Kaisar pun Tak Berani Melihatnya

Diwariskan Dewa Matahari Amaterasu, Misteri Regalia Peninggalan Paling Suci Kerajaan Jepang

Ragam

Kamis, 16 Mei 2019 | 15:49 WIB

190516155430-diwar.jpg

net/rylcrrspndnt

Ritual upacara turun tahta Kaisar Akihito disusul suksesi oleh Putra Mahkota Naruhito memang sudah berakhir dengan resepsi resmi bulan Oktober mendatang. Meski demikian ritual yang dilakukan dengan sangat ketat itu kembali membuat publik diingatkan kembali akan keberadaan regalia atau benda tersuci kerajaan Negeri Sakura.

Dikutip dari DailyMail beberapa waktu lalu, Kaisar Jepang memiliki tiga regalia berupa cermin, pedang, dan permata  atau Imperial Treasures. Benda-benda suci tadi mewakili tiga kebajikan utama, yaitu keberanian (pedang), kebijaksanaan (cermin), dan kebajikan (permata). Ketiganya harus dilibatkan dalam  ritual puncak kekaisaran.

Kaisar Naruhito "menghadap" dewa suci Shinto usai penobatan.

Putri Masako ikut ritual suci.

Perkiraan tampilan regalia kekaisaran Jepang.

Selain peninggalan, regalia  juga merupakan simbol kekuatan kekaisaran  karena Jepang tidak memiliki mahkota kekaisaran. Dari  mana datangnya regalia Kaisar Naruhito? Diyakini berasal dari era lebih dari seribu tahun lalu, regalia Jepang  konon diwariskan pada penguasa kekaisaran oleh Dewa Matahari Amaterasu langsung. Amaterasu merupakan dewa paling suci dalam mitologi Jepang.

Para penganut Shinto meyakini Kaisar Jepang merupakan keturunan Amaterasu yang sosoknya kini dihormati di Kuil Ise Jingu dan ditempatkan di puncak yaoyorozu atau delapan juta dewa semua benda yang dikenal dalam tradisi Shinto. Regalia menjadi syarat pengunduran diri kaisar dan aksesi sekaligus simbol hubungan spiritual antara masa lalu dan masa kini serta roh-roh suci.

Kaisar Akihito saat melakukan ritual di kuil paling suci Shinto dengan membawa serta dua dari tiga regalia kekaisaran.

Dua regalia yang terbungkus rapat turut diusung pada prosesi turun tahta.

Saking sakralnya ketiga regalia kaisar ini selalu disembunyikan di dalam kotak. Bahkan kaisar pun belum pernah melihatnya. Meski demikian regalia dianggap penting bagi keluarga kerajaan. Terkait hal ini kakek Naruhito, Kaisar Hirohito mengatakan, melindungi regalia adalah faktor utama  keputusannya menyerah dalam Perang Dunia Kedua.

"Jika musuh mendarat di dekat Teluk Ise, Kuil Agung Ise dan Kuil Atsuta akan segera berada di bawah kendali musuh tanpa ada kemungkinan kita memindahkan harta suci." Demikian kutipan pernyataan Hirohito. Dan di antara tiga regalia ini, cermin bersisi delapan atau Yata no Kagami sebagai lambang kebijakan disebut menjadi yang tersuci.

Akihito menyerahkan tahta dan warisan regalia.

Naruhito menerima mandat kekaisaran dan harta tersuci tiga regalia.

“Cermin suci Yata no Kagami kemungkinan terbuat dari perunggu dengan desain rumit dan ukiran di salah satu sisinya. Cermin kuno Yata no Kagami  diperkirakan berdiameter 20-30 cm,” ujar Naoya Kase, profesor Universitas Kokugakuin. Kuil Agung Ise di prefektur Mie yang juga itus paling suci agama Shinto dipercaya sebagai tempat penyimpanannya.

Berikutnya ada Kusanagi no Tsurugi atau pedang suci yang merepresentasikan keberanian. Tempat khusus penyimpanan regalia ini yaitu Kuil Atsuta Shrine dipercaya dibangun pada masa Kaisar  Keik (71-130)  di prefektur  Aichi.  Pedang ini juga bukan sekadar hiasan tetapi senjata berupa pisau besi yang digunakan sebagai alat pertahanan.

Kaisar Akihito dan Putri Michiko pamit.

Rakyat jepang melepas era lama menuju era Reiwa.

Menurut legenda pedang suci ini didapat dari tubuh ular berkepala delapan oleh Susanoo-no-Mikoto, dewa laut Shinto. Dikabarkan hilang di laut selama pertempuran abad ke-12, sejumlah pakar kesejarahan menyebut pedang yang hilang adalah duplikatnya.

Regalia terakhir Yasakani no Magatama  atau perhiasan suci  berupa manik melengkung yang terbuat dari giok dan melambangkan kebajikan. Manik ini disimpan di Istana Kekaisaran, kediaman utama kaisar di Tokoyo. Manik regalia dipercaya menjadi aksesori dan syarat upacara suci pada zaman kuno. Kase menyebut kemungkinan warnanya merah.

Kaisar Naruhito dan Putri Masako.

Aiko, putri semata wayang Kaisar Jepang.

“Ini mungkin satu-satunya regalia asli yang masih ada. Catatan kuno merujuk kisah seorang kaisar yang mencoba membuka kotak berisi perhiasan. Tapi asap putih kemudian muncul dan kaisar yang ketakutan memerintahkan para pembantu  untuk segera menutupnya. Perhiasan tadi Yasakani no Magatama.” Benar atau tidak sepertinya hanya kaisar yang tahu.

I see..

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR