Picu Kemarahan Pencinta Hewan, Puluhan Tahun Dipaksa Bekerja Takiiri Kurus Kering Menderita

Ragam

Rabu, 14 Agustus 2019 | 15:30 WIB

190814151301-picu-.jpg

dailymail

Foto-foto memilukan datang dari Sri Lanka. Foto dimaksud memperlihatkan seekor gajah yang sangat kurus hingga tulang rusuknya terlihat. Gajah bernama Tikiiri tersebut seumur hidupnya dipaksa untuk ikut berparade dalam  festival kostum.

Dikutip dari DailyMail kemarin, Tikiiri, gajah betina berusia 70 tahun itu  dijadwalkan tampil bersama 60 gajah lainnya dalam Festival Perahera di Sri Lanka tahun ini. Ia tetap berpastisipasi meskipun tubuhnya lemah dan kesehatannya sedang menurun.

Festival Buddha selama sepuluh hari ini menampilkan hewan-hewan yang didandani bersama dengan peserta  termasuk penari, pemain sulap, pemadam kebakaran dan musisi. Foto-foto mengerikan Tikiiri viral setelah diposting  Save Elephant Foundation (SEF) di Hari Gajah Sedunia, Senin lalu.

Dari luar terlibat baik-baik saja..

"Tikiiri tampil dalam pawai sejak pagi buta sampai larut setiap hari  selama sepuluh malam berturut-turut di tengah kebisingan, kembang api, dan asap," ungkap rilis SEF. "Dia berjalan beberapa kilometer setiap malam sehingga orang-orang akan merasa diberkati selama upacara." Meski dari luar terlihat glamor dengan kostum gemerlapan, tapi di balik kostum tersebut ada  kenyataan yang menyedihkan.

"Tidak ada yang melihat tubuh kurusnya atau kondisinya yang melemah, karena kostumnya. Tidak ada juga yang melihat air mata di matanya yang terluka akibat  lampu-lampu terang yang menghiasi topengnya, tidak ada yang melihat kesulitannya melangkah dengan kaki dibelenggu. Bagaimana kita dapat menyebut [festival] ini suatu berkah atau suci jika kita membuat hidup makhluk lain menderita?” 

Truth hurts.

Organisasi yang sama mengatakan Tikiiri bekerja untuk Tooth Temple di kota Kandy. Mereka mendesak siapa saja yang bersimpati untuk menulis surat kepada Perdana Menteri Sri Lanka guna  mengakhiri kekejaman terhadap hewan. "Kita tidak bisa memberi  dunia yang damai pada gajah selama kita masih berpikir bahwa foto seperti ini dapat diterima," tambah mereka.

Komentar pun bermunculan. “Mencintai, tidak menyakiti, mengikuti jalan kebaikan dan kasih sayang, ini adalah jalan Buddha. Sudah waktunya untuk mengikuti jalan ini.”, “Perlakuan tercela seperti ini menunjukkan  manusia benar-benar berpikir mereka ras yang unggul.. Ini harus dihentikan!” demikian di antara komentar netizen. Organisasi nirlaba Save Elephant Foundation sendiri berfokus pada penyediaan perawatan untuk gajah tawanan Thailand.

Seumur hidup bekerja berat.

Yayasan didirikan Sangdeaun Lek Chailert yang mengadvokasi kesejahteraan gajah di Asia karena kecintaannya pada simbol nasional negara tersebut. Juga  kekhawatiran jika  spesies lembut ini terancam punah.

"Misi kami menyelamatkan gajah Asia dari kepunahan dan memberikan kehidupan yang layak bagi gajah jinak dengan melestarikan habitat dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang praktik perawatan manusia," kata perwakilan Save Elephant Foundation.

Yayasan ini mengelola Taman Alam Gajah,  tempat perlindungan di Chiang Mai, Thailand Utara. Sementara World Animal Protection memperkirakan 3.000 gajah digunakan untuk hiburan di seluruh Asia dan 77 persen mendapat perlakuan tidak manusiawi. Sedangkan  juru bicara Relic Tooth kepada Metro menegaskan pihaknya selalu peduli pada binatang yang mengikuti festival.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA