Akankah Sentra Koran Cikapundung Terus Meredup?

Ragam

Jumat, 8 Februari 2019 | 17:48 WIB

190208175120-akank.jpg

info pikiran-rakyat

INSAN pers di seluruh Indonesia bersuka cita karena akan menyambut Hari Pers Nasional yang jatuh pada 9 Februari. Perkembangan pers juga terus mengalami perubahan, yang pada titik saat ini sudah berbasis teknologi atau online.

Masyarakat sekarang lebih mudah untuk mengakses berita dan informasi, dengan modal gadget dalam genggaman tangan. Dimana portal berita online bertebaran di dunia maya, belum ditambah dengan keberadaan media sosial.

Walau perkembangan teknologi pada media massa cukup masif, namun media konvensional seperti koran masih tetap eksis hingga sekarang. Meski jumlahnya terus berkurang, karena hanya pembaca setia yang tetap bertahan dengan media cetak tersebut.

Kawasan Cikapundung merupakan satu-satunya kawasan di Kota Bandung, yang dikenal dengan Pasar Koran (Sentra Koran) pada pagi hari. Karena mulai dari pukul 03.00 WIB hingga terbit matahari, berkumpul agen koran, loper, pengecer untuk memperoleh koran, yang selanjutnya didistribusikan kepada masyarakat.

Setiap harinya, sejak pagi buta puluhan agen koran sudah menunggu kedatangan pengecer dan loper untuk mengambil koran. Saat ini, agen koran masih tetap eksis, namun untuk agen tablod, majalah, TTS sudah mulai berkurang drastis.

Menumpuknya ratusan bahkan ribuan koran menjadi pemandangan umum, di Kawasan Cikapundung ketika para pelaku usaha koran tersebut beraktivitas. Mulai dari yang merapikan, menyusun, membagikan koran dan lain sebagainya.

Loper koran dan pengecer datang silih berganti untuk memperoleh koran, yang selanjutnya akan dikirim ke pelanggan maupun dijajakan kepada warga.

Salah seorang agen koran, Ade Rahmat (53) menuturkan bahwa bisnis penjualan koran saat ini sedang lesu. Karena pembacanya yang mulai berkurang, dengan lebih mudahnya akses berita lewat internet atau online.

"Sekarang harga koran makin mahal tapi halaman makin tipis. Belum lagi sekarang banyak yang memilih cari berita di media online atau sosial," ungkapnya di Kawasan Cikapundung, Kota Bandung, Jumat (8/2/2019).

Pria yang sudah menggeluti bidang ini selama 30 tahun tersebut, mengatakan bahwa masa kejayaan koran ketika pada tahun 2000-an. Dimana media online atau media sosial, belum semasif saat ini.

Menurutnya pada masa itu, agen koran yang berkumpul di Kawasan Cikapundung bisa mencapai 150 lebih, yang kini terus berkurang hingga hanya 50 agen koran yang tetap bertahan. Sementara pembaca atau peminat koran terus berkurang, tapi dengan adanya pembaca setia membuatnya tetap melakoni bisnis tersebut.

"Selama ada yang membutuhkan dan permintaan maka terus berjalan, karena yang diharapkan cuma pembaca yang tetap setia sama koran," katanya.

Ade berharap keberadaan koran tidak punah ditelan zaman, karena merupakan masih banyak yang mencari nafkah dan rezeki dari media cetak ini.

"Saya juga pesimis, apakah masih bisa bertahan dua atau tiga tahun lagi. Semoga bisa tetap bertahan walau sekarang ramai media online," ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, karyawan Agen Koran, Ujang (52) mengakui bahwa keberadaan media cetak saat ini, ibarat "Hidup Segan Mati Tak Mau". Karena walau masih ada, namun dalam keadaan terseok-seok.

"Dulu banyak iklan di koran-koran, jadi tetap hidup dan kuat. Tapi sekarang iklannya sudah jarang,padahal ini yang buat koran tetap hidup," tambahnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR