Stroke, Satu-satunya Penyakit yang Memberikan Kecacatan Seumur Hidup

Ragam

Rabu, 16 Januari 2019 | 16:23 WIB

190116162403-strok.jpg

Irwina Istiqomah

PENYAKIT stroke masuk dalam tuga besar penyakit mematikan di dunia selain kanker dan jantung. Di antara ketiga penyakit tersebut, stroke menjadi satu-satunya penyakit yang memberi kecacatan yang dirasakan seumur hidup.

Dokter spesialis penyakit saraf, Sukono Djojoatmodjo mengatakan, penyakit stroke tidak hanya menyerang usia tua, tetapi juga usia muda. Penyakit ini disebabkan adanya gangguan pada otak.

"Aliran darah ke otak terganggu akibat tersumbat atau pecah pembuluh darah. Sebanyak 85 persen itu jenis sumbatan. Tapi, harus kita tentukan jenisnya dengan alat khusus. Rumah sakit yang menangani penyakit stroke minimal harus punya CT scan dan MRI. Pengobatan dengan teknologi canggih itu pasti mahal," ujarnya dalam acara Prudential Indonesia di Gedung Sabuga, Jln. Tamansari Bandung, Rabu (16/1/2019).

Menurutnya, satu kali suntikan untuk jenis sumbatan bisa membutuhkan biaya Rp 8-10 juta. "Kalau pakai teknologi modern yang bisa mencairkan pembekuan di otak itu biayanya puluhan sampai ratusan juta. Untuk jenis pendarahan yang harus dioperasi minimal biayanya 2-3 digit," tuturnya.

Namun, 80 persen faktor risiko stroke bisa dicegah dengan menjalankan gaya hidup sehat. "Mulailah dengan konsultasi ke dokter. Apalagi, kalau sudah memasuki usia 40 tahun. Asupan makanan sehatnya harus dijaga dengan mengurangi konsumsi karbohidrat, gula, dan kolesterol. Usahakan untuk berhenti merokok," terangnya.

Sukono mengatakan, gejala stroke bisa terjadi secara tiba-tiba yaitu dilihat dari senyum, gerakan lumpuh separuh badan, dan bicara yang tidak mengeluarkan suara. "Itu bisa menjadi gambaran kemungkinan terkena gejalan stroke. Harus segera dibawa ke rumah sakit karena stroke termasuk darurat medis," ujarnya.

Chief Agency Officer Prudential Indonesia, Premraj Thuraisingam menambahkan, kesibukan dan tuntukan pekerjaan menjadi tantangan dalam menerapkan pola hidup sehat. Pasalnya, berjuang melawan penyakit kritis dapat menguras emosi dan fisik pasien serta mengganggu perencanaan keuangan.

"Kami berharap dapat membantu ketenangan pikiran nasabah dan keluarganya. Nasabah dapat memanfaatkan uang perlindungan untuk membantu biaya pengobatan rumah sakit dan biaya hidup," katanya.

Premraj sepakat bahwa usia muda tidak menjamin seseorang terbebas dari ancaman penyakit mematikan. "Masyarakat harus mulai menaruh perhatian karena dampak dari penyakit kritis bukan saja kematian dan kecacatan, tetapi juga beban keuangan," tuturnya.

World Health Organization (WHO) mengungkapkan, penyakit tidak menular diperkirakan menjadi penyebab 73 persen kematin di Indonesia. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 Kementerian Kesehatan, prevalensi penyakit tidak menular mengalami kenaikan seperti kanker (1,8 persen), stroke (10,9 persen), ginjal kronis (3,8 persen), dan hipertensi (34,1 persen).

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR