Cukup Rogoh Kocek Rp 518 Juta untuk Kloning, Pemilik Kucing di Cina Bisa Hidupkan Kembali Peliharaan

Ragam

Kamis, 22 Agustus 2019 | 14:25 WIB

190822142338-cukup.jpg

dailymail

Garlic lahir dari "ibu angkat".

Pemilik hewan peliharaan di Negeri Tirai Bambu sepertinya tak akan lagi merasa kehilangan setelah binatang kesayangannya mati. Setidaknya demikian harapan yang muncul setelah sekelompok ilmuwan mengklaim berhasil mengkloning kucing jantan yang kini dinamai Garlic. Dikutip dari DailyMail kemarin, Garlic lahir di laboratorium Sinogene Biotechnology Company (SBC) di Beijing.

Laporan media pemerintah, kucing kloning ini lahir 66 hari setelah embrio ditanam di rahim seekor kucing betina. Artinya saat hewan peliharaan mati pemilik bisa mendapatkan ganti  yang identik. Pihak Sinogene bahkan berharap mereka dapat mengkloning hewan dengan karakter sama hingga memori yang juga serupa.

Garlic dan ibu angkat yang melahirkannya.

“Kucingku mati karena gangguan saluran kencing. Aku mengkloningnya karena dia sangat istimewa dan tak mungkin tergantikan,” ujar pemilik Garlic,  Huang Yu kepada kanal media setempat. Meski kloning hewan sejauh ini dianggap berterima tetapi sejumlah pakar khawatir rekayasa genetik yang sama mengarah pada janin manusia.

Keberhasilan Garlic juga membuat Sinogene Biotechnology Company bisa memberi penawaran jasa kloning dengan biaya perkiraan 250,000 yuan atau sekitar Rp 518 juta. Sedangkan untuk kloning anjing biaya yang dikeluarkan lebih tinggi yaitu 380,000 yuan atau Rp 760 juta. Mereka juga menyebut beberapa peminat sudah mulai menghubungi.

Untuk Garlic, meski tampilan fisiknya tak berbeda dari “aslinya” tetapi diakui memiliki sifat yang berbeda. Kepala ilmuwan Sinogene dan periset Chinese Academy of Sciences, Lai Liangxue kepada Global Times mengatakan, usia Garlic diperkirakan sama dengan kucing normal.

Memicu kontroversi lanjutan.

Lebih jauh Sinogene berharap di masa mendatang penggunaan teknologi kecerdasan artifisial berbasis komputer seperti yang digagas Elon Musk dengan Neuralink bisa diterapkan. Sederhananya memori dari kehidupan sebelumnya bisa ditransfer pada objek kloning. 

Keterangan dari CNBData hampir dua pertiga dari 73 juta pemilik hewan peliharaan di Cina sejauh ini memilih anjing dan kucing. Untuk mengkloning keduanya embrio dibuat dengan menggunakan nukleus DNA hewan yang dikloning dan cangkang sel telur yang kosong. Keduanya kemudian ditanam dalam rahim ibu kucing. Proses dari ekstraksi sel hingga kelahiran sekitar dua bulan. 

Pihak Sinogene sebelumnya menyatakan niat melakukan kloning untuk menyelamatkan hewan yang terancam punah. Namun praktiknya kemungkinan menyertakan eksperimen kontroversial “lintas-species”. Praktik yang hingga kini belum pernah  sukses dilakukan dan dianggap tidak etis oleh banyak kalangan . Percobaan pertama dilakukan tim ilmuwan Cina dengan objek panda.

Beda karakter dari sel induk.

Mereka menyuntikkan DNA panda  ke dalam cangkang sel telur kucing. Chen Dayuan, profesor dari Institute of Zoology of the Chinese Academy of Sciences menyinggung langkah ini dalam konferensi di hadapan media. Dan kucing dipilih karena kedua spesies bayi hewan jinak ini memiliki ukuran sama dan berbagi masa kehamilan dua hingga tiga bulan.

"Karena terbatasnya jumlah spesies yang terancam punah, seperti panda raksasa, ilmuwan tidak dapat secara langsung melakukan percobaan kloning pada mereka kecuali kita dapat menemukan penggantinya," tambah Lai.

Apa itu kloning?

Kloning dilakukan dengan beberapa proses berbeda yang dapat digunakan untuk menghasilkan “salinan” tanaman atau hewan yang identik secara genetis. Sederhananya kloning dilakukan  dengan mengambil DNA suatu organisme dan menyalinnya di tempat lain. Ada tiga jenis kloning buatan: kloning gen, kloning reproduksi dan kloning terapeutik.

Kloning gen menciptakan salinan gen atau bagian DNA. Kloning reproduksi menciptakan salinan seluruh hewan. Kloning terapi menghasilkan sel induk embrionik untuk tes yang bertujuan menciptakan jaringan untuk menggantikan jaringan yang terluka atau sakit.

Untuk klon transfer inti sel somatik (SCNT),  ilmuwan mengambil DNA (lingkaran merah) dari jaringan dan memasukkannya ke dalam sel telur (kuning) dengan menghilangkan DNA mereka (hijau). Ilmuwan kemudian mengaktifkan atau menonaktifkan gen tertentu untuk membantu sel bereplikasi (kanan)

Domba bernama Dolly yang dikloning pada tahun 1996 lahir menggunakan proses kloning reproduksi atau transfer nuklir sel somatik (SCNT). Kloning dilakukan dengan mengambil sel somatik seperti sel kulit dan memindahkan DNA-nya ke sel dalam telur dengan nukleus yang terlebih dulu dihapus.

Metode kloning lain yang lebih baru menggunakan sel induk pluripotent terinduksi (iPSC). iPSC adalah sel kulit atau darah yang telah diprogram ulang kembali ke keadaan seperti embrionik. Ini memungkinkan ilmuwan untuk merancang mereka menjadi semua jenis sel yang dibutuhkan.

Mungkinkan mengkloning manusia?

Saat ini tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan  embrio manusia dapat dikloning. Tahun 1998 ilmuwan Korea Selatan mengklaim berhasil mengkloning embrio manusia, tetapi kemudian mengatakan proses percobaan  terputus ketika klon hanya berupa empat sel.

Tahun 2002, Clonaid, kelompok agama yang meyakini  manusia diciptakan  makhluk luar angkasa mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan kelahiran apa yang diklaim sebagai manusia hasil kloning pertama, yaitu seorang gadis bernama Eve. Namun klaim Clonaid ini secara luas ditolak dan dianggap  sebagai aksi publisitas belaka.

Berikutnya  tahun 2004, Woo-Suk Hwang dan tim dari Universitas Nasional Seoul di Korea Selatan menerbitkan makalah dalam jurnal Science berisi  klaim keberhasilan mereka menciptakan embrio manusia yang dikloning dalam tabung reaksi. Namun tahun 2006 tadi ditarik.

Menurut National Human Genome Research Institute, secara teknis kloning manusia sangat sulit dan ekstrem. "Salah satu alasannya,  dua protein penting untuk pembelahan sel yang dikenal sebagai protein gelendong, letaknya sangat dekat dengan kromosom dalam telur primata," tulisnya.

"Konsekuensinya, pengangkatan inti sel telur untuk memberi ruang bagi inti donor ikut menghilangkan protein gelendong sehingga mengganggu pembelahan sel." Dijelaskan juga pdda mamalia lain seperti kucing, kelinci dan tikus, dua protein gelendong tersebar di seluruh telur.


Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA