Makna di Balik Kekhusyukan Salat

Ragam

Jumat, 22 Maret 2019 | 20:04 WIB

190322200545-makna.jpg

republika.co.id

SALAT tak sekadar ritual dan rutinitas yang diawali dengan takbir dan ditutup dengan salam. Lebih dari itu, salat adalah ikhtiar seorang hamba untuk menundukkan seluruh raganya. Penundukan itu berfokus pada penaklukan hati yang dapat mengarah pada ketenangan jiwa.

Jiwa yang tenang inilah yang sejatinya akan meredam nafsu. Konon, nafsu amarah itu jika tidak diredam, dapat menguasai dan merajai anggota tubuh. Ketenangan jiwa tatkala menjalankan salat lebih dikenal dengan istilah khusyuk. "Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar." (QS al-Ankabuut [29]: 45).

Baca Juga: Saat Salat Lupa Baca Surah usai Membaca Al-Fatihah, Ini Hukumnya

Al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali (795 H) dalam sebuah kitabnya yang berjudul, al-Khusyu' fi as-salat, membedah dan menguak rahasia dan makna di balik kekhusyukan salat.

Secara khusus, Ibnu Rajab menguraikan tema demi tema dalam kitabnya itu untuk menjelaskan tentang perkara yang berkaitan dengan salat dan khusyuk.

Khusyuk diartikan Ibnu Rajab sebagai bentuk kelembutan hati yang tecermin dalam setiap tindakan. Menurut dia, pada hati ada poros utama bagi keseluruhan jasad seseorang.

Tatkala hati bersih, luruslah segala tindakan. Begitu juga sebaliknya, hati yang dikotori dengan tindakan nista dan dosa, akan menjadi buruk dan dapat menjerumuskannya pada perbuatan hina.

Ketika hati rusak, rusaklah anggota jasad lainnya. Makna khusyuk inilah yang digunakan oleh Rasulullah dalam ucapannya saat melakukan rukuk. Rasulullah membaca doa ketika rukuk yang artinya, "Pendengaran, penglihatan, otak, dan tulang belulangku tunduk kepada-Mu".

ADVERTISEMENT


Ketika itu, Sa'id bin al-Musayyib melihat seseorang menggerak-gerakkan tangannya sewaktu salat. Gerakan tangannya itu tanpa dimaksudkan untuk perkara yang penting dan mendesak. Said pun lantas mengatakan, "Seandainya hati orang tersebut khusyuk, seluruh anggota tubuhnya akan khusyuk."

Ali bin Abi Thalib mengemukakan pandangannya tentang khusyuk. Pendapatnya itu disampaikan saat mengomentari surah al-Mukminun ayat 2. "(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sembahyangnya." Menurutnya, yang dimaksud dengan khusyuk adalah ketenangan yang berada dalam hati.

Khusyuk akan menghindarkan seseorang dari perbuatan mengganggu orang yang salat di sampingnya. Khusyuk juga bisa terlihat karena yang bersangkutan tak akan mengalihkan pandangannya dan tak akan menoleh ke arah manapun, selain ke tempat sujudnya.

Sedangkan, menurut Ibnu Abbas, khusyuk yang dimaksud ayat tersebut diartikan sebagai sikap takut dan rasa ketenangan yang diperoleh seseorang ketika salat.

Namun, ketenangan dalam bersikap belum tentu cerminan dari kekhusyukan hati. Bahkan, justru ketenangan itu bisa menggambarkan fakta sebaliknya, yaitu kekosongan hati.

Keadaan inilah yang diwanti-wanti oleh para salaf. Mereka menyebut khusyuk kategori ini sebagai khusyuk nifaq, yaitu kekhusyukan palsu. Sebagian dari kalangan salaf meminta agar sikap tersebut dihindari.

Orang yang menampakkan kekhusyukan dalam salat, padahal sama sekali tidak ada ketenangan di hatinya, khusyuk yang ditunjukkan itu tiada bermakna dan tak berguna. Umar bin Khattab pernah menegur seorang remaja yang tengah melaksanakan salat.

Tingkat ketajaman batin Umar dapat merasakan kepalsuan khusyuk yang dipertontonkan remaja tersebut. Ia lantas meminta agar si remaja mengangkat kepalanya dan mengatakan bahwa khusyuk itu hanya terdapat di hati.

Sumber: republika.co.id

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR