Wajibkah Membaca Tasmi' dan Tahmid saat Bangun dari Rukuk?

Ragam

Selasa, 20 Agustus 2019 | 04:04 WIB

190819232750-wajib.jpg

Foto: Kapanlagi Plus

SAAT bangun dalam rukuk ada bacaan tasmi’, yaitu mengucapkan, "sami’allahu liman hamidah" (artinya: “Allah mendengar orang yang memuji-Nya”). Dan ada bacaan tahmid, yaitu mengucapkan, "rabbana walakal hamdu". (artinya: “Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu”).

Dari Anas bin Malik radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’ alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti. Jika ia bertakbir maka bertakbirlah. Jika ia sujud maka sujudlah. Jika ia bangun (dari rukuk atau sujud) maka bangunlah. Jika ia mengucapkan: sami’allahu liman hamidah. Maka ucapkanlah: rabbana walakal hamdu. Jika ia salat duduk maka salatlah kalian sambil duduk semuanya”. (HR. Bukhari no. 361, Muslim no. 411).

Dalam hadits ini disebutkan dua bacaan yaitu tasmi’ (sami’allahu liman hamidah) dan tahmid (rabbana walakal hamdu). Di sini ulama berselisih pendapat mengenai hukum tasmi’ dan tahmid menjadi dua pendapat.

Pendapat pertama: Ulama Hambali berpendapat bahwa tasmi’ dan tahmid hukumnya wajib bagi imam dan munfarid. Namun bagi makmum hanya wajib tahmid saja.

Pendapat kedua: Jumhur ulama berpendapat bahwa tasmi’ dan tahmid hukumnya sunnah. Namun mereka berbeda pendapat mengenai rinciannya:

Ulama Malikiyah dan Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa imam hanya disunnahkan membaca tasmi’ dan tidak perlu membaca tahmid. Sedangkan makmum disunnahkan membaca tahmid saja dan tidak perlu membaca tasmi’. Dan munfarid disunnahkan membaca keduanya.

Abu Yusuf Al Hanafi dan juga satu riwayat pendapat dari Abu Hanifah, mengatakan imam dan munfarid disunnahkan membaca tasmi’ dan tahmid sekaligus. Dan makmum hanya disunnahkan membaca tasmi’ saja.

Ulama Syafi’iyyah berpendapat bahwa imam, makmum dan munfarid disunnahkan membaca tasmi’ dan tahmid. (Mausu’ah Fiqhiyyah Kuwaitiyyah, 27/92-94).

Wallahu a’lam, yang rajih adalah pendapat pertama, yaitu tasmi’ dan tahmid hukumnya wajib bagi imam dan munfarid, dan makmum hanya wajib tahmid. Inilah pendapat yang dikuatkan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani dan Syaikh Abdul Aziz bin Baz.

Berdasarkan hadits dari Rifa’ah bin Rafi radhiallahu’anhu, Nabi shallallahu’ alaihi wasallam bersabda, “Tidak sempurnah salat seseorang hingga ia menyempurnakan wudhunya sebagaimana diperintahkan oleh Allah…”

Lalu dalam hadits yang panjang ini disebutkan, “Kemudian bertakbir dan rukuk sampai tuma’ninah, kemudian meluruskan badannya sambil mengucapkan: sami’allahu liman hamidah” (HR. Abu Daud no. 857, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Abi Daud).

Maka hadits ini menunjukkan wajibnya ucapan tasmi‘, tidak sempurna salat tanpanya.

Juga berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu’ alaihi wasallam ketika berdiri untuk salat beliau bertakbir ketika berdiri, dan bertakbir ketika rukuk kemudian mengucapkan: sami’allahu liman hamidah. Kemudian bangun dari rukuk hingga meluruskan tulang sulbinya kemudian mengucapkan: rabbana walakal hamdu”. (HR. Bukhari no. 789, Muslim 392).

Maka hadits ini tegas menunjukkan bahwa imam dan munfarid membaca tasmi dan tahmid. Karena Nabi shallallahu’ alaihi wasallam bersabda,  “Salatlah sebagaimana kalian melihatku salat” (HR. Bukhari no. 631).

Adapun mengenai makmum, maka yang wajib hanya mengucapkan tahmid, berdasarkan zahir hadits Anas bin Malik di atas, “Jika ia (imam) mengucapkan: sami’allahu liman hamidah. Maka ucapkanlah: rabbana walakal hamdu” (HR. Bukhari no. 361, Muslim no. 411).

Lafadz-lafadz tahmid

Pertama: rabbana walakal hamdu

Sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik dan Abu Hurairah di atas.

Kedua: rabbana lakal hamdu

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, beliau mengatakan, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: jika imam mengucapkan: sami’allahu liman hamidah, maka ucapkanlah: rabbana lakal hamdu. Barangsiapa yang ucapannya tersebut bersesuaian dengan ucapan Malaikat, akan diampuni dosa-dosanya telah lalu” (HR. Bukhari no. 796, Muslim no. 409).

Ketiga: Allahumma rabbana lakal hamdu

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, beliau mengatakan, “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: jika imam mengucapkan: sami’allahu liman hamidah, maka ucapkanlah: Allahumma rabbana lakal hamdu. Barangsiapa yang ucapannya tersebut bersesuaian dengan ucapan Malaikat, akan diampuni dosa-dosanya telah lalu” (HR. Bukhari no. 796, Muslim no. 409).

Keempat: Allahumma rabbana walakal hamdu

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu’ alaihi wasallam jika mengucapkan: sami’allahu liman hamidah, maka beliau mengucapkan: Allahumma rabbana walakal hamdu. Dan beliau jika rukuk dan mengangkat kepalanya, beliau bertakbir. Dan ketika bangun dari dua sujudnya beliau mengucapkan: Allahu Akbar” (HR. Bukhari no. 795, Muslim no. 392).

Tambahan doa dalam tahmid

Dianjurkan juga ketika i’tidal, untuk membaca doa tambahan setelah membaca tahmid. Ada beberapa doa tambahan setelah tahmid yang shahih dari Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

Pertama, dari Rifa’ah bin Rafi radhiallahu’anhu, “Kami dahulu salat bermakmum kepada Nabi shallallahu’ alaihi wasallam. Ketika beliau mengangkat kepada dari rukuk, beliau mengucapkan: sami’allahu liman hamidah. Kemudian orang yang ada di belakang beliau mengucapkan: robbanaa walakal hamdu, hamdan katsiiron mubaarokan fiihi (segala puji hanya bagiMu yaa Rabb. Pujian yang banyak, yang baik lagi penuh keberkahan). Ketika selesai salat, Nabi bertanya: ‘Siapa yang mengucapkan doa tadi?’ Lelaki tadi menjawab: ‘Saya’. Nabi bersabda: ‘Aku tadi melihat tiga puluh lebih malaikat berebut untuk saling berusaha terlebih dahulu menulis amalan tersebut’.” (HR. Bukhari no. 799).

Kedua, dari Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu’anhu, ia berkata, “Biasanya Rasulullah shallallahu’ alaihi wasallam jika mengangkat punggungnya dari rukuk beliau mengucapkan: sami’allohu liman hamidah allohumma robbanaa lakal hamdu mil-as samaawaati wa mil-al ardhi wa mil-a maa syi’ta min syai-in ba’du (Allah mendengar orang yang memuji-Nya. Ya Allah segala puji bagi-Mu, pujian sepenuh langit, sepenuh bumi, sepenuh apa yang Engkau inginkan lebih dari itu semua)” (HR. Muslim no. 476).

Ketiga, dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu’anhu, ia berkata, “Biasanya Rasulullah shallallahu’ alaihi wasallam jika mengangkat kepalanya dari rukuk beliau mengucapkan: sami’allohu liman hamidah allohumma robbanaa lakal hamdu mil-as samaawaati wa mil-al ardhi wa mil-a maa syi’ta min syai-in ba’du, ahlats tsaa-i wal majdi, ahaqqu maa qoolal ‘abdu, wa kulluna laka ‘abdun, Alloohumma laa maani’a limaa a’thoyta, wa laa mu’thiya limaa mana’ta, wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu (Allah mendengar orang yang memujidnya. Ya Allah segala puji bagiMu, pujian sepenuh langit, sepenuh bumi, sepenuh apa yang Engkau inginkan lebih dari itu semua, wahai Dzat yang memiliki semua pujian dan kebaikan. Demikianlah yang paling berhak diucapkan oleh setiap hamba. Dan setiap kami adalah hambaMu. Ya Allah tidak ada yang bisa menghalangi apa yang Engkau berikan. Dan tidak ada yang bisa memberikan apa yang Engkau halangi. Dan segala daya upaya tidak bermanfaat kecuali dengan izinMu, seluruh kekuatan hanya milikMu)” (HR. Muslim no. 477).

Keutamaan tasmi’ dan tahmid dalam salat

Terdapat keutamaan khusus bagi orang yang mengucapkan tahmid ketika i’tidal. Sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu’anhu, beliau mengatakan, “Rasulullah shallallahu’ alaihi wasallam bersabda: ‘Jika imam mengucapkan: sami’allahu liman hamidah, maka ucapkanlah: rabbana lakal hamdu. Barangsiapa yang ucapannya tersebut bersesuaian dengan ucapan Malaikat, akan diampuni dosa-dosanya telah lalu’.” (HR. Bukhari no. 796, Muslim no. 409).

Al Khathabi rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini adalah dalil bahwa Malaikat mengucapkan ucapan tersebut bersamaan dengan pengucapan orang yang salat. Dan mereka memintakan ampunan serta hadir di sana untuk berdoa dan berdzikir.” (Ma’alimus Sunan, 1/209).

Dan maksud dari “bersesuaian dengan ucapan Malaikat” adalah tahmid diucapkan setelah imam mengucapkan tasmi’. Ali Al Qari menjelaskan, “Barangsiapa yang ucapannya tersebut (rabbana lakal hamdu) diucapkan setelah imam mengucapkan sami’allahu liman hamidah bersesuaian dengan ucapan Malaikat dari sisi waktu pengucapannya maka akan diampuni dosa-dosanya telah lalu, yaitu dosa-dosa kecil” (Mirqatul Mafatih, 3/190).

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA