Kota Diselimuti Asap Pembunuh, Masker Susah Didapat Warga Bangkok Gunakan Bra dan Celana Dalam

Ragam

Kamis, 17 Januari 2019 | 12:00 WIB

190117113154-kota-.jpg

dailymail

Penduduk lokal Thailand ramai-ramai menggunakan  bra dan celana dalam untuk menutup mulut dan sebagian wajah. Ini dilakukan karena mereka mengaku kesulitan mendapatkan masker. Ibu kota Bangkok sendiri diliputi selimut tebal asap berkegori “pembunuh” sejak hari Minggu. Ini memicu peringatan kesehatan sekaligus  upaya untuk mendatangkan hujan.

Kini  awan beracun berupa campuran partikel halus yang delapan kali lebih tinggi dari tingkat aman ini diperkirakan akan terus berlanjut selama setidaknya satu bulan di tengah cuaca lembab dan stagnan. Penjualan masker  N95 yang bisa memblokir partikel  melonjak drastis dan sebagian besar toko kehabisan stok.

Wait is that a mask?

Real masks..

Situasi ini menyebabkan warga merasa harus “berimprovisasi” menghadapi kabut asap. Dan bra menjadi alternatif bagi para pria. Seorang warga misalnya  terlihat mengenakan  bra merah yang diikatkan di wajah saat  mengendarai sepeda motor.

Sementara kaun Hawa tampaknya lebih memilih celana dalam. Dan nyatanya tak sedikit kaum Adam yang juga nekat menggunakan CD sebagai pelindung asap dari paru-paru. Sementara itu para pejabat Thailand menyebut mereka  berusaha memerangi kabut asap dengan menyemprotkan air ke udara. Hujan buatan diyakini akan membantu membuyarkan polutan yang tertinggal di udara.

Next level?

Tetapi metode aneh mengatasi polusi ini membuat warga bingung. Mereka pun memilih menimbun masker wajah untuk melindungi diri dari kabut asap. Sedangkan lembaga kesehatan memperingatkan pemerintah yang dianggap tidak menangani ancaman kesehatan ini dengan serius.

Supat Wangwongwatana, mantan kepala Departemen Pengendalian Polusi negara mengatakan,  "Langkah-langkah yang diterapkan tahun lalu sama dengan tahun ini dan kabut asap masih kembali ke tingkat yang sama. Ini bukan solusi, hanya bantuan sementara."

Rungsrit Kanjanavanit, dosen medis di Universitas Chiang Mai menyebut akar  polusi harus ditangani. “Pihak berwenang masih tidak menyadari bahaya nyata pencemaran udara,  mereka  tidak menanganinya seperti ancaman  bencana dan penyakit, yang dapat membunuh orang secara instan,” katanya.

In the name of emergency..

Awan polusi mematikan yang dipicu partikel debu halus dan polutan udara lainnya menyelimuti langit Bangkok sejak  12 Januari dan dinyatakan delapan kali lebih tinggi dari batas aman.

Hal ini disebabkan  tingginya jumlah mobil di jalanan, ledakan  proyek konstruksi dan ratusan ribu penjual makanan jalanan yang memanggang makanan di luar rumah. Para ahli kesehatan  memperingatkan  polusi merupakan  silent killer dan saat ini sudah sangat membahayakan siapa pun yang berada  di luar rumah. 

No comment.

Witsanu Attavanich, profesor ekonomi Universitas Kasetsart mengatakan,  "Polusi udara benar-benar merupakan pembunuh yang diam-diam dan banyak orang Thailand meremehkan bahaya ini bagi kesehatan mereka, sehingga tidak banyak yang melindungi diri dengan mengenakan masker muka atau memasang pembersih udara di rumah."

Visibilitas di beberapa bagian Bangkok berkurang menjadi hanya 1 km sementara tingkat kualitas udara meroket melewati zona aman. Indeks kualitas udara PM2.5 (AQI) di beberapa bagian Bangkok mencapai 394 mikrogram, jauh melampaui batas 50.

Sudah didapat.

Partikel debu PM2.5 sangat kecil dan dalam diserap dalam aliran darah melalui paru-paru. Ini bisa  menyebabkan penyakit kronis seperti asma, kanker, penyakit jantung, dan stroke dalam jangka panjang. Attavanich mengatakan negara akan menghadapi konsekuensi miliaran baht dalam biaya kesehatan tambahan kecuali polusi udara parah ini ditangani.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR