Diabadikan Orientalis yang Menyamar Jadi Mualaf, Foto Pertama Mekah 131 Tahun Lalu Ditawarkan Rp 3 M

Ragam

Senin, 20 Mei 2019 | 11:11 WIB

190520111137-diaba.jpg

dailymail

Foto pertama Mekah yang diabadikan orientalis Belanda Christiaan Snouck-Hurgonje pada 1888 atau 131 tahun lalu dijual di rumah lelang Sotheby seharga £ 212.000 atau sekitar Rp 3,9 miliar. Christiaan bisa mengabadikan Kabah setelah berbohong dengan mengaku mualaf hingga diizinkan memasuki kota suci umat Islam tersebut.

Christiaan menulis dua volume buku “Mekka” dan “Bilder aus Mekka” yang rampung dalam satu setengah tahun selama bekerja di konsulat Belanda di Jeddah pada pertengahan tahun 1880-an. Latar belakang akademis di bidang Islam membuatnya menjadi kandidat ideal bagi pemerintah Belanda untuk menugaskannya memata-matai kaum bangsawan Indonesia yang tinggal di Teluk.

Christiaan Snouck-Hurgonje.

Fascinating.

Tempat tinggalnya di Jeddah secara strategis juga membuatnya dekat dengan   kalangan bangsawan Aceh yang berada di sana. Saat itu Perusahaan Hindia Timur Belanda tengah melakukan ekspansi ke Indonesia dan membutuhkan informasi intelijen tentang orang kuat Indonesia yang bepergian ke Mekah serta pemahaman mengenai adat istiadat Islam.

Christiaan juga berhasil membuat penduduk sekitar percaya dirinya mualaf. Padahal faktanya Christiaan seorang sarjana yang bersemangat melakukan tugas dan melebur dalam gaya hidup setempat. Misinya sangat sukses hingga Christiaan menjadi sarjana Barat pertama yang mendapat akses ke Mekah.

Koleksi fotonya termasuk dokumentasi warga setempat dari Mekah dalam pakaian tradisional mereka.

Dokumentasinya memperlihatkan para peziarah dari Indonesia dalam perjalanan menuju kota suci, para pelayan, kasim dan tuan mereka serta para peziarah dengan unta mereka. Sedangkan karya tulisnya merangkum rincian tentang kehidupan sehari-hari penduduk Mekah dan dokumentasi aktivitas ulama Indonesia.

Ulama Indonesia khususnya   dewan cendekiawan Islam  sangat menarik bagi Kompeni India Timur Belanda. Di antara orang-orang muslim yang kerap menghabiskan waktu dengannya baik di Timur Tengah maupun di Indonesia, Christiaan dikenal dengan Abdul Ghaffaar. Sebagai sarjana Islam, warga  bahkan meminta nasihatnya mengenai persoalan agama dan sosial.

Seorang kasim dan pelayan bersama anak tuan mereka (kanan atas) dan seorang wanita memegang pipa shisha sambil duduk di lantai (kanan bawah).

Namun sebelum awal ibadah haji  yang membuat Christiaan terpesona,  ia sempat berselisih akibat desas-desus yang disebarkan Kedutaan Prancis.  Christiaan disebut  mencuri artefak kuno. Demikian laporan Eurasia Review. Namun saat kembali ia mampu menyelesaikan tulisannya. Setelah itu popularitasnya melejit di kalangan internasonal sebagai orientalis terkemuka.

Berikutnya ia bekerja di Indonesia dan mendapat sambutan baik dari orang-orang yang ditemuinya di Mekah. Saat Perang Aceh tahun 1873 - 1914, Christiaan bahkan ikut memberi masukan pada Belanda bagaimana menghancurkan penduduk lokal.

Peziarah di jalan menuju Mekah bersama unta dan senapan serta pisau untuk perlindungan.

Di luar itu sosoknya dianggap kompleks dan banyak yang percaya Christiaan hanya berpura-pura simpatik terhadap Islam dan mengeksploitasi pengetahuannya tentang hal ini. Sempat belajar teologi di Universitas Leiden sebelum belajar bahasa Arab dengan spesialisasi Islam, Christiaan menghabiskan usianya menjadi akademisi.

Mengenai foto karyanya, Sotheby mengatakan mereka mendapat hak istimewa untuk menawarkannya bulan ini. Buku dan foto yang dipamerkan didapat dari keluarga Christiaan dan merupakan koleksi penulis. “Karena itu sulit membayangkan yang lebih sempurna dari karya-karya indah ini. Bagi yang ingin memiliki pemahaman tentang Mekah  arsip ini sumber yang luar biasa.”


Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR