Persiwa Ancam Absen Hadapi Persib di Leg Kedua

Persib

Kamis, 7 Februari 2019 | 17:36 WIB

190207174128-persi.jpg

kampiun

TIM Persiwa Wamena mengancam akan absen atau tidak hadir pada pertandingan leg kedua Babak 32 Besar Piala Indonesia di Stadiun Si Jalak Harupat, Senin (11/2/2019). Hal tersebut dilakukan sebagai bemtuk protes atas dikabulkannya perubahan jadwal pertandingan leg kedua oleh PSSI selaku operator Piala Indonesia.

Manajer Persiwa Wamena, Borgo Pane mengatakan, sebelumnya pihaknya telah mengirimkan surat keberatan dan meminta agar Persib dikenakan sanksi Walk Ober (WO) karena dianggap tidak bisa menyelesaikan pertandingan.

“Kita masih melihat keadilan untuk Persiwa. Tentunya sangat kecewa dengan keputusan PSSI, kenapa regulasi tidak bisa ditaati. Keinginan kami, PSSI tetap menjalankan tegulasi yang telah dibuat,” tutur Borgo kepada wartawan pikiran rakyat, Irfan Subhan, Kamis (7/2/2019).

Dia menambahkan, Persiwa masih menunggu surat balasan dari PSSI terkait keberatan tim berjuluk Badai Pegunungan ini. “Surat pertama.sudah di balas dan kita akan kembali memberikan surat balasan hari ini,” katanya.

Borgo memgatakan, nantinya Persiwa akan menunggu kembali surat balasan dari PSSI hingga hari Sabtu ini.jika tidak ada balasan maka pihaknya mengancam tidak akan datang ke Bandung untuk melakukan pertandingan leg kedua.

“Inti surat balasan kita masih protes hasil keputusan PSSI dan kita juga mengirimkan kerugian yang kita alami karena penundaan. Mudah-mudahan surat balasan ini bisa segera ditanggapi PSSI,” tuturnya.

Persiwa sendiri mengalami kerugian yang cukup besar dari penundaan jadwal pertandingan leg kedua. Mereka sebelumnya bahkan telah membayar penuh tempat penginapan yang akan digunakan selama berada di Bandung.

Sebelumnya Persiwa telah mengirimkan surat kepada PSSI terkait masalah ditundanya pertandingan leg kedua babak 32 Besar Piala Indonesia. Melalui surat bernomor 030/PERSIWA/PI/II/2019 Persiwa Wamena menyatakan bahwa Persib Bandung sebagai tuan rumah gagal menjalankan regulasi yang telah ditetapkan oleh PSSI.

Selain itu, melalui surat yang ditanda tangani oleh manajer klub Borgo Pane tersebut Persiwa merasa dirugikan baik secara materi maupun mental pemain. Sehingga tim Persiwa Wamena meminta PSSI untuk menjalankan regulasi agar Persib Bandung mendapatkan hukuman dinyatakan kalah Walk Out (WO) atau didiskualifikasi dari kompetisi Piala Indonesia.

“Disini jelas Persib Bandung telah melanggar regulasi yang telah ditetapkan oleh PSSI, untuk itu kami mengajukan surat keberatan untuk pertandingan ulang dan kami meminta PSSI dapat menjatuhkan hukuman kepada Persib Bandung karena gagal menyelenggarakan pertandingan dengan hukuman dinyatakan kalah Walk Out (WO) atau didiskualifikasi dari Piala Indonesia tahun 2018. Dan kami juga mengalami kerugian secara materi dan mental pemain,” tulis pernyataan Persiwa Wamena dalam surat tersebut.

Dalam regulasi yang dibuat oleh PSSI tercantum dalam Pasal 8 ayat 6 dijelaskan bahwa tuan rumah bisa mengajukan penjadwalan ulang sebuah laga lantaran tidak mendapatkan rekomendasi keamanan sekurang-kurangnya pada tujuh hari sebelum pertandingan dilangsungkan pada jadwal yang telah ditetapkan.

“Klub dari tuan rumah dalam pertandingan tertentu hanya dapat mengajukan permohonan perubahan jadwal pertandingan atas dasar tidak diperolehnya ijin pelaksanaan pertandingan dari kepolisian selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari sebelum hari pertandingan yanag telah ditetapkan oleh PSSI, untuk selanjutnya mendapatkan persetujuan atau penolakan oleh PSSI,” bunyi pasal tersebut.

Atas dasar inilah tim Persiwa Wamena merasa dirugikan, sehingga klub berjuluk Badai Pegunungan tersebut melayangkan protes kepada PSSI untuk menjunjung tinggi integritasnya sebagai induk sebuah organisasi.

Panitia pelaksana pertandingan Persib juga telah memberikan penjelasan mengenai ditundanya pertandingan leg kedua. General Coordinator Panpel Persib Bandung, Budi Bram Rachman mengatakan, panpel juga perlu menjelaskan mengenai permasalahan perijinan yang dilakukan. Bahkan prosesnya telah dilakukan sejak jauh-jauh hari termasuk kelengkapan lainnya sesuai prosedur.

“Setelah ada pernyataan dari Dinas Tata Ruang itu tidak bisa karena tak layak, karena ada penurunan tanah dan retak-retak, polisi juga tak bisa menjamin tak ada apa-apa, jadi kami juga tidak bisa paksakan. Jadi kami menganggap force majeur,”ujarnya.

Bram mengatakan, ketentuan ini dianggap tidak melanggar regulasi karena yang terjadi di lapangan bersifat force majeur. “Kita kan anggapnya perijinan ini sudah kita sampaikan dengan sesuai ketentuan, kita sudah sampaikan dari H-7 bahkan lebih, masalah tiba-tiba di H-2 ada pemberitahuan tak layak, ya kita tak bisa apa apa, dan kami angap ini force majeur,”ungkapnya.

“Jadi tidak ada yang dilanggar karena ini force majeur dan kalo force majeur bisa dikembalikan ke PSSI. Tapi kan PSSI sudah berikan kesempatam untuk menjadwal ulang. Force majeur ini kan ada penurunan tanah di stadion, kita juga ingin menghindari hal-hal yang tidak diinginkan" tambahnya. 

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR