Rawan Konflik, Kodim 0611 Garut Terus Lakukan Pemantauan Jelang Pilkada 2018

dokumen galamedianews.com

Dandim 0611 Garut, Letkol Inf. Asyraf Azis

Rawan Konflik, Kodim 0611 Garut Terus Lakukan Pemantauan Jelang Pilkada 2018

Pilkada

Senin, 11 Juni 2018 | 21:26 WIB

Wartawan: Agus Somantri

PROSES dan pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak 2018 di Kabupaten Garut rawan menimbulkan konflik. Terlebih pelaksanaan Pilkada akan digelar tak begitu lama pascalebaran sehingga perlu mendapatkan pengawasan yang benar-benar ketat.

Komandan Kodim (Dandim) 0611 Garut, Letkol Inf. Asyraf Azis, mengatakan jajarannya terus melakukan pemantauan situasi Garut terkini menjelang pelaksanaan pilkada yang tinggal hitungan hari lagi. Pemantauan dilakukan untuk menghindari terjadinya hal yang tak diharapkan yang bisa mengganggu keamanan.

"Kami tak mau kecolongan sehingga kami terus melakukan pemantauan terkait situasi kondisi terkini di seluruh pelosok wilayah Garut," ujarnya, Senin (11/6/2018).

Menurut Asyraf, pelaksanaan pilkada serentak di Garut memang dikategorikan rawan terjadi konflik. Bukan sesuatu yang mustahil akan muncul hal-hal yang dapat memicu terjadinya konflik. Konflik bisa saja dipicu akibat ulah tim sukses atau pendukung masing-masing pasangan calon.

Ia juga menilai, maraknya penggunaan media sosial (medsos) oleh para tim sukses dan pendukung masing-masing pasangan calon juga bisa menimbulkan kerawanan memicu konflik. Apalagi tak sedikit postingan di media sosial yang terang-terangan menyudutkan pasangan calon tertentu sehingga bisa memancing kemarahan tim sukses dan pendukung pasangan calon bersangkutan.

"Banyak tim sukses dan pendukung salah satu pasangan calon yang sengaja mengunggah pernyataan atau foto dengan maksud menyudutkan pasangan calon lainnya. hal ini tentu sangat kita sesalkan karena dapat memicu munculnya konflik," ucapnya.

Dikatakan Asyraf, hal seperti ini lah yang selama ini terus dipantau dan diawasi sebagai langkah antisipasi terjadinya hal yang tak diharapkan. Antisipasi yang dilakukan lebih kepada dampaknya di masyarakat, jangan sampai apa yang diunggah di media sosial tersebut berdampak di dunia nyata.

Asyraf menambahkan, selain maraknya penggunaan media sosial untuk menyudutkan pasangakan calon yang menjadi lawan politiknya, banyak juga hal lainnya yang bisa memicu munculnya konflik di Kabupaten Garut. Karena itu, langkah yang dilakukan pihaknya adalah terus berusaha menghilangkan resiko konflik tersebut dengan melakukan monitoring penuh di seluruh wilayah.

"Kita tentunya ingin menciptakan situasi dan kondisi Garut yang aman dan kondusif. Jangan sampai muncul riak-riak yang malah kemudian bisa memicu konflik komunal dan lainnya," tuturnya.

Asyraf pun mengimbau kepada semua tim sukses dan pendukung masing-masing pasangan calon untuk sama-sama menahan diri dan tidak berbuat hal yang bisa memancing terjadinya konflik. Kalaupun merasa ada kecurangan yang dilakukan terhadap pasangan calon yang didukungnya, maka sebaiknya hal itu dilaporkan kepada pihak yang berwenang menanganinya.

"Kalau menemukan adanya pelanggaran atau kecurangan, selesaikanlah sesuai aturan yang berlaku. Jangan main hakim atau bertindak sendiri karena hal itu malah bisa memicu terjadinya konflik," ucapnya.

Namun demikian Asyraf menyebutkan, untuk saat ini secara umum situasi Garut masih kondusif dan tidak ada hal yang menonjol hingga bisa menyebabkan konflik jangka panjang. "Namun begitu, hal tersebut bisa saja berubah seketika jika tidak disikapi dengan serius oleh pihak-pihak terkait," katanya.

Editor: H. Dicky Aditya

Bagikan melalui:



BERITA LAINNYA

KOMENTAR