Zikir Penyubur Kalbu

Ragam

Senin, 15 Juli 2019 | 11:34 WIB

190715113958-zikir.jpg

republika.co.id

KALBU atau hati merupakan pusat rohaniah manusia. Mereka yang memiliki kalbu yang suci akan mudah memperoleh hidayah dari Allah. Sebaliknya, hati yang bernoda akan tertutup dari petunjuk-Nya. Akibatnya, hidup tenggelam dalam maksiat dan dosa.

Ketika mengomentari surah al-Hadid ayat 16-17, M Quraish Shihab dalam "al-Mishbah" mengibaratkan hati seperti tanah. Apabila tidak disentuh air, ia akan gersang.

Baca Juga: Ini Tujuh Kalimat Dzikir yang Harus Dibiasakan Dalam Kehidupan Sehari-hari

Kalbu akan membatu jika tidak tersentuh zikir. Maka itu, zikir berfungsi sebagai penyubur kalbu. Firman Allah SWT, "Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka) …." (Qs al-Hadid [57]:16).

Ayat ini mengisyaratkan pentingnya zikir untuk menundukkan dan menyuburkan kalbu. Dengan zikir, kita mengingat Allah, merasakan, dan menghadirkan-Nya dalam setiap aktivitas. Tidak ada celah bermaksiat karena keyakinan yang kuat akan kehadiran pengawasan Allah.

Baca Juga: Empat Kalimat Dzikir dari Rasulullah Berpahala Sebanyak Mahluk yang Allah Ciptakan

Ibnu Athaillah al-Sarkandi dalam "al-Qashd al-Mujarrad fi Ma'rifat al-Ism al-Mufrad", menyebut ada tiga macam zikir. (1) Zikir lisan, ini adalah zikir sebagian besar manusia; (2) zikir hati, ini adalah zikir kalangan khusus di antara kaum beriman; dan (3) zikir roh, ini adalah zikir kaum lebih khusus, zikir kaum arif dengan kefanaan mereka dari zikir, penyaksian mereka akan Tuhan, dan anugerah-Nya atas mereka.

Ibnu Athaillah juga menyebut, zikir lisan tanpa kehadiran hati adalah zikir kebiasaan yang kosong dari keutamaan. Zikir lisan dengan kehadiran hati mendatangkan manfaat. Lidah yang basah dengan kalimat zikir mesti menghadirkan hati.

Baca Juga: Mengqodho Dzikir Pagi dan Petang

Zikirullah juga bisa bermakna shalat, sebab shalat adalah salah satu upaya mengingat-Nya. Firman-Nya, "… Maka sembahlah aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat aku." (Qs Thaha [20]: 14).

Mendirikan shalat secara kontinu penuh ketaatan akan terasa berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. Kekhusyukan dalam shalat akan bisa diperoleh oleh orang yang memiliki keyakinan sepenuh hati kelak menemui Allah dan akan kembali kepada-Nya. (Qs Al-Baqarah [2]: 45-46).

Baca Juga: Inilah Waktu Afdhol Dzikir Pagi dan Petang

Lagi-lagi, shalat sebagai zikir mensyaratkan kehadiran hati untuk mengingat dan merasakan kehadiran Allah. Shalat yang khusyuk turut menyuburkan kalbu.

Shalat yang dilakukan secara lisan dan gerakan tubuh semata, akan membuatnya tetap bergelimang maksiat dan dosa. Maka itu, shalat sebagai pencegah perbuatan keji dan munkar pun tak lagi berfungsi.

Baca Juga: Berdzikir dan Membaca Alquran Saat Sedang Junub

Zikirullah dalam surah al-Hadid [57] ayat 16 di atas juga bisa bermakna Alquran. Salah satu nama Alquran adalah adz-Dzikru. Orang yang membaca, memahami, dan mengamalkan Alquran adalah orang yang mengingat Allah.

Alquran juga berfungsi sebagai syifa' atau pengobat hati. (Qs Yunus [10]: 57). Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Zâdul Ma'âd menulis, "Alquran adalah obat (penawar) yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, demikian pula penyakit dunia dan akhirat."

Oleh karena itu, Alquran hadir sebagai solusi untuk mengobati sekaligus menyuburkan kalbu. Semoga Allah menuntun kita menjadi hamba yang hidup dalam zikir. Amin.

Sumber: republika.co.id

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA