Soal Iblis Bukan Termasuk Malaikat

Ragam

Senin, 15 Juli 2019 | 04:31 WIB

190714230032-soal-.jpg

dokumen Galamedianews.com

TERDAPAT beberapa dalil yang menunjukkan bahwa Iblis bukan Malaikat. Diantaranya firman Allah Ta’ala,

"Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya." (QS. Al-Kahfi: 50)

Allah menegaskan, bahwa Iblis dari golongan jin dan bukan Malaikat. Dan seperti yang kita tahu, Jin adalah jenis makhluk yang diciptakan dari Api, sementara Malaikat diciptakan dari nur (cahaya).

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Malaikat diciptakan dari cahaya, sementara jin diciptakan dari nyala api.” (HR. Ahmad 25194 dan Muslim 2996).

Penjelasan kalimat “Semua malaikat sujud, kecuali Iblis”

Bagaimana dengan firman Allah di banyak ayat, yang menyatakan,

“Semua malaikat sujud, kecuali Iblis” seperti firman Allah,

“Para malaikat semuanya bersujud, kecuali Iblis, dia bersikap sombong.” (QS. Shad: 73 – 74)

Kita punya kaidah bahasa dalam kalimat pengecualian.

Jika ada orang menyatakan, “Semua siswa hadir kecuali Rudi.” Berarti Rudi termasuk siswa. Karena Rudi harus memiliki status yang sama seperti kata yang dikecualikan, yaitu kata siswa.

Jika ada kalimat, “Semua siswa hadir kecuali Pak Guru.”, kalimat ini dinilai tidak benar. Karena Pak Guru bukan siswa.

Dalam bahasa arab, kalimat pengecualian disebut dengan kalimat 'istitsna’. Dan istitsna’ dalam bahasa arab ada 2:

[1] Istitsna’ muttashil

Adalah kalimat pengecualian, dimana kata yang dikecualikan dan yang terkecualikan sejenis. Misal, “Semua siswa hadir kecuali Rudi.” Dan Rudi termasuk siswa. Dalam Alquran, istitsna’ semacam ini banyak dalam Alquran. Diantaranya, firman Allah,

“Sesunggunya manusia dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh… (QS. Al-Ashri: 2 – 3)

[2] Istitsna’ munfashil

Adalah kalimat pengecualian, dimana kata yang dikecualikan dan yang terkecualikan tidak sejenis. Dalam bahasa arab, kata ‘kecuali’ dalam istitsna’ munfashil bermakna ‘akan tetapi’.

Dalam Alquran, ada beberapa bentuk istitsna’ munfashil. Diantaranya firman Allah,

Katakanlah: “Aku tidak meminta kepadamu sesuatu upahpun atas seruanku kecuali kasih sayang dalam kekeluargaan”. (QS. As-Syura: 23).

Pada ayat ini, Allah perintahkan kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyatakan bahwa beliau tidak mengharapkan upah dari mereka untuk dakwah beliau. Dan beliau juga tidak bertujuan, dengan dakwah beliau agar mereka menjadi cinta kepada beliau. Sehingga makna ayat, “Saya tidak meminta upah untuk dakwahku sama sekali. Akan tetapi jalinan kecintaan karena hubungan kekerabatan tetap dijaga.”

Dan kata al-Mawaddah dengan al-Ajr sangat berbeda konteksnya. Al-Ajr adalah upah dalam bentuk uang karena dakwah. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memintanya. Sementara al-Mawaddah adalah jalinan kecintaan karena hubungan kekerabatan, tidak diputus. Sehingga kata yang jatuh sebelum ‘kecuali’ dengan kata yang jatuh sesudah ‘kecuali’ berbeda jenisnya.

Semakna dengan ini adalah “Semua malaikat sujud, kecuali Iblis” sama sekali tidak menunjukkan bahwa Iblis termasuk Malaikat. Karena bentuk pengecualian di sini adalah pengecualian yang munqathi’. Tidak sejenis antara kata yang dikecualikan dengan kata yang terkecualikan.

Allahu a’lam.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA