Rahasia Dibalik Kalimat Istighfar

Ragam

Jumat, 9 Agustus 2019 | 00:07 WIB

190808174640-rahas.jpg

dokumen Galamedianews.com

APA rahasia di balik istighfar sehingga Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak mengucapkannya?

Istighfar terasa seperti ucapan yang ringan, pendek dan mudah diucapkan. Namun, ucapan ini mengandung kedalaman makna dan manfaat yang demikian besar.

Makna dari ucapan astaghfirullah adalah thalabul maghfirah atau pengakuan dari dosa-dosa dan meyakini akan adanya ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan melafalkan ucapan ini, hakikatnya seorang hamba mengakui bahwa dirinya penuh dosa, baik kecil maupun besar, disadari atau tidak. Disertai keyakinan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Pengampun. Pengakuan ini, yang membedakan seorang mukmin dan tidak. karena hanya orang muttaqin yang memiliki tabiat ini, disertai pemaknaan secara penuh dan mendalam.

Karena makna istighfar erat kaitannya dengan pengakuan dosa, sering kali muncul anggapan bahwa ucapan ini hanya dilafalkan saat seseorang sadar setelah melakukan dosa. Padahal di banyak riwayat disebutkan berbagai keutamaan membaca istighfar.

Salah satunya adalah cerita mengenai Hasan Al-Bashri yang di datangi seseorang yang mengeluhkan kondisi kekeringan akibat hujan yang tak kunjung turun. Jawab beliau, “Perbanyaklah istighfar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”

Lalu datang lagi orang yang mengadukan kemiskinan diri dan keluarganya, disusul seorang lelaki yang meminta solusi atas keinginannya memperoleh keturunan serta seseorang yang mengeluhkan kondisi tanah yang tidak menghasilkan panen yang baik. Untuk ketigannya, Hasan Al-Bashri menyampaikan nasihat yang sama yakni anjuran memperbanyak istighfar.

Beberapa sahabat Hasan Al-Bashri yang saat itu berada di sekitarnya terheran-heran dengan solusi yang diberikan sang ulama dan bertanya, “Mengapa engkau memberi nasihat yang sama untuk permasalahan yang berbeda-beda?”

Hasan Al-Bashri menjawab, “Apakah kamu tidak membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bunyinya,

“Maka Aku katakan kepada mereka, mohonlah ampun (Istighfar) kepada Rabb-mu. Sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untuknya kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai,” (QS. Nuh  : 10-12)

Dari riwayat tersebut, dapatkah disimpulkan bahwa istighfar menjadi salah satu cara untuk menemukan jalan keluar dari setiap masalah yang dihadapi manusia.

Hal yang perlu diperhatikan, Istighfar ini harus menjadi tabiat keseharian kita. Dalam setiap kondisi, baik lapang maupun sempit. Dengan menjadikannya tabiat, hakikatnya seorang manusia senantiasa mengingat Allah dan memohon pertolongan kepada-Nya. Bagi hamba-hamba yang seperti ini, malaikat sudah terbiasa mendengar suaranya dan Allah menjanjikan kemudahan atau pertolongan dalam setiap kesulitan hidup.

Hal ini berdasar hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Kenalilah Allah saat kamu senang, niscaya Dia akan mengenalimu saat kamu sedang susah,” (HR. Ahmad, Hakim, dan Al-Baihaqi).

Artinya, prinsip bahwa istighfar bisa menjadi sarana untuk memohon pada Allah agar diberikan jalan keluar dari segala kesulitan, hanya berlaku bagi mereka yang telah menjadikannya kebiasaan. Sementara bagi mereka yang hanya mengingat Allah di saat-saat sempit dan susah saja, tidak dijanjikan keutamaan ini.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA