Suka Galau Karenanya, Lalu Apa Rezeki Itu?

Ragam

Rabu, 21 Agustus 2019 | 00:08 WIB

190820233720-suka-.jpg

dokumen Galamedianews.com

SAAT ini, setiap saat, setiap waktu, mungkin ada saja yang membuat hati kita risau, gusar, atau ”galau” dengan kehidupan kita di dunia ini. Entah harga barang-barang kebutuhan pokok yang mahal, entah biaya masuk sekolah, entah tarif listrik dan BBM yang terus mengalami kenaikan, dan apa saja yang membuat hati kita khawatir dengan jatah rezeki kita. Uang yang seolah-olah semakin tidak ada nilainya, penghasilan yang stagnan, dan seterusnya.

Bisa jadi kita merasa, kita-lah yang hidupnya paling susah di dunia ini. Padahal kenyataannya, di sana lebih banyak lagi orang yang kehidupannya lebih susah dari kehidupan kita.

Sebagian kita para suami, selalu risau, ”Dari mana aku akan mendapatkan rezeki untuk menghidupi diri dan keluargaku besok? Bagaimana aku nanti bisa mencari penghidupan?”

Lalu sebenarnya apa “rezeki” itu?

Terkait hal itu, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, ”Rezeki adalah segala sesuatu yang bermanfaat bagi manusia. Rezeki itu ada dua macam, yaitu rezeki yang bermanfaat untuk badan dan rezeki yang bermanfaat untuk agama. Rezeki yang bermanfaat untuk badan seperti makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan yang sejenisnya. Adapun rezeki yang bermanfaat untuk agama, yaitu ilmu dan iman.” (Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah, hal. 101-102).

Banyak di antara kita yang risau dengan rezeki jenis pertama. Kita risau ketika penghasilan sangat tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan. Yang kita pikirkan setiap saat dan setiap waktu adalah bagaimana kita bisa memiliki penghasilan tambahan?

Sebaliknya, kita justru tidak pernah risau dengan rezeki jenis ke dua. Ketika hati kita kosong dari ilmu agama, kita santai-santai saja. Ketika iman kita nge-drop (turun drastis), tidak ada sama sekali kekhawatiran di dalam dada. Ketika amal ketaatan kita sedikit, kita cuek saja. Ketika kita semakin terbuai dengan maksiat, semuanya terasa happy-happy saja. Seolah-olah semuanya baik-baik saja, padahal bisa jadi iman kita sedang berada di pinggir jurang.

Selain itu, rezeki selalu kita identikkan dengan uang, uang, dan uang. Padahal, kesehatan adalah rezeki juga. Bisa bernapas pun adalah rezeki. Dan demikian seterusnya untuk nikmat-nikmat yang lain.

Ketetapan Allah Ta’ala

Jika memang yang menjadi kegelisahan kita adalah rezeki jenis pertama, yaitu rezeki yang bermanfaat untuk badan, maka perlu kita ketahui bahwa Allah-lah yang akan memberikan rezeki itu semuanya kepada kita.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan bahwa dalil yang menunjukkan bahwa Allah-lah yang memberikan rezeki kepada kita itu sangat banyak, baik dalil dari Alquran, hadits, maupun akal.

Di antara dalil Alquran yang menunjukkan hal ini adalah firman Allah Ta’ala, ”Sesungguhnya Allah, Dia-lah Yang Maha Pemberi rezeki, Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat : 58).

Allah Ta’ala juga berfirman, ”Katakanlah, ’Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?’ Katakanlah, ’Allah’.” (QS. Saba’ : 24)

Di ayat yang lain lagi Allah Ta’ala berfirman, ”Katakanlah, ’Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka semuanya akan menjawab, ’Allah’.” (QS. Yunus : 31)

Sedangkan di antara dalil dari As-Sunnah adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Kemudian diutuslah Malaikat kepadanya (janin, pent.). Malaikat itu meniupkan ruh kepadanya dan diperintahkan untuk menuliskan empat kalimat (ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah baginya), yaitu: (1) rezeki, (2) ajal, (3) amal perbuatan dan (4) (apakah nantinya dia termasuk) orang yang celaka (masuk neraka) atau orang yang berbahagia (masuk surga).” (HR. Muslim no. 6893).

Ketika yang menjamin rezeki kita adalah Dzat Yang Maha kaya, mengapa kita masih sangat khawatir?

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA