Kisah Istri Rasulullah yang Termasuk Wanita Cerdas Sepanjang Masa

Ragam

Kamis, 22 Agustus 2019 | 00:10 WIB

190821225249-kisah.jpg

Net

SEBAGAI seorang Muslim, kita harus mengetahui sejarah dan informasi mengenai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya adalah seorang istri Rasulullah yang bernama Shafiyah Binti Huyay. Salah seorang istri Rasulullah yang terkenal akan kecerdasannya pada saat itu.

Shafiyah Binti Huyay sendiri mendapatkan gelar Ummul Mukminin karena kecerdasannya yang dimiliki beliau serta mampu memilih jalan yang benar dan memilih untuk menjadi seorang Muslim serta istri Rasulullah. Akibat kekalahan perang melawan kaum muslimin yang dipimpin langsung oleh Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kaum Yahudi yang dipimpin oleh ayah kandung Shafiyah, Huyay Bin Akhtab yang merupakan pemimpin suku Yahudi Khaibar dan sang paman, Abu Yasir.

Kisah Shafiyah Binti Huyay ini dikisahkan langsung oleh Ibnu Ishaq dan ditulis ulang ke dalam buku dengan judul “Wanita-wanita Cerdas Sepanjang Masa” oleh Mansur Abdul Hakim, pustaka At-Tibyan, Solo. Karena kecerdasannya tersebut yang menjadikannya sebagai istri baginda Rasulullah yang paling cerdas di masanya.

Namun, siapakah Shafiyah Binti Huyay?

Shafiyah Binti Huyay merupakan satu-satunya istri Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang berasal dari garis keturunan Yahudi dari Bani Nadhir. Silsilahnya sendiri bersambung dari Lawi bin Ya’qub dan Nadhir bin Naham bin Yanhum yang merupakan keturunan dari Nabi Harun As, saudara Nabi Musa As.

Saat Shafiyah masih kecil, beliau dirawat dan diasuh dengan penuh perhatian dari ayahnya dan pamannya Abu Yasir bin Akhtab yang merupakan pemimpin kabilah Bani Nadhir dan terhitung sebagai pembesar Madinah. Sehingga menjadikannya anak perempuan yang paling disayang juga dikasihi.

Huyay Bin Akhtab dan Abu Yasir sangat membenci Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam saat hijrah ke Madinah. Mereka sangat memusuhi Islam dan memilih untuk berperang dengan baginda Rasulullah. Istri Huyay Bin Akhtab atau ibu dari Shafiyah bernama Barra, yang merupakan putri dari Samu’il serta adik Rifa’a bin Samu’il seorang pembesar Bani Quraidza Yahudi.

Sebelum menjadi istri Rasulullah, Shafiyah Binti Huyay sudah pernah menikah dengan dua orang pria Yahudi yakni Sallam bin Mishkam al-Quraidzi. Namun tidak dapat bertahan lama, yang akhirnya diceraikan.

Kemudian beliau menikah kembali dengan Kinana bin al-Rabi bin Abi al-Huqayq, tidak bertahan lama juga karena meninggal dalam peperangan melawan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersama dengan ayah serta pamannya, Abu Yasir.

Shafiyah Binti Huyay sebelum menjadi istri terakhir Rasulullah, merupakan seorang tawanan perang yang kalah di tanah Khaibar. Huyay Bin Akhtab dan sang paman Abu Yasir Bin Akhtab yang merupakan pemimpin dari suku Yahudi Khaibar melanggar perjanjian damai Hudaibiyah tahun ke 7 H, yang kemudian Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam memimpin perang menghadapi kedua orang penting di suku tersebut.

Dalam peperangan yang dipimpin langsung oleh Rasulullah, kaum Muslimin meraih kemenangan dan berhasil merebut tanah Khaibar. Suami ke dua Shafiyyah, Kinana bin al-Rabi tewas dalam pertempuran tersebut. Bersama kemenangan yang diraihnya di Khaibar, kaum Muslimin banyak mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang), berikut dengan benteng Qumus, yang merupakan salah satu dari tujuh benteng Khaibar.

Dari perang tersebutlah, Shafiyah yang merupakan anak keturunan Abu al- Shafiyah menjadi tawanan perang bersama dengan suku Yahudi Khaibar lainnya.

Setelah peperangan yang terjadi dan Shafiyah menjadi tawanan perang, Shafiyah selalu menyimak dakwah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang mengajak tawanan untuk menjadi seorang muslim. Shafiyah Binti Huyay menerima ajakan rasul dengan suka cita. Tak lama Shafiyah masuk kedalam Islam, pada akhirnya ia dibebaskan kemudian dinikahi oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Ibnu Hajar (w. 852 H) menyebutkan berdasarkan riwayat hidup Shafiyah, ia menikah dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam masih berusia 17 tahun. Pernikahan yang terjadi diantara keduanya adalah saat mereka sedang dalam perjalanan dari Khaibar ke Madinah. Kemudian, sesampainya di Madinah, Shafiyah dititipkan oleh Rasulullah di rumah Haritsa bin Nu’man. Kedatangannya disambut hangat oleh perempuan-perempuan Anshar yang mendatangi rumah Haritsa untuk melihat Shafiyah, berikut pula dengan Aisyah mendatangi Shafiyah untuk menyambutnya.

Ada informasi menarik yang diambil dari beberapa sumber sejarah yang menyebutkan, saat Shafiyah tidak lagi menjadi tawanan, ada luka memar di wajah Shafiyah yang dilihat langsung oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian beliau bertanya, ”Apa ini?”.

Dan dijawab oleh Shafiyah, “Ya Rasulullah, aku melihat dalam mimpi bulan dari langit Yastrib mendatangiku dan jatuh ke pangkuanku. Mimpi ini aku ceritakan kepada suamiku Kinanah.

Ia pun berkata kepadaku, “Sukakah engkau menjadi istri seorang raja yang datang dari Yastrib? Setelah itu dia kemudian menampar keras di wajahku.”

Dalam berbagai riwayat yang dituturkan oleh beberapa sumber, Shafiyah merupakan salah satu perempuan yang cantik, berbudi luhur, cerdas, bijaksana dan sabar. Dan dari riwayat juga menyebutkan saat hendak meninggalkan Khaibar, Nabi shallallahu 'alahi wa sallam membantu Shafiyah untuk naik ke atas unta dengan menjadikan pahanya sebagai pijakan kaki untuk Shafiyah, namun sebagai bentuk kesopanan dan pemuliaan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Shafiyah menggunakan lututnya di atas paha Nabi untuk naik menunggangi unta.

Bahkan saat sakit Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam semakin parah, Shafiyah mengatakan kepadanya, “Wahai Rasulullah, aku bersumpah demi Allah, aku lebih menyukai sakitmu dipindahkan ke aku agar engkau tetap sehat.”

Salah satu bentuk kesetiaan dan bentuk rasa kasih sayang seorang istri yang dicontohkan oleh Shafiyah dan patut untuk dicontoh oleh kaum muslimin, utamanya kaum hawa terhadap pasangan mereka masing-masing.

Menurut riwayat Shafiyah Binti Huyay, ada beberapa istri Rasulullah yang menggangu Shafiyah. Hal tersebut terlihat dari isak tangis Shafiyah yang mengundang tanya dalam benak Rasul. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya alasan di balik tangisnya.

Shafiyah pun menjawab, “Dua dari istri Rasul membuatku tersinggung dengan pembicaraan mereka. Mereka mengatakan, Kita lebih unggul dari Shafiyah karena kita adalah puteri dari paman-paman Nabi dan kita adalah istri-istri Nabi.”

Namun dapat diredakan oleh Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam yang berkata kepada Shafiyah, “Mengapa engkau tidak berkata, ayahmu adalah Harun, pamanmu adalah Musa dan suamimu adalah Muhammad?”.

Setelah Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam wafat, Umar bin Khattab salah seorang sahabat Rasul memberikan untuknya 6.000 dirham setiap tahunnya. Namun pada tahun 35 H, saat Khalifah Utsman bin Affan mendapatkan pemboikotan oleh para pemrotes, Shafiyah Binti Huyay yang mengirimkan makanan dan air ke rumah Khalifah Utsman sebagai bentuk rasa hormat terhadap salah satu sahabat sang suami, yakni Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Shafiyah wafat di Madinah pada tahun 50 H, yang diambil dari riwayat termasyhur. Dan di riwayat lainnya menyebutkan ia wafat pada tahun 36 H dan 52 H. Saat Shafiyah Binti Huyay wafat, salat jenazahnya diimami oleh Sa’id bin ‘Ash dan dimakamkan di Pemakaman Baqi. Sebagian menyebutkan, bahwa ia merupakan istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang terakhir wafat.

Wallahu a’lam.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA