Divonis Dokter Takkan Hamil, Pria Ini Akhirnya Melahirkan

Ragam

Senin, 11 Maret 2019 | 10:30 WIB

190311134008-divon.jpg

dailymail

Menjalani kehamilan tentunya tidak mudah bagi seorang perempuan. Dan semakin sulit lagi jika ibu hamil ini juga kadung memutuskan menjadi pria dan divonis dokter takkan bisa hamil. Ya, meski tak lagi menjadi kasus baru, “ayah” yang mengandung alias ibu transgender mengaku mengalami tantangan psikologis yang sangat menantang emosi. Utamanya selama masa-masa kehamilan.

Saking tak mudahnya, mengalami pelecehan verbal dan penilaian miring dari sekitar, warga Texas Wyley Simpson sampai tak ingin lagi mengalaminya. Pria  berusia 28 tahun itu memastikan bayi laki-laki yang dilahirkannya menjadi yang pertama sekaligus terakhir. Meski demikian ia juga memahami bukan sesuatu yang biasa melihat sosok berjanggut dan berkumis dengan perut membuncit karena hamil.

Kehamilan tak terduga.

Bersama Rowan dan Stephan.

Dikutip dari DailyMail beberapa waktu lalu, bersama tunangannya, Stephen Gaeth ia menjadi pria di usia 21 tahun. Dan menjalani terapi testosteron olus  divonis tidak mungkin  hamil karena sudah berhenti menstruasi, Wyley ternyata hamil pada Februari 2018. Meskipun awalnya merasa tidak siap  menjadi orangtua, ia melanjutkan kehamilannya. 

Dan sejak itu pula ia  berjuang melawan stigma nyaris setiap hari. Pada September 2018, Wyley melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Rowan melalui operasi caesar darurat.  Meski masih memiliki organ intim perempuan  dan organ reproduksi, melahirkan tetap diakui menguras emosi. 

Menjadi perempuan di usia 21.

Transisi penuh setelah melahirkan.

"Intervensi transisi".

“Tidak setiap hari orang melihat pria hamil jalan-jalan, jadi aku menerima cukup banyak pelecehan," katanya. Wyley  yang sudah menjalani operasi mengangkat payudara juga tidak bisa menyusui. Namun ia siap melakukan transisi penuh menjadi ayah.

Wyley memulai terapi testosteron pada tahun 2012 dan menjalani operasi bagian atas (payudara) pada 2013, namun belum menjalani operasi pergantian organ intim. Meski sempat berpikir Wyley kemungkinan masih bisa hamil, Stephan yakin tak mungkin mereka menjadi orangtua karena terapi testosteron membuat Wyley berhenti mens. 

Dalam wawancara dengan KENS5 Wyley menyebut dirinya tak lagi memiliki siklus menstruasi dalam beberapa tahun terakhir. “Dokter memberitahu aku tak akan hamil tapi kenyataannya tidak demikian. Aku gugup dan sangat emosional, bahkan menangis saat tahu hamil. Aku tidak tahu harus berbuat apa,” katanya. Tapi akhirnya ia tidak menggugurkannya.

Wyley juga menyebut kekhawatirannya lebih pada stigma yang harus dihadapi. “Jangankan hamil, transisi menjadi pria saja sudah tidak mudah. Aku menghadapi komentar kasar dari orang yang aku tak kenal. Jadi ini kehamilan yang melelahkan, baik fisik maupun mental,” katanya. 

Precious.

Namun setelah Rowan lahir, Wyley memastikan semua perjuangannya tidak sia-sia. “Rowan membawa kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan dan kini aku seorang ayah,” katanya.  Setelah melahirkan ia juga kembali menjalani terapi hormon. 

“Sejak kelahiran Rowan, aku dan Stephan tiba-tiba  menjadi pasangan gay dengan anak laki-laki. Tapi Rowan luar biasa, dia membuat semua rasa sakit mental dan fisik yang kulalui benar-benar sepadan. Sekarang aku dan Stephan hanya ingin menikmati peran sebagai ayah dan kami tidak sabar  melanjutkan perjalanan sebagai keluarga."

Tak lagi peduli kata orang.

Di luar itu Wyley menegaskan tidak akan mengandung lagi. “Aku ingin menuntaskan transisiku, jadi memiliki anak secara alami tidak mungkin lagi. Kehadiran Rowan sangat luar biasa. Ini menandai akhir dan awal dari fase baruku,” katanya. Dan melahirkan tak membuat Wyley merasa kurang sebagai pria.

Sebaliknya ia kini mengaku sempurna. “Aku perempuan yang menjadi pria, jadi kehadiran Rowan seperti keseimbangan,” katanya. Ia juga tak akan lagi memikirkan apa yang orang lain pikirkan.

Ok, got it.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR