Jika ke Magetan, Mampirlah ke Toko Aksesoris Kulit Sepeda Kuno

Ragam

Rabu, 21 Agustus 2019 | 14:42 WIB

190821144445-jika-.gif

Eddie Karsito

Kabupaten Magetan Jawa Timur, tidak hanya dikenal wisata alamnya, dengan wisata andalannya; Telaga Sarangan dan Telaga Wahyu yang terletak di lereng Gunung Lawu. Tetapi kota sejuk ini juga terkenal industri kerajinannya, terutama dari bahan dasar kulit.
 
Sejak lama Kabupaten Magetan dikenal sebagai penghasil kerajinan kulit. Kerajinan Kulit Magetan dikenal memiliki kualitas bagus dan tahan lama. Harganya lebih ekonomis dibanding produk kulit dari daerah lain.

Industri kerajinan kulit di berbagai dearah dan kota, umumnya hanya membuat sepatu, sandal, tas, dompet, jaket kulit, hingga berbagai souvenir atau merchandising lainnya. Namun jika bertandang ke kota Magetan, jangan lupa mampir ke Workshop Aksesoris Kulit Sepeda Kuno milik Sumadi Seng, lokasinya di Kelurahan Candirejo Magetan.

Di tempat ini terhampar banyak aksesoris kelengkapan sepeda, dari mulai saddle on bicyle (tempat duduk sepeda), sabuk, tas dengan berbagai jenis model dan bentuk, serta berbagai aksesoris lainnya berbahan kulit.

Untuk aksesoris sepeda kuno atau sepeda onthel berbahan kulit sejauh ini hanya dihasilkan oleh Sumadi Seng. “Magetan dikenal sudah lama sebagai penghasil kerajinan kulit. Sebagian produksi tidak beda dengan daerah lain. Makanya saya dan keluarga menawarkan produk lain dari yang sudah ada, yaitu aksesoris sepeda onthel,” ujar Sumadi Seng, kepada para wartawan yang bertandang ke lokasi workshopnya, di Kelurahan Candirejo Magetan, Minggu (17/08/2019) lalu.

Usaha yang dilakukan Sumadi ini tentu memberi nilai tambah bagi kota ini. Selain juga membuka kesempatan lapangan kerja baru bagi anak-anak muda di daerah ini. Dibantu dengan 12 karyawan, setiap hari Sumadi memproduksi berbagai jenis aksesoris sepeda, seperti _ saddle,_ tas samping, penutup roda hingga tas setir. Semuanya berbahan kulit.

Usahanya tidak pernah sepi. Pesanan barang datang dari berbagai daerah. Baik dari kota terdekat, seperti Madiun, Ngawi, Ponorogo, hingga  Tulungagung, dan Surabaya. Bahkan pesanan ada yang datang dari Aceh, Medan, Kalimantan dan kota besar lainnya.

“Untuk saddle dalam 5 hari itu ada 10 kodi yang bisa saya produksi. Sedangkan aksesoris lain seperti tas samping bisa samapi 10 biji per hari. Kalau harga satuannya beraneka ragam tergantung aksesorisnya. Mulai dari termurah dijual Rp 15 ribu hingga Rp 275 ribu,” jelas Sumadi.

Menariknya, semua kerajinan kulit karya Sumadi diproduksi secara tradisional. Tidak ada alat-alat super modern. Bahkan tempat produksinya dari dulu tetap begitu saja. Sumadi memanfaatkan bagian rumah berukuran 4x12 dari warisan keluarga. Di tempat ini Sumadi tak lelah terus berkarya.

Sumadi berharap karyanya makin dikenal. Ia ingin melebarkan sayap, dan memasarkan produk-produk karyanya hingga manca negara. Sebab Sumadi meyakini pasarnya ada bila dilihat di bergabagai belahan dunia, khususnya Jepang dan Belanda masyarakatnya gemar menggunakan sepeda. “Rencananya begitu bisa diekspor. Tapi modalnya belum ada,” kata Sumadi

Sumadi berharap Pemerintah Daerah, dalam hal ini Bupati Magetan, Drs. Suprawoto, SH, M.Si, berkenan membantunya. Sebab bupati Suprawoto, dikenal oleh masyarakatnya sangat berempati dan peduli terhadap kesenian dan seni kriya kulit yang menjadi ikon ‘Kota Kaki Gunung’ ini.

Akhir bulan Juli 2019 lalu, Suprawoto, memboyong para seniman dan pengrajin ke Jakarta dalam rangka mengenalkan potensi wisata dan budaya daerah, di acara Anugerah Duta Seni Budaya Jawa Timur, di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Namun sayangnya, karya Sumadi belum ikut ditampilkan di acara yang juga memamerkan berbagai produk karya anak daerah itu.

Untuk mengembangkan usahanya Sumadi perlu dukungan modal. Sumadi mengaku bahwa bisnisnya tak semata berorientasi profit. Melalui seni kerajinan Sumadi ingin Magetan dikenal dunia. “Kebutuhan manusia kan tidak hanya material. Tapi juga spiritual, eksistensi, pengakuan. Saya ingin Magetan diakui dan dikenal melalui karya-karya seni, khususnya seni kriya; pra-karya berbahan dasar kulit,” ungkapnya.

Industri Kerajinan Kulit Magetan, kata dia, memiliki sejarah panjang. Penyamakan kulit di Kabupaten Magetan sudah ada dan berlangsung sejak tahun 1830. Bahkan kata Sumadi lagi, periode tahun 1950-1960, adalah masa keemasan industri kerajinan kulit Magetan.

Editor: boedi azwar

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA