Efek Berjam-jam Menatap Layar Gadget, Generasi Smartphone ternyata Miliki "Tulang Scrolling"

Ragam

Selasa, 18 Juni 2019 | 11:02 WIB

190618110227-efek-.jpg

dailymail

Menghabiskan banyak waktu menatap layar smartphone dan tablet ternyata memicu tumbuhnya “tulang paku” di bagian belakang kepala. Para peneliti mengatakan semakin banyak orang dengan pertumbuhan tonjolan oksipital eksternal yang membesar di pangkal tengkorak. Dianggap langka pada 1800-an, kini benjolan tulang itu bisa diraba dengan jari bahkan terlihat dengan  jelas pada merela yang tidak memiliki rambut.

Dikutip dari DailyMail beberapa waktu lalu, mereka yang berusia lebih muda mengalami pertumbuhan tulang paku lebih cepat dengan benjolan paling umum dialami anak usia 18 tahun hingga 30 tahun. Para ilmuwan dari University of the Sunshine Coast di Queensland, Australia melakukan penelitian terperinci mengenai fenomena ini. Laporan BBC Future mereka memindai lebih dari seribu tengkorak milik orang berusia 18 hingga 86 tahun.

Peneliti utama, Dr David Shahar memaparkan, “Aku menjadi dokter selama 20 tahun dan hanya dalam dekade terakhir aku banyak menemukan pasien dengan  pertumbuhan ini di tengkorak." Ia menyebut pertumbuhan tulang dimaksud kebanyakan setara dengan jumlah waktu yang dihabiskan orang untuk merunduk atau melihat ke bawah.

Berjam-jam scrolling ponsel cerdas, tablet, dan laptop bisa mendatangkan  banyak tekanan pada bagian tubuh yang kurang digunakan sehingga bagian tubuh ini benar-benar berubah. Secara khusus, otot-otot yang menghubungkan leher ke bagian belakang kepala terlalu sering digunakan menahan tengkorak dengan berat sekitar 5 kg.

Akibatnya otot-otot itu menjadi lebih besar dan lebih kuat hingga tumbuh lapisan tulang baru untuk memperkuat dan memperluas area. Rata-rata EOP saat ini 2,6 cm (1 inci) yang menurut para ilmuwan secara signifikan lebih besar dari rata-rata tahun 1996. Dan ini pengaruh revolusi teknologi yang digunakan dengan fungsi tangan.

Penelitian tahun lalu, tahuan 2017 rata-rata orang  Inggris menghabiskan 24 jam per minggu untuk smartphone atau orang memeriksa ponsel mereka setiap 12 menit. Dan dari 78 persen pemilik smartphone satu dari lima di antaranya  menghabiskan 40 jam atau lebih per minggu untuk browsing.

Shahar menambahkan beban mekanik yang berulang dan berkelanjutan mengarah pada adaptasi tendon dan jaringan ikat. “Pengembangan EOP dapat dikaitkan dengan aktivitas atau kegiatan berbasis layar oleh individu dari segala usia, termasuk anak-anak dengan postur tubuh yang buruk.”

Menurutnya  gangguan muskuloskeletal terkait postur tubuh yang buruk saat menggunakan komputer dan tablet telah menjadi objek penelitian dan diidentifikasi sebagai faktor risiko untuk pengembangan gejala terkait di leher, bahu dan lengan bawah. Meskipun benjolan tulang ini tidak menyebabkan efek merusak tetapi juga tidak akan hilang. “Bayangkan Anda memiliki stalaktit dan stalagmit, jika dirasa tidak mengganggu mereka  akan terus tumbuh membesar.”

Hal senada diungkapkan praktisi chiropractor Australia Dr James Carter yang   memperingatkan epidemi leher smartphone. Remaja dan anak-anak mulai usia  tujuh tahun kini memiliki kecenderungan bongkok dan pertumbuhan tulang yang  melengkung tidak normal akibat kecanduan smartphone yang membuat mereka tahan   berada dalam posisi merunduk selama berjam-jam.

“Kondisi ini disebut text neck karena seringkali disebabkan posisi duduk dengan kepala merunduk ke depan melihat layar gadget selama beberapa jam. Ini  bisa bersifat degeneratif dan memicu sakit kepala, leher, bahu dan punggung.”

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA