Bawaslu Jabar Harus Hentikan Proses Pleno Kabupaten Garut

Pemilu

Rabu, 1 Mei 2019 | 17:49 WIB

190501175017-bawas.jpg

Robi Taufik Akbar

PROSES sidang pleno terbuka raihan suara Pemilu tahun 2019 di Kabupaten Garut, dinilai cacat demi hukum. Soalnya, data raihan suara yang di umumkan hasil rekapitulasi PPK banyak kejanggalan tidak sesuai dengan C1 yang di pegang oleh saksi. Hal tersebut diungkapkan juru bicara gabungan Partai Politik Garut, yang juga Ketua KPP Partai Demokrat, Heri Rustiana saat ditemui di Gedung Intan Balarea Kabupaten Garut, Rabu (1/5/2019) .

Dikatakan Heri, sebelum digelar sidang pleno terbuka Kabupaten Garut, para ketua Partai Politik Kabupaten Garut melayangkan surat permintaan untuk menghitung kembali suara berdasarkan C1 Plano tidak mengacu pada hasil rekapitulasi tingkat PPK. Karena data DA1 yang sekarang di bacakan dalam sidang pleno sudah banyak angka yang berubah tidak sesuai dengan C1 yang di pegang oleh Saksi.

"Data perubahan data suara di tingkat bawah jelas sudah terjadi. Hal ini terlihat di beberapa Kecamatan di Kabupaten Garut. Data sudah ada di kami. Makanya kami mendesak Bawaslu Kabupaten Garut untuk merekomendasi membuka kembali C1 Plano,"

Heri juga heran pihak Bawaslu Kabupaten Garut, sama sekali tidak mau mengeluarkan rekomendasi. Padahal, sudah jelas rekapitulasi yang di lakukan di tingkat Kecamatan sudah tidak memenuhi PKPU No 3 tahun 2019.

"Saya menilai, ini ada intervensi kuat terhadap Bawaslu Garut. Mungkin saja Bawaslu Garut menutupi adanya keterlibatan Panwascam tingkat Kecamatan,"

Heri juga mendesak Bawaslu Jawa Barat, untuk segera turun ke Kabupaten Garut dan menghentikan proses rekapitulasi suara tingkat Kabupaten Garut. Sama halnya, Bawaslu Jabar menghentikan rekapitulasi di Sukabumi.

"Bawaslu Jabar harus segera turun tangan ke Garut,"

Sementara Ketua Bawaslu Kabupaten Garut, Ipa Hasfiah, saat di konfirmasi melalui saluran WhatsApp messenger, mengatakan, dirinya sedang sibuk menghadiri sidang pleno terbuka.

"Masih sidang pleno nanti sudah selesai kalau mau wawancara," singkatnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

KOMENTAR

BERITA LAINNYA