180809175321-ada-k.jpg

kumparan.com

Ada Kotak Terdingin di Luar Angkasa yang Sedang Mengitari Bumi

Ragam

Kamis, 9 Agustus 2018 | 17:53 WIB

Wartawan: Endan Suhendra

SEBUAH eksperimen di Stasiun Luar Angkasa Internasional atau International Space Station (ISS) berhasil membuat suatu area berbentuk kotak di sana mencapai temperatur yang sangat rendah. Temperatur ini dicapai saat peneliti sedang mempelajari fase zat yang berbeda dengan fase zat cair, gas, solid, atau plasma.

Dilansir IFL Science, tujuan eksperimen ini adalah untuk membuat sebuah fase zat Bose-Einstein Condensate (BEC). BEC adalah fase zat yang terjadi ketika gas dengan densitas rendah didinginkan ke temperatur super rendah. Dalam fase ini atom memiliki sifat seperti gelombang alih-alih seperti partikel.

Baca Juga: 4 Tahun Lagi, Cina Luncurkan Stasiun Luar Angkasa

Dengan melakukan eksperimen ini, kita bisa memahami bagaimana perubahan fisika terjadi dalam kondisi ekstrem. Dijelaskan juga bahwa ini adalah kali pertama BEC dibuat di orbit Bumi.

"Bisa melakukan eksperimen BEC di ISS adalah mimpi yang jadi kenyataan," ujar Robert Thompson, peneliti dari NASA Jet Propulsion Laboratory (JPL).

Baca Juga: Peluncuran Satelit Merah Putih Berjalan Lancar

Eksperimen BEC di ISS dilakukan dengan menggunakan alat Cold Atom Laboratory (CAL) yang berbentuk kotak menyerupai boks es. Alat ini bisa mencapai temperatur 100 nanoKelvin, lebih dingin dibanding temperatur luar angkasa yang biasanya berada pada temperatur tiga Kelvin atau sekitar -270 derajat Celcius.

Menurut tim peneliti, ada keuntungan eksperimen ini dilakukan di luar angkasa, yakni BEC bisa dipelajari lebih lama. Dijelaskan bahwa di Bumi, BEC hanya bisa eksis dalam hitungan kurang dari satu detik. Sementara itu di ISS, stasiun yang sedang mengitari Bumi, CAL bisa membuat BEC yang bisa eksis antara lima hingga 10 detik, dan para peneliti bisa melakukan eksperimen dengan CAL hingga enam jam dalam sehari.

Baca Juga: Besok, Satelit Merah Putih Milik Telkom Diluncurkan di Florida Amerika Serikat

"Biasanya eksperimen BEC menggunakan banyak peralatan dan membutuhkan kehadiran peneliti untuk memonitornya. Sementara CAL ukurannya hanya sebesar kulkas kecil dan bisa dioperasikan dari Bumi," kata Robert Shotwell, kepala insinyur direktorat astronomi dan fisika NASA JPL.

CAL sekarang masih berada dalam fase uji coba. Alat canggih ini baru akan memulai operasinya pada September mendatang dan dilaporkan bahwa antrean untuk menggunakannya telah penuh hingga tiga tahun ke depan.

Sumber: kumparan.com

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:



BERITA LAINNYA

KOMENTAR