Malaikat Ada Untuk Mengurusi Kepentingan Manusia?

Ragam

Rabu, 24 Juli 2019 | 04:53 WIB

190723224420-malai.jpg

About Islam

MALAIKAT adalah mahluk Allah yang juga dibebankan tugas dan tanggung jawab. Namun –tidak sebagaimana manusia- mereka diberi kekuatan penuh untuk melaksanakannya. Mereka juga tidak diberikan hawa nafsu, sehingga tidak ada salah satupun dari mereka yang menyelisihi perintah Allah. Semuanya melaksanakan tugas masing-masing dengan benar sesuai perintah Allah.

Jika kita melihat tugas dan tanggung jawab malaikat yang bermacam-macam, kita akan menemukan hubungan yang erat antara mereka dengan kita sebagai manusia. Hubungan yang menunjukan kedekatan kita dengan mereka. Bahkan bisa dikatakan hampir seluruh (atau mungkin seluruh –wallahu ‘alam) tugas mereka adalah untuk kepentingan manusia. Hal ini selain menumbuhkan rasa cinta kepada mereka para malaikat, juga menumbuhkan kesadaran akan Rahmat Allah yang begitu luas kepada kita, dengan menciptakan makhluk bernama malaikat untuk kepentingan manusia.

Tiga pemimpin malaikat

Dari sekian banyak malaikat, ada tiga yang menjadi pemimpin mereka. Yaitu malaikat Jibril yang bertugas menyampaikan wahyu. Malaikat Israfil yang bertugas meniup sangkakala di hari akhir. Dan malaikat Mikail yang bertugas menurunkan hujan dan menumbuhkan tanaman.

Ketiga malaikat ini menjadi pemimpin malaikat dikarenakan tugas mereka yang berkaitan dengan kehidupan. Jibril bertugas menyampaikan wahyu yang dengannya hati manusia akan hidup. Mikail menumbuhkan tumbuhan dan menurunkan hujan dengannya bumi akan hidup. Dan Isrofil pun meniup sangkakala yang dengannya jasad manusia akan kembali hidup di hari kiamat.

Malaikat penjaga manusia

Di antara malaikat ada yang bertugas setiap waktu menjaga manusia. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah” (Qs. Ar Ro’du: 11).

Mujahid berkata, “tidaklah seorang hamba, kecuali dia memiliki malaikat yang diperintahkan untuk menjaganya –baik ketika tidur maupun terjaga- dari gangguan jin, manusia, dan hewan hewan penggganggu. Jika ada sesuatu yang akan mencelakakannya, malaikat akan mengatakan kepadanya, “awas hati-hati!”, kecuali sesuatu yang sudah diizinkan oleh Allah untuk menimpanya”.  (Lihat tafsir Ibnu Katsir Qs Ar Ro’du : 11).

Malaikat penjaga gunung

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa ketika Rasulullah hijrah ke Thaif dan mendapatkan perlakuan yang tidak layak dari penduduk Thaif, beliau didatangi oleh malaikat. Setelah mengucapkan salam, malaikat tersebut berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar apa yang telah dikatakan oleh kaummu. Aku adalah malaikat gunung. Aku telah diutus Tuhanmu untuk mendatangimu, agar engkau menyuruhku untuk membantu menyelesaikan urusanmu. Maka, apa yang engkau inginkan aku perbuat kepada mereka? Jika engkau mau, akan kuhimpit mereka itu dengan dua gunung batu (Abu Hubaisy dan Al-Ahmar).” Maka beliau bersabda, “Jangan! Aku berharap Allah ta’ala melahirkan dari mereka generasi yang menyembah Allah ta’ala dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun.’” (HR Muslim).

Malaikat berkeliling mencari majelis dzikir

Kemudian ada di antara mereka malaikat yang berkeliling di muka bumi, jika didapatkan ada majlis dzikir maka mereka akan ikut duduk di majlis dzikir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “tidaklah suatu kaum berkumpul di rumah diantara rumah Allah, di sana mereka membaca kitabullah dan mempelajarinya, kecuali mereka akan diberikan ketenangan, diliputi rahmat dan dinaungi oleh malaikat serta Allah akan menyebutkan mereka dihadapan makhluk (para penghuni langit) yang berada di dekat Nya”. (HR Muslim No. 2699).

Malaikat pencatan amal

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al Infithor: 10-12).

Setiap orang akan diiringi oleh dua malaikat. Sebelah kanan bertugas mencatat amal baik. Sementara sebelah kiri bertugas mencatat amal buruk. Tidaklah seorang berbuat kecuali akan dicatat oleh malaikat, sekecil apapun itu. Bahkan hingga rintihan orang yang sedang sakit.

Dikisahkan dahulu ketika Imam Ahmad sakit dan dijenguk oleh saudaranya, dilihatnya Imam Ahmad sedang merintih (karena sakit). Maka saudaranya mengatakan, “wahai Abu Abdillah tenanglah, sesungguhnya Thawus berkata, “sesungguhnya Malaikat mencatat sampai rintihan orang yang sedang sakit, karena Allah berfirman (yang artinya), “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. (Qs. Qaf : 18)””, Maka sejak saat itu Imam Ahmad berhenti merintih.

Malaikat Maut

Malaikat maut –sebagaimana terlihat dari namanya- bertugas mencabut arwah manusia. tentang penamaan malaikat maut Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan” (Qs. As Sajadah: 11).

Adapun penamaan Izroil tidak ada dasarnya dalam Alquran dan Sunnah. (Muhammad Utsaimin hal. 46).

Disebutkan dalam sebuah riwayat, bahwa malaikat maut memiliki pembantu pembantu yang akan mendatangi orang yang akan meninggal untuk mencabut nyawanya. Jika manusia yang akan dicabut nyawanya seorang yang soleh, maka malaikat akan datang dalam rupa yang bagus, dan nyawa orang tersebut akan dicabut dengan lembut. Namun sebaliknya, jika manusia yang akan dicabut nyawanya seorang pendosa, maka malaikat akan mendatanginya dalam rupa yang buruk dan menyeramkan. Dan arwahnya pun akan dicabut dengan sangat keras tanpa kasih sayang.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): “Keluarkanlah nyawamu” Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan…” (Qs. Al An’am : 93).

Kemudian setelah malaikat maut mencabut arwah dan mengeluarkannya dari jasad seorang hamba, arwah tersebut akan diserahkan kepada malaikat rahmat atau malaikat adzab yang menjadi penanggung jawab selanjutnya.

Malaikat yang bertugas bertanya di alam kubur

Jika seorang hamba telah memasuki kuburan, dia akan didatangi oleh malaikat. Dalam sebuah hadis disebutkan, “jika seorang yang sudah mati dikuburkan, dia akan didatangi dua malaikat berwarna gelap, salah satunya bernama Munkar, dan yang lain bernama Nakir. Keduanya akan bertanya, ‘apa yang kamu ketahui tentang orang ini (maksudnya Muhammad)?’ (seorang muslim) menjawab, ‘sebagaimana apa yang dia katakan, dia adalah hamba Allah dan ro’ul Nya, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah dengan benar selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan Allah, namun jika orang munafik, dia berkata, “aku mendengarkan orang-orang mengatakan begini dan begitu maka akupun ikut mengatakannya, aku tidak tau….” (HR Tirmidzi, dihasankan oleh Syaikh Albani).

Para penjaga neraka dan para penjaga surga

Para penjaga neraka –naudzubillah- bernama Zabaniyah. Pemimpin mereka berjumlah sembilan belas. Yang paling senior bernama Malik, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Mereka (penduduk neraka) berseru: “Hai Malik biarlah Tuhanmu membunuh kami saja.” Dia menjawab: “Kamu akan tetap tinggal (di neraka ini).” (Az Zukhruf: 77).

Tentang sifat mereka, Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (Qs. At Tahrim: 6)

Adapun para penjaga surga, pemimpin mereka adalah Ridhwan. Mereka akan menyambut para penghuni surga dengan ucapan salam. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di dalamnya.” (Qs. Az Zumar: 73)

Wallahu ‘alam bis Shawab.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA