Bola-bola Pearl Membatu Jejali Perut, Hobi Minum Bubble Tea Siswi SMP Dilarikan ke Rumah Sakit

Ragam

Rabu, 12 Juni 2019 | 09:45 WIB

190612094221-100-b.jpg

dailymail

Seorang remaja terpaksa dibawa ke rumah sakit gara-gara hobinya meminum bubble tea. Teh dengan butiran jeli yang terbuat dari ekstrak tapioka itu meninggalkan lebih dari 100 bola tapioka yang “terperangkap” dalam tubuhnya karena tak tercerna dengan baik. Dikutip dari DailyMail kemarin, ABG 14 tahun itu dilarikan ke rumah sakit oleh orangtuanya, warga Shaoxing, Negeri Tirai Bambu setelah menderita sembelit selama lima hari.

Laporan media setempat, dokter mengatakan tubuh pasien dengan nama Xiao Shen itu  tak mampu mencerna bola tapioka bubble tea dengan sempurna. Siswi sekolah menengah pertama itu memang penggemar berat bubble tea. Minuman yang mengandung teh, susu, dan puluhan bola tapioka kecil ini populer di Asia Timur dan disajikan dengan pearl/boba  yang  terbuat dari ekstrak singkong asli Amerika Selatan. Meski hambar, tekstur kenyalnya terasa pas saat disajikan dengan bubble tea.

Tak tercerna dengan baik.

Di Cina secangkir bubble tea biasa dijual dengan harga 10 yuan atau sekitar Rp 18 ribu, cukup terjangkau oleh kantong remaja. Tak mengherankan jika Xiao Shen biasa membelinya. Namun bulan lalu ia mengeluhkan nyeri di perut hingga berakhir sembelit selama hampir satu minggu. Tak tahan, ia dibawa ke rumah sakit di Zhuji dengan kondisi perut  “menggembung”. Pemeriksaan X-ray ternyata membuat dokter kaget. Dokter Zhang yang menanganinya menyebut ada lebih dari 100 bola tersangkut di tubuhnya. Bola-bola tersebut memenuhi perut, usus hingga dubur.

Kepada dokter Xiao Shen mengaku meminum bubble tea lima hari sebelum sembelit. Namun dari jumlah bola tapioka di perutnya, dokter curiga bola-bola tapioka itu telah terakumulasi dalam periode cukup lama. Ia pun mengingatkan sang pasien yang mendapat obat pencahar untuk tidak berlebihan mengonsumsi bubble tea.

Hambar tapi pas untuk bubble tea.

Zhang memperingatkan karena tepung tapioka bisa sulit dicerna. Dia menambahkan bukan tak mungkin penjual bubble tea menambahkan pengawet adiktif pada bola tapioka untuk memperbaiki tekstur. Berasal dari Taiwan, bubble tea semakin populer di  kota-kota Barat dengan populasi warga Asia cukup besar seperti New York dan London.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR