-was dan kegundahan duniawi lainnya karena hal itu akan menutupi segala kebenaran di dalam lubb.

Wallahu a’lam.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA