Posting Polling Hidup/Mati di Instagram, 65% Follower Pilih Mati Siswa Sekolah Ini pun Bunuh Diri..

Ragam

Jumat, 17 Mei 2019 | 13:08 WIB

190517130553-posti.jpg

dailymail

Seorang remaja asal Negeri Jiran mengakhiri hidup setelah memosting polling di akun Instagram miliknya. Ia meminta saran kepada para follower-nya apakah harus bertahan atau mati saja. Dikutip dari DailyMail kemarin, remaja bernama Davia Emelia mengakhiri hidup di rumahnya di Sarawak, Malaysia. Ia melompat dari dari balkon setelah 65% hasil polling “mendukung kematiannya”.

Kasus menghebohkan sekaligus membuat merinding ini berawal dari ditemukannya jasad remaja 16 tahun itu di depan rumahnya yang merupakan toko tiga lantai pukul 08.00 pagi, awal minggu ini. Siswi sekolah itu berikutnya diketahui melakukan polling melalui platform berbasis foto Instagram dengan postingan singkat. “Really Important, Help Me Choose D/L” (Sangat Penting, Bantu Aku Memilih Mati/Hidup.”

Davia Emelia.

Pengguna aktif media sosial.

“D/L artinya death (kematian) atau life (kehidupan) dan hasil jajak pendapat 65 persen memilih D,” ujar kepala kepolisian distrik setempat, Aidil Bolhassan.  "Kami melakukan bedah mayat untuk menentukan apakah ada faktor lain dari kematiannya," lanjutnya. Ia menambahkan Davia memiliki riwayat depresi.

Peristiwa tragis ini kemudian diunggah melalui Story Instagram milik sepupunya beberapa jam setelah Davia ditemukan sudah terbujur kaku. Postingan Story memperlihatkan jasad Davia yang dikelilingi petugas. “Kalian memilih D dan ini yang terjadi.. kalian senang?” Demikian caption untuk pemandangan menggiriskan tadi.

Membuat gempar sekaligus memprihatinkan.

Sementara itu seorang tetangga kepada media lokal mengatakan Davia sosok yang rajin dan jarang terlihat tanpa buku. Keterangan Aidil kepada situs berita Astro Awani, Davia ternyata juga memosting pesan mengkhawatirkan di akun Facebook. “AKU INGIN BERHENTI HIDUP, AKU LELAH.” Mengenai  depresi yang dialaminya diperkirakan berasal dari kekecewaan akan sang ayah. Sejak menikahi perempuan Vietnam, ayah tirinya jarang pulang.

Menanggapi ini Instagram melalui kepala komunikasi Asia-Pasifik, Wong Ching Yee yang meninjau ulang akun Davia menyebut, jajak pendapat yang melewati batas 24 jam berakhir dengan 88%  suara untuk L.  Meski demikian Aidil menilai jumlah jajak pendapat sangat mungkin berubah setelah berita kematian Davia viral.

Salah satu sudut Kota Kuching.

Kasus ini memicu kekhawatiran di kalangan anggota parlemen Malaysia yang menyerukan penyelidikan lebih luas. Ramkarpal Singh, pengacara yang juga anggota parlemen mengatakan mereka yang memilih D bisa dinyatakan bersalah karena mendorong korban bunuh diri. Ia mempertanyakan kemungkinan seandainya mayoritas netizen menyarankan Davia mencari bantuan profesional.

Menteri Pemuda dan Olahraga Syed Saddiq Syed Abdul Rahman menegaskan peningkatan angka bunuh diri dan kesehatan mental di kalangan remaja harus ditanggapi serius. Di bawah hukum Malaysia, siapa pun yang didakwa bersekongkol mendorong bunuh diri anak di bawah umur dapat menghadapi hukuman mati atau penjara 20 tahun dan denda.

Ditanggapi langsung Instagram.

Instagram menyampaikan simpati pada keluarga Davia dan mengatakan perusahaan bertanggung jawab untuk membuat para pengguna merasa aman dan mendapat dukungan. "Sebagai bagian dari upaya pihak kami, kami meminta  pengguna memanfaatkan alat pelaporan  dan menghubungi layanan darurat jika melihat perilaku membahayakan keselamatan orang lain," kata Wong.

Februari lalu, Instagram melarang postingan yang mengandung kekerasan serta konten terkait aksi melukai diri sendiri. Ini dilakukan  demi keamanan pengguna yang rentan terpengaruh. Perubahan dilakukan setelah tekanan dari orangtua pengguna asal Inggris. Mereka kehilangan buah hatinya yang bunuh diri tahun 2017 setelah melihat-lihat akun Instagram berkonten aksi melukai diri, di samping efek depresi.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR