Hati-Hati, Pengucapan Amin yang Salah Bisa Membatalkan Salat

Ragam

Sabtu, 20 Juli 2019 | 06:11 WIB

190719232728-hati-.jpg

Net

KETIKA imam selesai membacakan surat Al-fatihah dalam salat, makmum akan membaca amin. Meski terlihat sederhana, ternyata pelafalan amin tidak bisa sembarangan.

Menurut pendapat yang masyhur di kalangan ahli bahasa, ada dua cara membaca amin yang benar.

Pertama, dibaca dengan dipanjangkan kata ‘Aa…’, sehingga menjadi Aaamiiin.

Kedua, dibaca dengan dipendekkan kata ‘A…’ sehingga menjadi Amiin.

Syaikh Dr. Abdullah az-Zahim menyebutkan beberapa cara baca Amin yang salah.

1. Kesalahan bacaan amin yang menyebabkan salat batal dengan sepakat ulama.

Hamzah dipanjangkan, mim di-tasydid, dan huruf ‘Ya’ dihilangkan, sehingga menjadi Aaammmin.

Hamzah dibaca pendek, mim di-tasydid, dan huruf ‘Ya’ dihilangkan, sehingga menjadi Ammmin.

Hamzah dibaca pendek, mim tidak di-tasydid, dan huruf ‘Ya’ dihilangkan, sehingga menjadi Amin.

2. Kesalahan amin yang disepakati ulama, namun apakah itu membatalkan ataukah tidak, ada perbedaan diantara para ulama. Bunyi bacaan amin ini yaitu dengan memendekkan hamzah, mim di-tasydid, dan ada huruf ‘Ya’ . sehingga dibaca: Ammmiiin.

Meski para ulama sepakat dengan larangan lafadz amin semacam ini, namun mereka berbeda pendapat, apakah membatalkan salat ataukah tidak. Syafiiyah menilai, ini tidak membatalkan salat. Sementara madzhab yang lain menilai ini bisa membatalkan salat.

3. Kesalahan bacaan Aamiin yang diperselisihkan bolehnya dan batalnya salat

Hamzah dipanjangkan, mim di-tasydid, dan ada huruf ‘Ya’ . sehingga dibaca: Aaammiiin.

Hanafiyah membolehkan kesalahan semacam ini. Sementara jumhur melarangnya.

Hanya saja, menurut Syafiiyah, amin semacam ini tidak membatalkan salat. Sedangkan Hambali dan Malikiyah menilai, bacaan amin ini bisa membatalkan salat.

Hamzah dipanjangkan, mim tidak di-tasydid, dan huruf ‘Ya’ dibuang, sehingga dibaca: ‘Aaamin’.

Sebagian hanafiyah membolehkan amin semacam ini, namun tidak disinggung oleh madzhab yang lain. Dan yang benar, ini dilarang. (at-Takmin ‘aqibal Fatihah fi Shalah, hlm. 187-189).

Allahu a’lam.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA