180416193628-mahasiswa-uns-jadikan-akar--puteri-malu--lawan-penyakit-tanaman-cabai.jpg

Tok Suwarto

Arifah Eviyanti menunjukkan formula "Chillica" yang bahan bakunya akar tanaman "Puteri Malu" untuk mengatasi penyakit tanaman cabai jamur antraknosa.

Mahasiswa UNS Jadikan Akar "Puteri Malu" Lawan Penyakit Tanaman Cabai

Ragam

Senin, 16 April 2018 | 19:36 WIB

Wartawan: Tok Suwarto

MAHASISWA program studi agronomi Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (FP-UNS) Solo, Arifah Eviyanti, menyatakan galau, karena komoditas cabai sering menjadi masalah nasional karena harganya melambung tinggi.

Di sisi lain, masyarakat internasional juga mempersoalkan penggunaan zat-zat anorganik untuk tanaman yang berdampak pada komoditas hasil pertanian di Indonesia.

Arifah dalam penelitiannya selama setahun terakhir mendapati, di antara penyebab tingginya harga cabai karena hasil panen cabai di sentra pertanian komoditas itu rendah. Saat tanaman cabai sedang masa berbuah pada musim penghujan, banyak buah cabai mengalami kerusakan akibat serangan jamur yang dia sebut "antraknosa".  

Di tengah kegalauan tersebut, Arifah mendapati banyak semak tanaman perdu "Puteri Malu" yang tumbuh liar di ladang-ladang. Secara iseng yang diikuti serangkaian percobaan, mahasiswa program diploma FP-UNS itu memanfaatkan akar tanaman "Puteri Malu" sebagai bahan baku obat tanaman yang ternyata menghasilkan dampak positif.

Setelah melewati proses penelitian dan beberapa kali percobaan, hasilnya menunjukkan ekstrak akar tanaman "Puteri Malu" mampu mengendalikan jamur "antraknosa" yang menyerang tanaman cabai. Kemudian, Arifah memberi nama formula temuannya tersebut dengan "Chillica", karena senyawa ekstrak akar "Puteri Malu" dengan bahan nabati lainnya mampu mengendalikan jamur "antraknosa" sehingga cabai dapat berbuah secara normal.

"Berdasarkan penelitian, akar tanaman Puteri Malu ternyata mengandung zat aktif mimoza yang efektif menghambat pertumbuhan penyakit tanaman antraknosa. Penyakit berupa jamur itu kebanyakan menyerang tanaman cabai. Efektivitas formula Chillica sudah saya ujicoba pada tanaman cabai di daerah Bantul Yogyakarta," katanya.

Arifah berharap, jika hasil temuannya dapat digunakan pada tanaman cabai akan dapat meningkatkan hasil panen pada tahun mendatang. Mengutip perkiraan konsumsi cabai yang pada 2019 akan meningkat dua persen, dia yakin peningkatan produksi cabai dengan cara mengendalikan penyakit tanaman menggunakan obat-obatan herbal alami akan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat.

Arifah menambahkan, formula temuannya juga cocok digunakan pada tanaman di lahan pasir pantai. Jika budidaya tanaman memanfaatkan lahan pasir pantai dapat dikembangkan, dia juga yakin akan dapat mencegah alih fungsi lahan.

Hasil temuan Arifah Eviyanti tersebut, masih akan diuji para ahli di ajang karya mahasiswa berprestasi (Mawapres) yang digelar Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) di Jakarta.

Selain karya Arifah yang mengikuti Mawapres jenjang diploma, karya inovasi mahasiswa Fakulta Teknik program studi teknik elektro UNS, Ratih Rahmatika, yang dinamakan "EM-SAB" (Energi Monitoring dan Siaga Air Bersih) juga lolos mewakili UNS di ajang Mawapres jenjang S-1. Karya inovasi Ratih adalah berupa alat dan aplikasi yang berfungsi untuk memantau arus sungai dan kualitas air baku untuk air bersih.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:



BERITA LAINNYA

KOMENTAR