Diganti Semut Hingga Rayap, Tak Lagi Makan Daging Siswa Sekolah Maine Mengaku Jadi Jago Nge-gym

Ragam

Rabu, 24 Juli 2019 | 11:45 WIB

190724114035-digan.jpg

dailymail

Seorang remaja yang juga fanatik gym tak lagi mengonsumsi daging dan menukarnya dengan serangga serta kalajengking. Ia  mengklaim diet radikal ini membuatnya semakin bugar dan kuat di gym. Sam Broadbent (18) yang  mengaku sebagai entovegan biasa mengonsumsi belalang, jangkrik hingga  semut.

Dikutip dari DailyMail beberapa waktu lalu, ia berhenti makan daging Oktober tahun lalu dan kini lebih suka meminum protein shake yang dicampur  jangkrik. Siswa sekolah menengah dari Lewiston, Maine, AS itu juga lebih suka lumpia belalang ketimbang daging dan kentang untuk makan malam.

Sereal serangga.

Snack seledri, humus dan semut.

Sedangkan menu makan siang sandwich ayam kejunya sekarang berganti menjadi  semangkuk jangkrik. Untuk sarapan, ia memilih buah atau sereal yang dicampur dengan serangga. Khusus acara keluarga, kalajengking panggang menjadi sajian favorit.

Remaja yang biasa berolahraga enam kali dalam seminggu itu mengklaim dia tidak pernah merasa sebugar seperti sekarang dengan bobot hampir dua kali lipat. “Aku berhenti makan semua jenis daging bulan Oktober dan bulan Januari aku benar-benar vegan dengan pengecualian serangga. Awalnya sedikit mual, tapi setelah terbiasa aku merasa lebih baik dari sebelumnya,” paparnya.

Lumpia kalajengking.

Kalajengking panggang untuk acara istimewa.

Broadbent menambahkan, "Makan siangku semangkuk besar lentil dan semangkuk besar jangkrik dengan brokoli dan asparagus. Jangkrik rasanya unik seperti kuaci. Makan malamku serangga juga seperti lumpia kacang, nasi, dan   belalang bumbu bawang putih dan lemon.”

Kini menurutnya ia semakin kuat dalam deadlift atau powerlifting yang melibatkan punggung dan kaki  dari 86 kg pada Oktober lalu menjadi 150 kg  pada Juni. "Kebugaran motivator utamaku untuk melakukan diet ini," katanya.

Lumpia serangga andalan.

Nothing stops him now.

Minat  Broadbent pada entomophagy atau praktik makan serangga  dimulai pada 2015 ketika  membantu ayahnya Bill (59) mendirikan supermarket serangga  online Entosense.

“Tahun 2015 aku mulai punya ide menambahkan serangga untuk produk hewani dalam makanan.  Bersama ayah  aku melakukan banyak penelitian dan menyadari ada pasar untuk serangga. Supermarket online kami berjalan dengan sangat baik dan ini semakin menyadarkanku,” katanya. Sejak itu kemana-mana ia selalu membawa sekotak  serangga.

Makin oke di gym.

“Beberapa orang bahkan tidak mau mencoba karena jijik. Tetapi ada temanku yang awalnya ragu dan kini suka jangkrik sekarang," katanya. Kini ia mantap berkuliah di Universitas Montana  untuk belajar paleontologi dengan tetap mempertahankan gaya hidupnya. “Mungkin aku harus membawa persediaan serangga setiap hari nanti tapi rak apa. Ayah akan memasok serangga untukku,” ujarnya mantap.

Oks!


Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA