Ini Peta Politik Pilgub Jabar Menurut Pengamat Politik dari Unjani

Adi Permana

Pengamat Politik dari Universitas Jenderal Ahmad Yani, Wawan Gunawan.

Ini Peta Politik Pilgub Jabar Menurut Pengamat Politik dari Unjani

Pilkada

Kamis, 11 Januari 2018 | 21:01 WIB

Wartawan: Adi Permana

EMPAT bakal pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat telah resmi mendaftarkan diri Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Barat. Mereka akan "bertarung" dalam kontestasi Pilgub Jabar 2018.

Keempat bakal pasangan calon tersebut yakni pasangan Ridwan Kamil - Uu Ruzhanul Ulum, Deddy Mizwar (Demiz)-Dedi Mulyadi (Demul), Sudrajat - Ahmad Syaikhu, dan TB Hasanuddin - Anton Charlian. Lantas bagaimana membaca peta politik masing-masing paslon tersebut.

Pengamat Politik dari Universitas Jenderal Ahmad Yani, Wawan Gunawan mengatakan, jika melihat hitungan kursi, maka pasangan Demiz-Demul bakal unggul dari paslon lainnya. Itu pun apabila strategi pemenangan dibebankan kepada anggota DPRD Jabar.

Seperti diketahui, jika melihat perolehan kursi, pasangan Dua DM yang diusung oleh dua partai yakni Golkar (17 kursi) dan Demokrat (12 kursi) punya kursi di legislatif sebanyak 29. Disusul oleh pasangan Sudrajat - Syaikhu dengan jumlah kursi di legislatif sebanyak 27. Jumlah diperoleh dari tiga partai pengusung yakni PKS (12 kursi), Gerindra (11 kursi) dan PAN (4 kursi).

Disusul oleh pasangan Ridwan-Uu yang diusung oleh empat partai politik yakni PPP (9 kursi), PKB (7 kursi), Nasdem (5 kursi) dan Hanura (3 kursi). Total semua kursi di legislatif sebanyak 24. Dan terakhir ialah TB Hasanuddin - Anton. Dua jenderal di TNI dan Polri ini hanya diusung oleh PDIP Perjuangan dengan total kursi 20 di legislatif.

"Kalau strategi pemenangan dibebankan ke anggota DPRD Jabar, misal masing-masing anggota ditugaskan memperoleh sekian suara maka artinya pasangan demiz-demul berpeluang unggul asal mesin partai dan semua anggota DPRD dari partai Golkar dan Demokrat setia-militas-kerja keras-bertanggungjawab utk memenangkan pasangannya," kata Wawan kepada galamedianews.com, Kamis (11/1/2018).

Sedangkan, lanjutnya, dari sisi figur maka Ridwan-Uu berada diurutan pertama disusul Demul dan Demiz. Adapun dari sisi militansi partai politik, Gerindra dan PKS relatif lebih solid. "Dan itu artinya pasangan Sudrajat-Syaikhu berada di atas anggin," lanjutnya.

Dia memaparkan, dari sisi kewilayahan, pemilih kota sepertinya akan lebih condong ke Ridwn Kamil karena ia memegang jabatan Wali Kota Bandung. Sementara pemilih di desa, diperebutkan oleh figur Demul dan Uu.

Ihwal elektabilitas, dia menjelaskan, memang hal tersebut penting akan tetapi kembali pada bergeraknya mesin parpol dan efektif tidaknya kerja dari para relawan. Serta gaya kepemimpinan yang selama ini diperlihatkan oleh masing-masing figur yang dicalonkan.

"Tidak kalah pentingnya juga ditentukan oleh kecerdasan para pemilih. Apakah para pemilih akan terbiat oleh janji atau oleh kemungkinan terbeli oleh politik uang," ucapnya seraya menambahkan, lagi-lagi Ridwan Kamil menjadi kandidat kuat dalam hal elektabilitas.

Saat ditanya ihwal lumbung suara, dia memaparkan, kelas menengah yang lebih banyak tinggal di perkotaan akan besar kemungkinan pro kepada Ridwan. Sementara pemilih tradisional yang lebih banyak mengandalkan kedekatan "rasa" dan biasanya tinggal di desa akan cenderung pro ke Demul.

Berdasarkan agenda KPU Jawa Barat, pemilihan siapa pemimpin untuk kursi Jabar Satu akan ditentukan pada 27 Juni 2018. Jika dihitung masih ada 5-6 bulan waktu untuk masing-masing paslon bergerak, bekerja memperoleh dukungan.


Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:



BERITA LAINNYA

KOMENTAR