180313203221-tidak-ada-paslon-yang-menyampaikan-visi-misi-secara-kongkrit.jpg

Darma Legi

Debat Publik Paslon Gubernur Jabar

Tidak Ada Paslon yang Menyampaikan Visi-Misi Secara Kongkrit

Pilkada

Selasa, 13 Maret 2018 | 20:32 WIB

Wartawan: Anthika Asmara

DEBUT empat bakal calon Gubenur Jawa Barat di debat publik Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat dinilai kurang memuaskan. Pasalnya dari empat pasangan calon, tidak ada satupun yang menyampaikan visi dan misi secara kongkrit.

Pakar politik universitas Padjadjaran, Firman Manan mengatakan, dalam debat kandidat kesempatan pertama seharusnya pasangan calon fokus terhadap visi/misi dan program unggulan mereka.

"Dalam debat tersebut tidak terlihat satu pasangan calon pun yang spesifik mengenai programnya untk Jawa Barat," kata Firman saat dihubungi, Selasa (13/3/2018).

Menurut Firman, salah satu pasangan yaitu Hasanah TB Hasanudin - Anton Charliyan sempat menyampaikan bahwa ada tujuh program yang di tawarkan untuk membangun Jawa Barat.

"Di awal disampaikan Hasan memiliki tujuh program, tapi ketika dipertengahan tidak disampaikan isinya," kata Firman.

Kemudian yang lainnya pasangan Deddy-Dedi, Rindu dan Asyik sama sekali tidak menyampaikan porgramnya secera kongkrit.

Kemudian terkait kekompakan dalam agurmen dalam debat menurut Firman, tidak ada yang kompak. Pasalnya untuk pasangan yang pertama Rindu Ridwan dan Uu Ruzhanul Ulum, terlihat calon Gubernur terlalu mendominasi tidak ada pembagian untuk wakilnya.

"Sebaliknya di pasangan Deddy-Dedi, Wakilnya Dedi Mulyadi cukup mendominasi dan menguasai. Bahkan Demiz terlihat kurang menonjol," ucap dia.

Kata Firman, dua pasangan yaitu Hasanah dan Asyik Sudrajat dan Akhmad Syaikhu cukup dominan dalam pembagiannya, namun penyampainnya kurang maksimal. Namun ini merupakan evaluasi yang harus diperbaiki oleh semua calon, sehingga dalam debat kandidat selanjutnya lebih baik lagi.

"Untuk debat yang selanjutnya paling tidak semua pembagian berbicara merata, sisi lain jangan calon Gubenur yang mendominasi sisi lain wakilnya yang mendominasi harus seimbang, namun prose besar ada di calon Gubernur," ujarnya.

Sementara itu terkait pengaruh dari debat kandidat ini, menurut Firman, itu tergantung dari berapa jumlah masyarakat melihat debat publik ini. Akan tetapi sedikit banyak pasti ada pengaruh.

"Dari survei Indobarometer sekitar 24% masyarakat mebelum menetukan pilihan, setidaknya debat kandidat ini bisa mempengaruhi swing voter ini, namun yang bisa menghitung adalah lembaga survei," ujarnya.

Firman menambahkan, agar lebih berpengaruh sebaiknya kandidat atau bakal calon menyebarkan siaran ini lewat sosial media atau fasilitas lainnya. "Maka akan lebih efektif jika siaran ini kembali diviralkan," tuturnya.


Editor: Dadang Setiawan



Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR